Pdt. Dr. Erastus SabdonoKetua Umum Sinode GSKI

Allah menciptakan manusia sebagai anak-anak-Nya agar manusia memiliki hubungan dengan Allah sebagai Bapa, sehingga kedua belah pihak saling mengisi. Keterpisahan antara Allah dan manusia menyisakan sebuah rongga kosong dalam diri manusia yang tidak bisa diisi oleh siapa pun dan apa pun. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan kepada perempuan Samaria di kota Sikhar, di perigi Yakub, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:13-14). Kata “air ini” yang dimaksud Tuhan Yesus adalah kekayaan dunia, kepuasaan jasmani, makan, minum, seks, dan lain sebagainya. Semua itu adalah “air dunia” yang tidak akan dapat memuaskan jiwa dan kehidupan manusia. Kalau seseorang sudah kecanduan, kesenangan dunia tersebut menjadi ikatan yang sampai taraf tertentu tidak bisa lagi dibebaskan.

Kesalahan banyak orang adalah berusaha mengisi kekosongan dalam dirinya dengan materi kekayaan dunia dan segala hiburan dunia ini, selanjutnya juga berusaha memuaskan keinginan daging dengan kepuasan-kepuasan “daging”- nya. Orang-orang seperti ini bukannya memperoleh apa yang dibutuhkan, melainkan sebaliknya, malah terperangkap ke dalam kubangan kuasa kegelapan. Rongga kosong dalam diri manusia tidak dapat diisi oleh apa pun dan siapa pun kecuali oleh Allah dengan hubungan yang harmonis di dalam dan melalui Roh Kudus.

Padahal, peta hidup manusia sudah jelas, bahwa di ujung perjalanan hidup di bumi ini adalah kematian, dan sesudah itu manusia diperhadapkan kepada penghakiman. Jika seseorang meninggal dunia, maka tidak ada satu pun benda dan kehormatan yang ia telah diperjuangkan selama hidup akan dibawa. Sebagaimana seseorang datang sendiri, ia pun akan pulang sendiri. Sebagaimana seseorang tanpa membawa apa-apa datang ke dunia ini, ia pun akan kembali tanpa membawa apa-apa juga. Ini adalah sesuatu yang pasti dan merupakan hukum kehidupan yang tidak dapat ditolak. Seharusnya, setiap orang memikirkan apa yang bisa dibawa sebagai bekal dalam kehidupan yang akan datang nanti.

Sejatinya, setiap insan harus menyadari, mengakui, dan menerima bahwa salah satu maksud atau tujuan penciptaan manusia yang terutama adalah agar manusia dapat memiliki relasi atau hubungan yang benar dengan Bapa-Nya. Dengan relasi itu, Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak bisa saling mengisi dalam relasi yang saling membahagiakan. Relasi seperti ini telah dimiliki oleh Bapa dengan Anak Tunggal- Nya, Tuhan Yesus Kristus, di kekekalan. Jadi, di kekekalan, Allah Bapa telah memadu kasih dengan Anak Tunggal-Nya itu. Relasi seperti ini adalah relasi yang dikehendaki oleh Allah Bapa dengan anak-anak-Nya yang lain, yaitu manusia. Sejak semula, memang Yesus adalah Anak Sulung Allah Bapa dari anak-anak Allah lainnya.

Relasi manusia dengan Allah sebagai Bapa adalah relasi yang khas dan unik yang tidak bisa disejajarkan dengan relasi dengan siapa pun dan apa pun. Relasi yang dibangun antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak adalah relasi yang dirancang sebagai relasi kekal. Allah yang besar, agung, dan mulia, serta cerdas adalah Allah yang merancang kehidupan sempurna bagi manusia dalam keabadian agar dapat berinteraksi dengan diri- Nya. Namun dalam perjalanan sejarah kehidupan, manusia sendiri merusak rancangan Allah yang sangat baik dalam dirinya tersebut.

Kalau orang Kristen tidak memiliki relasi yang dikehendaki oleh Allah Bapa seperti rancangan semula, orang Kristen tersebut belum mengenal dan memiliki keselamatan yang Allah berikan. Hidup kekal dalam ayat ini bukan hanya mengenai kehidupan nanti di surga, melainkan juga kehidupan sekarang di bumi. Kualitas kehidupan sekarang di bumi justru menunjukan kehidupan yang akan datang nanti di kekekalan. Jadi, peta kehidupan seseorang hari ini menunjukkan peta kehidupannya di kekekalan nanti. Oleh sebab itu, setiap orang percaya harus berjuang untuk menemukan relasi istimewa dengan Allah, Bapanya, selama hidup di bumi.

Dalam Efesus 5:31-32, Paulus menjelaskan hubungan istimewa antara pria dan wanita yang terikat dalam hubungan suami istri, yang dinilai mengandung misteri, dan ternyata dapat menjadi lambang hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Paulus menulis, “This is a great mystery: but I speak concerning Christ and the church” (Alkitab terjemahan King James Version dari Ef. 5:32). Dalam tulisan yang lain Paulus menunjukkan bahwa hubungan jemaat dengan Tuhan Yesus itu sebagai hubungan mempelai pria dengan mempelai wanita (2Kor. 11:2-3). Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan menemukan hubungan yang luar biasa antara orang percaya sebagai mempelai wanita dengan Yesus sebagai mempelai pria, dan juga hubungan antara orang percaya sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa.

Agar manusia sebagai anak bisa berinteraksi dengan Allah sebagai Bapanya, manusia harus memiliki  komponen-komponen yang ada pada Allah dan juga memiliki kualitas yang baik atas komponen-komponen tersebut. Itulah sebabnya manusia diciptakan menurut gambar Allah dan juga dikehendaki untuk memiliki rupa atau kualitas seperti yang dikehendaki Allah. Komponen-komponen yang ada pada diri manusia yang juga ada pada diri Allah adalah pikiran dan perasaan. Dengan pikiran dan perasaan tersebut, manusia dapat membangun kehendak atau keinginan. Dengan keinginan atau kehendak, manusia bisa memilih untuk hidup dalam pemberontakan atau penurutan terhadap Allah. Ini berarti manusia dapat memilih untuk mengasihi dan menghormati Allah, atau tidak mengasihi dan tidak menghormati Dia. Dengan keberadaan manusia seperti ini, terbuka peluang terjadinya sebuah dinamika yang tulus, jujur, dan natural antara Allah dan manusia.

Kesempatan hidup di bumi sebagai orang percaya harus dipergunakan hanya untuk menyelesaikan dengan sempurna panggilan agar memiliki relasi dengan Allah tersebut. Oleh karena kasih-Nya, Allah mengunci manusia dengan keadaan di mana ia tidak akan pernah dapat dipuaskan tanpa Allah sebagai Bapanya dalam atau melalui relasi yang ideal. Hal ini dimaksudkan agar manusia hidup hanya untuk mencari dan bergantung kepada Allah sebagai Bapanya. Mencari dan bergantung kepada Allah bukan karena pemenuhan kebutuhan jasmani atau karena hal apa pun, melainkan karena kebutuhan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah guna memuaskan dahaga jiwa. Dengan demikian, manusia tidak akan pernah dapat hidup terpisah dari Allah sebagai Bapa. Allah mengunci manusia dengan cara menaruh keadaan unik dan istimewa dalam dirinya tersebut. Keadaan unik yang ada pada manusia ini tidak ada dalam makhluk lain. Keadaan unik itu ialah seperti adanya rongga kosong dalam jiwa manusia yang tidak bisa diisi oleh siapa pun dan apa pun selain oleh Allah sendiri.

Keselamatan dalam Yesus Kristus dapat mengembalikan hubungan itu. Hubungan Allah sebagai Bapa dengan manusia sebagai anak yang terputus. Salib Kristus yang menghubungkan kembali Allah dengan manusia dan karena salib itu Allah memberikan Roh Kudus sebagai materai dalam kehidupan orang percaya. Oleh sebab itu, orang percaya harus membuka diri dan berjuang untuk memiliki kembali hubungan atau relasi yang saling mengisi, relasi yang eksklusif, proporsional, dan ideal. Orang yang tidak memiliki pengalaman konkret hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa, dan Tuhan Yesus, tidak akan memiliki persekutuan dengan Bapa dan Tuhan Yesus selamanya. Ini berarti ia tidak akan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan.