Voice

Kesederhanaan

Mengenakan kehidupan Yesus adalah satu hal yang mutlak. Inilah konsekuensi menjadi umat tebusan Tuhan. Menolak kehidupan Yesus untuk dikenakan berarti menolak keselamatan. Ketika Tuhan Yesus menebus seseorang, maka segala sesuatu yang orang percaya miliki menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:20). Implikasi dari hal ini adalah sebagai umat tebusan orang percaya harus mengenakan pikiran dan perasaaan Kristus (Flp. 2:5-7). Orang percaya harus mengenakan gaya hidup Yesus, sehingga dapat memiliki pengakuan seperti yang dikemukakan oleh Paulus, “Hidupku bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Hal ini menunjukkan bahwa orang percaya yang benar pasti memperagakan hidup Yesus. Salah satu dari cara berpikir dan gaya hidup Yesus adalah hidup dalam kesederhanaan.

Teladan yang paling kuat mengenai kesederhanaan adalah Yesus ketika Ia mengenakan tubuh daging. Dalam Filipi 2:6-8 tertulis: “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Dikemukakan bahwa Yesus telah mengosongkan diri, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Tidak ada yang disisakan untuk memperoleh kehormatan. Ia mengosongkan diri, termasuk hak untuk diperlakukan wajar. Ia bukan saja tidak diperlakukan sebagai Penguasa Tinggi, bahkan ia tidak diperlakukan sebagai manusia biasa. Kesederhanaan Tuhan Yesus itulah kemuliaan-Nya. Dalam pengakuan-Nya Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat tuntuk meletakkan kepala-Nya.” Ia merendahkan diri yang dalam segala hal disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17).

Selama ini, banyak orang yang salah memahami yang dimaksud hidup dalam kesederhanaan itu. Banyak orang berpandangan bahwa hidup dalam kesederhanaan berarti tidak boleh memakai perhiasan, baju, pakaian dan fasilitas lain yang mahal harganya. Kesederhanaan diartikan sama atau dekat dengan “kemiskinan,” artinya barang-barang yang dikenakan di bawah harga pada umumnya. Itulah sebabnya dalam sejarah gereja terdapat ajaran yang mengajarkan semangat kemiskinan. Mereka mengajarkan bahwa jemaat tidak boleh memiliki kekayaan, harus berpakaian compang-camping. Kesederhanaan tidak diukur dengan hal-hal fisik atau lahiriah, walau tentu kesederhanaan yang tulus dan murni pasti memengaruhi penampilan lahiriah. Menyatakan hal ini bukan berarti orang percaya boleh mengenakan sesuatu suka-suka sendiri, tentu saja orang percaya harus mempertimbangkan segala sesuatu yang dilakukan. Kalau tindakan orang percaya tidak menjadi berkat bagi orang lain, maka harus dihindari.

Berbicara mengenai kesederhanaan, mau tidak mau juga harus membahas hal kemewahan. Apakah sesuatu dipandang sebagai suatu kesederhanaan atau kemewahaan sangatlah relatif, artinya tergantung siapa yang memandang dan siapa yang menyandang. Tentu saja hal ini tergantung dari latar belakang individu, latar belakang ekonomi, sosial dan filosofinya. Bagi seseorang yang penghasilannya tinggi, mengendarai mobil dengan harga yang tinggi bukanlah kemewahaan karena memang kapasitas hidupnya demikian; tetapi sebaliknya, seorang yang mengendarai motor bukan berarti sebuah kesederhanaan. Bagi orang tertentu dan di tempat tertentu, naik sepeda motor sudah merupakan sebuah kemewahan. Hal tersebut sangat ditentukan oleh sikap hatinya. Aspek lain yang perlu dikemukakan dalam kasus ini adalah jika seseorang ada di tengah-tengah orang yang hidup ekonominya lemah, mempertontonkan barang yang bernilai ekonomi tinggi, tentu saja tidak bijaksana.

Banyak orang berpandangan bahwa hidup dalam kesederhanaan berarti tidak boleh memakai perhiasan, baju, pakaian dan fasilitas lain yang mahal harganya.

Sejatinya, kesederhanaan dimulai dari sikap hati, yaitu sikap hati tidak mencari hormat atau sanjungan dan pujian dari manusia. Hal ini diperagakan Yesus. Mengemukakan hal ini bukan berarti seseorang menjadi sembrono dalam penampilan lahiriahnya. Orang percaya harus bisa membedakan antara berpenampilan baik demi untuk menjadi berkat, dengan berpenampilan untuk memperoleh pujian dan sanjungan dari sesama atau demi sebuah prestise. Sikap hati seseorang sangat menentukan apakah orang itu hidup bermewah atau sederhana. Oleh sebab itu, sangatlah naif kalau seseorang dengan mudah menyatakan bahwa seseorang itu bersikap hidup sederhana atau menyatakan yang lain tidak sederhana atau hidup mewah berdasarkan ukuran dari penampilan lahiriahnya. Orang yang memiliki sikap hati yang sederhana tidak pernah merasa dirinya berharga dengan fasilitas yang menempel di tubuhnya, kendaraan, rumah, mobil dan segala hal yang ada padanya. Walau manusia di sekitarnya menghormatinya, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu merupakan nilai lebih dalam hidupnya. Mengapa bisa demikian? Sebab ia mencari hormat dari Allah.

Orang percaya harus menghayati bahwa tubuh yang dikenakan ini di bumi ini adalah tubuh sementara. Tubuh ini bukanlahlah pakaian atau kemah permanen (2Kor. 5:1). Kalau seseorang mengakui dan menghayati bahwa tubuh ini kemah sementara, maka ia tidak akan mendandani tubuh ini sehingga mengorbankan harta abadi yang seharusnya dikumpulkan. Memang kenyataannya hampir semua manusia cenderung mengumpulkan harta di bumi daripada harta di surga. Tubuh yang dikenakan sekarang ini bukanlah tubuh permanen, oleh sebab itu orang percaya tidak perlu mempersoalkannya. Apalagi menyesalkan warna kulit, tingga badan, harmonisasi mata dan hidung atau bentuk wajah. Hal-hal lahiriah tersebut bahkan tidak perlu digelisahkan atau disusahkan dan dikecewakan oleh cacat atau utuhnya.
Betapa celaka dan malangnya banyak orang hari ini yang berusaha tampil baik di mata manusia untuk dihargai, dipuji bahkan disanjung padahal tubuh ini hanyalah kemah sementara yang jika seseorang meninggal dunia, maka tubuh akan segera membusuk. Orang yang sibuk mendandani manusia lahiriahnya pasti tidak akan peduli dengan manusia batiniahnya. Dan orang yang manusia batiniahnya rusak pasti tidak memiliki kepedulian terhadap penderitaan orang lain (Luk. 16: 19-31). Harus dicatat, bahwa orang Kristen yang belum diperbarui tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Ia akan selalu menambah apa yang sudah ada, ia tidak pernah bisa berhenti sampai fisiknya tidak berdaya lagi. Bila sampai titik itu, berarti ia tidak pernah menjadi orang yang menyenangkan hati Tuhan dan tidak mungkin bisa hidup dalam kesederhanaan.

Dalam kehidupan orang percaya, ciri yang paling nyata dari hidup dalam kesederhanaan adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya.” Tentu saja prioritasnya adalah berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya, bahkan hal ini menjadi agenda satu-satunya dalam hidup, seperti yang Yesus lakukan (Yoh. 4:34). Dengan demikian, tujuan hidup orang percaya mengerucut hanya untuk menjadi seorang yang berkenan di hadapan-Nya. Orang-orang seperti ini bukan berarti tidak memiliki keinginan atau kehendak sama sekali. Justru manusia diciptakan dengan keinginan atau kehendak, dan Tuhan menghendaki agar manusia memainkan atau menggunakan kehendak tersebut secara maksimal. Manusia bukan robot yang tidak memiliki keinginan sendiri. Manusia adalah makhluk yang diberi pikiran dan perasaan, dengan pikiran dan perasaan tersebut tidak bisa tidak manusia bisa mempertimbangkan segala sesuatu untuk dilakukan, sehingga tidak bisa tidak manusia pasti memiliki kehendak.

Orang percaya dikehendaki oleh Allah harus menggunakan kehendaknya, tetapi keinginan yang ada di dalam hati orang percaya yang benar haruslah keinginan melakukan kehendak Bapa. Orang percaya harus memiliki kecerdasan rohani atau kepekaan untuk mengerti kehendak Allah, dan membuka hatinya hanya untuk menerima perintah atau komando dari Bapa di Surga. Orang percaya yang benar tidak membuka akses kepada pihak mana pun kecuali pihak Tuhan. Orang percaya hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Pada umumnya manusia digerakkan oleh gairah untuk dihargai, dihormati dan dinilai baik oleh lingkungannya, sampai taraf mendapat pujian dan sanjungan. Gairah ini sudah melekat kuat dan nyaris tidak bisa dilepaskan kecuali kalau sungguh-sungguh belajar melepaskannya. Gairah ini dan manifestasinya sudah dianggap sebagai sesuatu yang normal, kewajaran bahkan kebanggaan. Betapa miskinnya mental seperti ini, sebab mestinya yang berharga adalah manusia batiniahnya, bukan lahiriahnya (2Kor. 4:16). Manusia dalam asuhan Lusifer yang jatuh telah memiliki irama yang salah tersebut. Tuhan Yesus menyatakan, “Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” (Yoh 5:44). Inilah yang disebut sebagai keangkuhan hidup. Orang yang masih mencari sanjungan tidak mungkin memiliki kesederhanaan. Orang seperti ini mengenakan gairah Lusifer, yaitu mencari kehormatan. Tanpa disadari ia mau menjadi Tuhan bagi orang lain dan Tuhan bagi diri sendiri. Biasanya dirinya merasa berhak memiliki segala sesuatu yang dihasrati.

Harus dipahami bahwa yang membuat hidup seseorang menjadi rumit adalah ketika bejana hatinya terbuka bagi segala hasrat yang masuk ke dalamnya. Ini sama dengan membuat akses dengan berbagai pihak untuk menerima tawarannya. Kuasa dunia berusaha menawarkan segala keindahan dunia ini yang bisa diasumsikan membawa berbagai kesenangan atau kegembiraan hidup. Padahal, berbagai kegembiraan hidup tersebut menjadi belenggu yang memang dapat memberi kesenangan atau kegembiraan sesaat, tetapi membelenggu hidup seseorang sehingga tidak dapat menikmati damai sejahtera Tuhan. Hidup dengan cara demikian akan membawa manusia kepada keadaan “letih, lesu dan berbeban berat.”

Kalau Tuhan menyediakan dan menawarkan kelegaan itu berarti sebuah perhentian (Yun. anapauso). Perhentian di sini artinya perhentian dari pengembaraan jiwa yang mengingini banyak hal. Perhentian di sini artinya jiwa dilabuhkan pada Tuhan. Dilabuhkan kepada Tuhan artinya keinginan dirinya hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya saja. Dalam pernyataan-Nya Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia rendah hati dan lembah lembut (Mat. 11:28-29). Rendah hati dan lemah lembut adalah jiwa atau nafas dari spirit kesederhanaan. Tanpa kerendahan hati dan kelemah-lembutan-Nya seseorang tidak akan memiliki kesederhanaan. Kalau dengan teliti meneropong kehidupan Tuhan Yesus, dapat ditemukan bahwa Dia adalah pribadi yang tidak memiliki keinginan kecuali “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Pola hidup seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus ini adalah pola hidup sederhana yang tidak rumit, tetapi agung tiada taranya.

Untuk bisa hidup dalam perhentian Tuhan, seseorang harus rela kehilangan “nyawa” yang sama dengan kehilangan jiwa. Kata nyawa dalam teks asli Alkitab Perjanjian Baru adalah psykhe. Nyawa di sini adalah pikiran, perasaan dan kehendak. Orang percaya yang hendak mengenakan pola hidup Tuhan Yesus harus belajar untuk membunuh cita rasa duniawinya dan belajar mengobarkan kecintaannya kepada Allah Bapa untuk melakukan kehendak-Nya. Proses belajar meletakkan kehendak seperti ini sangat berat. Hal ini sama dengan kehilangan nyawa atau usaha membunuh hasrat. Orang-orang seperti ini akan berusaha keras menuntut dirinya sendiri untuk hidup benar dan berusaha untuk melakukan kehendak Bapa lebih dari segala hal. Tentu saja orang seperti ini tidak akan melukai orang lain, sebaliknya menjadi berkat.

Masalahnya adalah, bagaimana orang percaya dapat membunuh hasrat atau keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah? Ada beberapa langkah untuk dapat masuk wilayah itu. Pertama, orang percaya harus menyadari bahwa segala keinginan manusia pasti berakhir sia-sia. Apa pun yang diingini seseorang suatu hari akan berakhir dan lenyap tiada bekas, kecuali kebinasaan. Sebab keinginan-keinginan manusia pada umumnya pasti menggeser keinginan untuk melakukan kehendak Tuhan. Hal ini membuat manusia menjadi “tuhan” bagi dirinya sendiri, dan bila kuat, juga menjadi “tuhan” bagi sesamanya. Tetapi mereka tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup.

Bagi umat Perjanjian Lama, mereka tidak dipersalahkan kalau memiliki keinginan dari diri sendiri dan memohon Tuhan untuk menjawabnya. Tetapi bagi umat Perjanjian Baru, sangatlah berbeda! Sebab bagi umat Perjanjian Baru, mereka dipanggil untuk memuliakan Tuhan dalam dan melalui segala hal (1Kor. 10:31). Ini berarti hidup untuk kepentingan Tuhan sepenuhnya. Hidup untuk kepentingan Tuhan berarti memiliki kepekaan untuk mengerti segala sesuatu yang Tuhan inginkan dalam hidupnya untuk dilakukan. Hal ini tidak hanya ditandai dengan jenis kegiatan yang dilakukan. Oleh sebab itu jangan berpikir kalau seseorang melakukan kegiatan gereja berarti sudah hidup untuk kepentingan-Nya. Dalam hal ini terjadi banyak penipuan. Orang tertipu oleh dirinya sendiri dan menipu orang lain. Hidup untuk kepentingan Tuhan berangkat dari kepekaan seseorang memahami kehendak Tuhan dalam hidupnya secara pribadi.

Suatu hal yang sulit dikenali, apakah seseorang melakukan sesuatu hal bagi Tuhan atau bagi dirinya sendiri. Hanya orang yang dengan murni dan jujur membunuh hasrat atau keinginannya sendiri yang dapat melayani Tuhan dengan benar. Membunuh keinginan sendiri berarti tidak mengarahkan segala sesuatu yang dilakukan bagi dirinya sendiri. Baginya, segala kepentingan adalah kepentingan Tuhan. Baginya, yang penting perasaan Tuhan dipuaskan. Inilah orang-orang yang sudah mendapat perhentian atau kelegaan (anapauso; ἀναπαύσω) yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus bagi orang yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28-29). Sebenarnya inilah yang dicari dan dirindukan oleh umat salah satu agama di dunia, bahwa mereka merindukan suatu level keheningan dimana semua keinginan melebur masuk dalam ketiadaan. Namun bedanya dengan kekristenan adalah dalam kekristenan meleburkan semua keinginan kepada suatu kehendak, yaitu kehendak Allah. Keheningan yang seharusnya dimiliki orang percaya bukanlah keheningan di dalam rumah biara atau gua di tempat terpencil, tetapi juga sangat bisa di tengah-tengah hiruk pikuk manusia. Maka kesederhanaan orang percaya bukanlah ditandai pada keadaan secara jasmani, tetapi di dalam batin.

Kedua, orang percaya harus bisa menghayati bahwa kita sedang ada di dalam perjalanan menuju suatu tujuan, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus di langit baru dan bumi yang baru. Dengan demikian, orang percaya lebih mudah dapat membunuh keinginan diri sendiri tersebut. Orang percaya harus menghayati dengan kuat bahwa orang percaya adalah musafir-musafir di dalam dunia ini. Perjalanan hidup di dunia ini adalah perjalanan di sebuah jembatan. Hendaknya orang percaya tidak seperti orang yang “membangun rumah di atas jembatan atau berhenti di tengah jembatan.” Betapa menyesalnya seseorang ketika ada di kekekalan, menoleh ke belakang di tahun-tahun selama hidup di dunia telah terbelenggu oleh segala keinginan-keinginan, sehingga tidak mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-20). Harta di surga adalah sikap hati yang menyukakan hati Allah Bapa. Keinginan-keinginan tersebut telah menggerakkan seseorang menjalani hidup menghasilkan uang atau harta yang pada akhirnya harus dilepaskan untuk selamanya. Padahal investasi waktu, tenaga yang jika digunakan untuk mengumpulkan harta di surga, nilainya tidak terhingga.

Perlu disadari bahwa di dalam aliran kepercayaan, filsafat dan agama lain pun terdapat ajaran-ajaran untuk menjauhi keinginan duniawi berkenaan dengan harta dunia. Mereka bisa mencapai level-level yang menakjubkan. Tokoh-tokoh agama mereka bisa hidup dalam kesederhanaan, bahkan kemiskinan, demi untuk mencapai apa yang mereka pandang sebagai kesempurnaan. Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya? Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai teladan yang dalam salah satu pernyataan-Nya mengatakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Paulus juga senada dengan hal ini menyatakan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukup” (1Tim. 6:8). Yohanes menasihati orang percaya dengan pernyataan, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1Yoh. 2:15-77). Banyak teks lain dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa orang percaya tidak boleh mengingini dunia ini.

Ketiga, orang percaya tidak boleh membandingkan dirinya dengan orang lain. Sebab Tuhan menciptakan setiap pribadi dengan keunikannya masing-masing. Ketika seseorang berusaha mencapai standar hidup seperti manusia lain, ia sedang memburu kemuliaan untuk dirinya sendiri, bukan kebaikan yang Tuhan sediakan. Tetapi ketika ia mencari kehendak Allah, maka ia akan menemukan kebaikan Tuhan yang tiada tara. Ia menyukakan hati Tuhan, sebab ia menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Orang seperti ini hidupnya akan berdampak bagi orang lain. Membuat orang lain tidak jatuh dalam dosa atau mengusahakan orang tidak tersandung oleh perbuatannya. Segala sesuatu yang dilakukannya membuat orang mengenal Tuhan yang benar dan didewasakan. Salah satu ciri orang seperti ini adalah tidak membanggakan kuasa Tuhan atas prestasi pelayan dan seluruh karya hidupnya. William Carey dikenal oleh seluruh dunia sebagai bapak dari misi modern. Ia mengorbankan hidupnya sendiri dan seluruh keluarganya untuk pekerjaan misi di India dan berhasil membangun jemaat Tuhan. Ia seorang penginjil yang sukses di atas banyak penginjil. Salah satu permintaan terakhirnya adalah agar salah satu syair dari lagu ciptaan Watts diukirkan pada batu nisan kuburnya yang berbunyi, “Seorang yang hina miskin dan tak berdaya, namun dalam naungan-Nya ‘ku berada.” Inilah contoh manusia sederhana patut diteladani.

Dalam perjalanan hidupnya, William Carey tidak mencari nilai diri di mata manusia. Ia meninggalkan kenyamanan hidup di Eropa. Sekarang ia sudah ada di surga menuai segala jerih lelahnya. Ia seorang yang sangat beruntung. Dengan mengerti hal ini, orang percaya dapat menyadari betapa berharganya hidup ini. Betapa mahal kesempatan untuk dibentuk atau didandani oleh Allah Bapa menjadi anak-anak kesukaan-Nya. Jika menyadari keberhargaan kesempatan ini, maka orang berani bertaruh berapa pun dan apa pun demi terselenggaranya pembentukan Allah tersebut. Namun pada kenyataannya, banyak orang lebih tertarik mendandani diri dengan kekayaan dunia. Orang-orang seperti ini menggantungkan suasana jiwanya pada kekayaan. Tentu saja mereka hidup dalam tawanan dunia ini.

Orang yang menggantungkan suasana jiwanya pada dunia ini berarti masih terikat dengan percintaan dunia. Pada dasarnya orang yang masih dalam percintaan dunia adalah orang-orang yang tidak setia (Yak. 4:4). Mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana melayani Tuhan. Kalau seseorang menggantungkan suasana jiwanya pada fasilitas dunia ini, maka berarti ia belum menyerahkan segenap hidupnya bagi Tuhan. Orang yang masih melandaskan kebahagiaan hatinya pada fasilitas dunia, pasti mengingini dunia, dan orang yang mengingini dunia berarti menyembah Iblis. Sebagai umat pilihan, orang percaya dituntut untuk tidak mengingini dunia sama sekali. Hanya dengan mengenakan kehidupan Yesus, seseorang barulah dapat hidup dalam kesederhanaan yang sesungguhnya.