Voice

Gemar Berpuasa

Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus (Matius 4:2)
Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (Markus 2:20)

Makan tiga kali sehari bukanlah prasyarat untuk bertahan hidup maupun untuk kesehatan yang baik. Sebelum era modern seperti sekarang ini, makanan tidak selalu tersedia dalam waktu yang tertentu dan teratur. Dengan belum adanya kulkas, maka para orang purba yang berhasil menangkap buruannya harus segera menghabiskan buruannya bersama keluarga dan rekan-rekan mereka pada hari itu juga. Jika binatang buruan tidak segera dihabiskan maka besok daging tersebut akan menjadi busuk dan tidak bisa dimakan. Keesokan harinya mereka harus berburu lagi dan untuk itu tidak ada jaminan mereka akan berhasil.
Kekeringan, perang, penyakit hewan, dan serangan hama pada tumbuhan menyebabkan kelangkaan pangan yang ujungnya menyebabkan kelaparan. Demikian juga dengan persoalan musim; selama musim panas dan gugur, buah-buahan dan sayuran berlimpah. Tetapi, pada musin dingin dan musim semi terjadi kelangkaan makanan yang bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya. Tentu hal itu mengakibatkan kelaparan, orang-orang harus berpuasa secara terpaksa.

Seiring dengan berkembangnya teknologi pertanian, maka periode-periode kelaparan perlahan berkurang dan akhirnya sirna. Namun, peradaban-peradaban di masa lalu seperti peradaban Yunani kuno, menyadari ada sesuatu yang mendalam dan pada dasarnya bermanfaat dalam masa-masa berpuasa. Jangka waktu tertentu ketika manusia harus terpaksa berpuasa, oleh kebudayaan kuno diganti dengan periode puasa yang dilakukan secara sukarela. Periode puasa ini kerap disebut sebagai masa pembersihan, detoksifikasi, atau pemurnian. Sejarah Yunani kuno menunjukkan adanya kepercayaan tidak tergoyahkan terhadap kekuatan puasa. Bahkan, puasa adalah tradisi penyembuhan yang paling dihormati sepanjang waktu dan paling tersebar luas.
Puasa telah dipraktikkan oleh setiap kebudayaan dan semua agama di muka bumi ini. Puasa merupakan tradisi kuno yang sudah teruji oleh waktu. Puasa juga sebenarnya bukan hal yang asing di telinga semua orang beragama, karena dipraktikkan secara luas untuk tujuan spiritual dan masih menjadi bagian dari setiap agama di dunia. Tiga tokoh agama yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia, Yesus Kristus, Budha, dan Nabi Muhammad secara langsung maupun tidak langsung sama-sama meyakini bahwa puasa memiliki kekuatan penyembuhan. Dalam istilah sprititual, hal tersebut sering disebut sebagai pembersihan atau pemurnian.

Puasa Spiritual
Praktik berpuasa berkembang di masing-masing agama dan kebudayaan yang berbeda-beda, bukan sebagai sesuatu yang berbahaya melainkan sebagai sesuatu yang amat bermanfaat bagi tubuh dan jiwa manusia. Puasa bukan semata-mata sebagai pengobatan terhadap penyakit, melainkan lebih merupakan sebagai upaya menjaga kesehatan yang jika dilakukan secara rutin membantu melindungi manusia dari penyakit dan membuat manusia tetap bugar.

Dalam Kitab Kejadian kita bisa membaca kisah tentang Adam dan Hawa di taman Eden yang dilarang Tuhan memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Tetapi, Hawa tergoda oleh bujuk rayu si ular untuk melanggar larangan Tuhan itu. Berangkat dari kisah itu, puasa dapat dianggap sebagai tindakan berpaling dari godaan dan kembali kepada Tuhan. Beberapa tokoh Perjanjian Lama juga memberikan contoh bagaimana mereka berpuasa. Musa berpuasa empat puluh hari empat puluh malam tidak makan roti dan tidak minum air ketika ia naik ke gunung Horeb untuk menerima sepuluh perintah Allah di atas dua loh batu (Kel. 34:28). Daud berpuasa untuk anaknya yang sakit selama tujuh hari (2 Sam. 12:16-21). Elia empat puluh hari empat puluh malam berjalan sampai ke gunung Horeb dengan kekuatan makanan terakhirnya ketika ia menghindari Izebel yang mau membunuhnya (1 Raj. 19:8). Ezra berkabung karena orang-orang buangan melakukan perbuatan tidak setia dan untuk itu dia tidak makan roti dan minum air. Ezra 10: 6 tidak menyebutkan secara spesifik berapa lama puasanya (meskipun ada indikasi bahwa itu berlangsung tiga hari sambil menunggu orang-orang berkumpul). Ester berpuasa tidak makan dan tidak minum selama tiga hari untuk keselamatan orang-orang Israel (Est. 4:16). Daniel berpuasa sepuluh hari hanya dengan memakan sayuran dan meminum air (Dan. 1:11-15), kemudian dua puluh satu hari berkabung dengan tidak memakan makanan yang sedap, daging, dan anggur (Dan. 10:2-3).

Hukum Taurat bahkan mengharuskan umat Israel untuk berpuasa jika tidak ingin dibinasakan. “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN. Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya” (Im. 16: 29-31). “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan. Pada hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan Tuhan, Allahmu. Karena setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri dengan berpuasa, haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya. Setiap orang yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya” (Im. 23: 27-30).
Beruntung sekali orang Kristen tidak lagi terikat oleh Hukum Taurat yang mengatur soal puasa itu, sebab jika itu diberlakukan maka semua orang Kristen yang tidak berpuasa seperti yang diatur oleh Hukum Taurat itu akan dilenyapkan. Meskipun demikian di Perjanjian Baru kita melihat teladan Yesus yang berpuasa seperti yang ditulis di Matius 4:1-2, “Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.” dan Lukas 4:2, “Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.” Kedua ayat ini bisa memberikan dua penafsiran yang berbeda. Matius 4:1-2 bisa menyiratkan Yesus puasa tidak makan dan tidak minum, sedangkan Lukas 4:2 bisa menyiratkan bahwa Yesus puasa tidak makan saja. Selama berada di Damaskus, ketika Paulus kehilangan penglihatannya, dia juga tidak makan atau minum (Kis. 9: 9). Hal ini bisa jadi karena dua sebab, pertobatan atau goncangan dari semua hal yang baru saja terjadi dalam dirinya. Apapun itu, Paulus tidak makan dan minum selama tiga hari. Masih di Kisah Para Rasul, setelah berpuasa dan berdoa, Roh Kudus memberi tahu para pemimpin gereja untuk memisahkan Paulus dan Barnabas untuk pekerjaan khusus (Kis. 13: 2-3). Kedua pria ini diutus dari gereja sebagai misionaris pertama. Barnabas dan Paulus memulai perjalanan pengabaran Injil mereka dengan memberitakan ke mana pun mereka pergi.

Dalam tradisi sebagian umat Kristen, puasa dan doa kadang menjadi cara untuk membersihkan dan memperbarui jiwa serta mendekatkan diri lebih lagi kepada Tuhan. Dengan berpuasa Anda menempatkan tubuh Anda untuk patuh kepada Tuhan, merendahkan jiwa Anda di hadapan Tuhan untuk mempersiapkan diri mendengarkan suara Tuhan. Orang-orang Kristen Ortodoks Yunani mungkin mengikuti berbagai puasa pada hari ke 180 sampai ke 200 dalam satu tahun. Peneliti gizi ternama Ancel Keys kerap menganggap orang-orang Kreta di Yunani mewakili diet sehat Mediterania. Sayang, ada fakta dan faktor sangat penting dari mereka yang dihilangkan Ancel Keys: sebagian besar penduduk Kreta menganut tradisi Yunani Ortodoks untuk berpuasa. Ini pasti menyumbang pada kesehatan dan umur panjang yang dinikmati populasi penduduk Kreta ini.

Puasa Kesehatan Awal
Hippokrates (460 – 370 SM) dikenal sebagai bapak pengobatan modern. Di masanya, orang-orang sudah menyadari bahwa obesitas merupakan penyakit serius yang terus berkembang. Hippokrates sendiri pernah menyatakan bahwa kematian mendadak lebih lazim terjadi pada mereka yang berbadan gemuk daripada mereka yang kurus. Oleh karena itu ia menyarankan pengobatan terhadap obesitas harus termasuk beraktivitas setelah makan, dan juga menganjurkan mereka yang gemuk itu makan sekali saja dalam sehari. Dengan kata lain, puasa harian dua puluh empat jam pada masa itu sudah dianggap sangat bermanfaat untuk mengatasi obesitas. Fakta ini membuktikan bahwa Hippokrates sangat berjasa bagi perkembangan pengetahuan kesehatan manusia sampai ke zaman modern, dialah yang pertama kali mengajarkan bahwa latihan fisik itu penting dan merupakan bagian dari gaya hidup sehat.
Masih dari Yunani, seorang penulis yang juga seorang sejarahwan zaman kuno bernama Plutarch (sekitar 46 – 210 M) juga meneruskan sentimen ini: “Daripada menggunakan obat-obatan, lebih baik sekarang berpuasa.” Para pemikir ternama dari Yunani, Plato dan muridnya Aristoteles, juga merupakan pendukung setia praktik dan kebiasaan berpuasa. Bangsa Yunani kuno percaya bahwa pengobatan medis bisa diamati dari alam. Karena manusia secara alami juga menghindari makanan ketika sedang sakit seperti halnya mamalia, bangsa Yunani meyakini puasa sebagai pengobatan alami untuk penyakit. Makanan menjadi hal terakhir yang ingin Anda lakukan ketika sedang sakit. Dengan demikian, puasa adalah insting manusia secara universal untuk mengatasi berbagai jenis penyakit.

Bangsa Yunani juga meyakini puasa meningkatkan kemampuan mental dan kognitif, dan menyadari mereka menyelesaikan masalah dan teka-teki dengan lebih baik ketika berpuasa. Bukankah ketika kita setelah makan besar justru tidak merasa energik dan secara mental tidak lebih awas dari sebelumnya? Pastinya, kita malah mengantuk dan sedikit suka kurang nyambung. Ini karena setelah makan besar darah dialirkan ke sistem pencernaan Anda untuk mengatasi gelombang besar makanan sehingga lebih sedikit darah yang mengalir ke otak. Inilah yang dinamakan “koma” karena makanan atau diperlukan sejenak tidur siang untuk mengatasinya. Tapi, ketika Anda tidak makan berjam-jam apakah Anda jadi lesu, ngantuk atau lamban? Pastinya tidak. Yang lebih mungkin adalah Anda merasakan secara mental lebih tajam dan sepenuhnya menyadari lingkungan di sekitar Anda. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Pada zaman Paleolitikum, diperlukan semua kecakapan mental dan indra yang tajam untuk mencari makanan. Ketika terjadi kelangkaan makanan, kewaspadaan dan fokus mental kita secara alami meningkat.
Tokoh besar lainnya sepanjang sejarah yang juga merupakan penganjur puasa adalah Paracelsus (1493-1541), dokter keturunan Swiss Jerman dan pendiri toksikologi yang terkenal dengan pernyataannya: “dosislah yang menyebabkan keracunan.” Penemuan-penemuannya merevolusi pengobatan. Ia adalah seorang ilmuwan brilian dan transformatif. Dia juga menulis “puasa adalah obat yang hebat – dokter dari dalam.” Benjamin Franklin (1706-1790), salah satu bapak pendiri bangsa Amerika, yang juga dikenal luas oleh dunia karena pengetahuannya yang luas dalam banyak bidang. Selain sebagai seorang ilmuwan, penemu, diplomat, dia juga penulis terkemuka yang menunjukkan kegeniusannya dalam hal pengobatan. Suatu kali dia menulis bahwa “obat-obatan terbaik adalah istirahat dan puasa.” Terakhir adalah seorang penulis dan juga filsuf Amerika ternama, Mark Twain (1835-1910) yang pernah menyatakan “sedikit kelaparan bisa lebih bermanfaat bagi rata-rata orang sakit ketimbang obat-obatan dan dokter terbaik.”

Puasa Modern
Puasa mulai muncul dalam literatur kedokteran pada awal 1900-an. Pada 1915, satu artikel di Journal of Biological Chemistry menggambarkan puasa sebagai suatu metode yang aman, tidak berbahaya dan efektif untuk mengurangi berat badan bagi mereka yang mengalami obesitas. Pada akhir 1950-an, dr. W.L. Bloom memunculkan kembali minat pada puasa dalam jangka pendek sebagai terapi, tetapi puasa dengan jangka waktu yang lebih lama juga digambarkan dalam literatur. Di sebuah studi yang dilakukan oleh dr. I.C. Gilliland pada 1968 melaporkan pengalamannya dengan 46 pasien yang mengurangi makannya dimulai dengan puasa total selama 14 hari.
Setelah akhir 1960-an, perhatian pada puasa sebagai terapi tampak kembali memudar, terutama karena obesitas masih bukan merupakan masalah kesehatan masyarakat. Kepentingan komersial pun memasuki dan memengaruhi segala bidang. Perusahaan-perusahaan besar di bidang makanan tidak akan mendukung intervensi apa pun yang mengancam keberadaan mereka. Oleh karena itu, puasa sebagai pelengkap diet pun berangsur menghilang dan nyaris sepenuhnya tidak terdengar pada 1980-an.
Walaupun merupakan tradisi dari masa lampau yang banyak menguntungkan dan efektif, puasa sebagai alat terapi telah punah selama lebih dari 30 tahun belakangan ini. Menyinggungnya saja bisa mengundang olok-olok. Padahal, sebenarnya gagasannya sangat jelas. Jika penyebab penyakit metabolisme seperti diabetes tipe 2 disebabkan makan terlalu banyak, secara logika solusinya adalah makan sedikit untuk menyeimbangkannya. Apalagi yang lebih sederhana? Puasa tepat untuk alasan itu.

Mitos-mitos Puasa
Meskipun secara historis puasa sudah dipraktikkan secara luas sejak lama, kebanyakan kita hari ini tumbuh dengan memercayai mitos-mitos fundamental mengenai bahaya puasa. Mitos-mitos ini diulang-ulang sedemikian seringnya sehingga kerap dipahami sebagai sebuah kebenaran mutlak. Beberapa yang sering kita dengar bahkan dari kalangan dokter ialah: puasa menempatkan Anda pada “mode kelaparan”, puasa akan membuat tubuh Anda membakar otot, puasa menurunkan kadar gula darah, puasa membuat Anda kalap makan sesudahnya, puasa membuat tubuh kehilangan nutrien.

Hebatnya, mitos-mitos ini masih bertahan sampai sekarang ini meski sudah dari dulu itu tidak pernah terbukti. Kebanyakan orang secara keliru meyakini puasa merugikan kesehatan. Padahal, yang sebenarnya adalah sebaliknya – ada banyak manfaat kesehatan seperti yang akan kita lihat sebentar lagi.
“Mode kelaparan” adalah hantu misterius yang selalu diangkat untuk menakut-nakuti kita agar tidak melewatkan jam-jam makan dalam sehari. Ide “mode kelaparan” mengacu pada gagasan bahwa metabolisme kita menurun drastis dan tubuh “tidak berfungsi” karena puasa. Ini jelas mitos. Manusia sejatinya tidak berevolusi untuk mengharuskan makan tiga kali sehari setiap hari. Tubuh manusia berevolusi untuk dapat bertahan selama berpuasa, jika puasa jangka pendek menurunkan metabolisme kita, manusia sebagai spesies tidak mungkin akan bertahan sampai sekarang. Sebaliknya, metabolisme justru dipercepat, bukannya turun, selama menjalankan puasa. Jika kita tidak makan, maka tubuh kita akan menggunakan simpanan energi (lemak tubuh) sebagai bahan bakar.
Mitos tentang puasa akan membakar otot juga sering kita dengar. Mitos itu mengatakan bahwa tubuh akan segera mulai menggunakan otot-otot kita sebagai sumber energi. Ini sama sekali tidak terjadi. Lemak tubuh kita itu sebenarnya energi makanan yang akan digunakan tubuh sebagai bahan bakar ketika tidak ada makanan. Otot baru akan dipakai sebagai bahan bakar jika tidak ada cadangan makanan (lemak tubuh) lagi untuk dibakar tubuh. Ini hanya akan terjadi jika lemak tubuh tinggal kurang dari 4%. Sebagai catatan, para pelari maraton papan atas yang sangat fit memiliki lemak tubuh sekitar 8%, sedangkan rata-rata orang punya lemak tubuh di atas 20% terlebih lagi mereka yang mengalami obesitas.
Ketika berpuasa tubuh akan membakar glikogen (cadangan gula yang disimpan di hati) sampai habis. Setelah tubuh kehabisan glikogen tubuh mulai beralih membakar lemak tubuh. Pada waktu yang bersamaan oksidasi protein (pembakaran protein seperti otot, untuk bahan bakar) sebenarnya menurun. Pemecahan protein yang normal sekitar 75 gram per hari merosot menjadi 15 hingga 20 gram per hari selama berpuasa. Jadi, ketimbang membakar otot selama berpuasa justru tubuh kita mulai memelihara otot. Lagi pula, untuk apa tubuh kita menyimpan kelebihan lemak tubuh kalau yang harus dibakar setelah makanan habis adalah protein? Otot dan protein-protein lainnya merupakan jaringan fungsional yang memiliki banyak kegunaan. Mereka tidak dirancang untuk menyimpan energi. Membakar otot untuk menghasilkan energi sama bodohnya dengan membakar kursi dan meja makan kita yang dari kayu ke perapian di musim dingin padahal kita banyak tumpukan kayu bakar untuk dibakar.
Otot, sebaliknya, justru dipertahankan selama berpuasa karena puasa merupakan salah satu stimulus paling kuat untuk mendorong sekresi human growth hormone yang membantu menjaga massa otot tubuh. Jika Anda mengkhawatirkan kehilangan otot, lebih seringlah berolahraga. Tidak perlu mengkhawatirkan pengaruh puasa pada massa otot. Olahraga membangun otot, kurang olahraga akan menyebabkan otot berhenti bertumbuh.

Lemak dalam tubuh, pada intinya, menyimpan energi untuk kita “makan” ketika tidak ada asupan makanan ke dalam tubuh. Lemak bukan untuk menunjang penampilan tubuh, bukan? Apalagi lemak yang membuat perut Anda buncit! Jadi, ketika kita berpuasa, kita “memakan” lemak kita sendiri. Itu sangat alamiah. Selama berpuasa, perubahan hormonal terjadi untuk memberi kita lebih banyak energi (adrenalin meningkat) demikian juga human growth hormone yang mempertahankan otot serta tulang. Ini normal dan alamiah, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Selain itu, terkadang orang-orang khawatir gula darah akan turun sangat rendah selama berpuasa. Mereka takut akan bergemetaran dan berkeringat dingin. Untungnya, ini tidak benar-benar terjadi. Kadar gula darah dipantau secara ketat oleh tubuh dan ada sejumlah mekanisme untuk menjaganya tetap dalam batas kelayakan. Ingat, selama berpuasa tubuh kita mulai memecah glikogen (glukosa simpanan jangka pendek) di dalam hati untuk menyediakan glukosa. Ini sebenarnya juga terjadi setiap malam ketika Anda tidur untuk menjaga gula darah tetap stabil selagi Anda berpuasa sepanjang malam.

Jika Anda berpuasa lebih dari 24 sampai 36 jam, simpanan glikogen menipis. Hati sekarang bisa memproduksi glukosa baru dalam sebuah proses yang disebut glukoneogenesis, menggunakan gliserol yang merupakan produk sampingan dari pemecahan lemak. Ini berarti kita tidak perlu mengonsumsi glukosa agar kadar glukosa di dalam darah tetap normal.

Mitos lainnya yang masih berhubungan ialah bahwa sel-sel otak hanya menggunakan glukosa sebagai energi. Ini tidak benar. Otak manusia bisa menggunakan senyawa keton – partikel yang diproduksi ketika lemak diproses dalam metabolisme – sebagai sumber bahan bakar. Ini memungkinkan otak kita untuk berfungsi secara optimal meski tidak ada asupan makanan. Keton menyediakan sebagian besar energi yang otak kita butuhkan.

Singkatnya, ketika glukosa tidak tersedia karena tubuh sedang berpuasa, maka setelah glikogen menipis tubuh mulai membakar lemak dan memproduksi senyawa keton untuk memenuhi kebutuhan energi otak hingga 75%. Ini berarti glukosa tetap harus tersedia sebanyak 25% untuk kebutuhan energi otak. Jangan lupa, seperti yang sudah diterangkan di atas, hati tetap bisa memproduksi glukosa baru melalui proses glukoneogenesis. Dengan demikian, bahkan puasa dalam waktu yang lebih lama tidak akan menyebabkan kadar glukosa dalam darah menjadi rendah dan membahayakan.
Banyak orang berteori dan mengingatkan bahwa melewatkan satu makan pun bisa menyebabkan Anda sangat lapar dan tidak bisa menghindari godaan yang membuat orang jadi kalap makan sehingga tidak akan menurunkan berat badan. Beragam studi mengenai asupan kalori, pada kenyataannya, memperlihatkan sedikit peningkatan pada hari pertama setelah puasa. Pada hari setelah sehari berpuasa, rata-rata asupan kalori meningkat sekitar 500 kalori. Tapi yang menarik ialah dengan puasa yang berulang, Anda akan melihat dampak yang sebaliknya (seperti yang saya dan orang-orang yang sering berpuasa alami): selera makan cenderung menurun seiring dengan meningkatnya durasi puasa.

Mitos tetang puasa yang bisa menghilangkan nutrien tubuh juga tidak punya alasan yang kuat. Ada dua jenis utama nutrien: mikronutrien dan makronutrien. Mikronutrien adalah vitamin dan mineral yang disediakan oleh makanan dan dibutuhkan untuk kesehatan secara keseluruhan. Sedangkan makronutrien adalah protein, lemak dan karbohidrat. Kekurangan mikronutrien jarang terjadi di dunia maju. Dengan durasi puasa yang tidak terlalu lama (kurang dari 24 jam), ada banyak sekali kesempatan sebelum dan sesudah puasa untuk memakan makanan padat nutrien sebagai pengganti melewatkan beberapa waktu makan. Untuk puasa yang lebih lama, meminum multivitamin adalah ide yang baik. Bahkan dalam puasa paling lama di dunia yang tercatat berlangsung selama 382 hari (dilakukan oleh Angus Barbieri yang awalnya memiliki berat badan 207 kg yang akhirnya menjadi 82 kg) multivitamin sederhana mampu mencegah kekurangan vitamin apa pun.

Dari tiga makronutrien utama, tidak ada yang namanya karbohidrat esensial yang dibutuhkan tubuh agar berfungsi dengan baik. Jadi, mustahil terjadi kekurangan karbohidrat. Namun ada beberapa protein dan lemak tertentu yang harus kita masukkan ke dalam menu diet kita. Ini disebut asam amino esensial (balok pembangun protein) dan asam lemak esensial. Semua ini tidak bisa diproduksi oleh tubuh dan harus didapatkan dari menu makanan.
Tubuh biasanya kehilangan baik asam amino esensial maupun asam lemak esensial dalam air seni dan kotoran. Selama berpuasa, keberadaan nutrien-nutrien penting mengimbangi kehilangan tersebut. Pergerakan dalam lambung biasanya berkurang selama berpuasa karena tidak ada makanan yang masuk ke dalam lambung, pembentukan kotoran padat pun sedikit. Inilah yang membantu mencegah hilangnya protein dalam kotoran. Nutrien-nutrien esensial, khususnya nitrogen, bisa hilang melalui air seni. Nitrogen dalam air seni adalah pertanda metabolisme protein. Karena metabolisme protein menurun selama puasa, nitrogen dalam air seni pun menurun drastis nyaris ke level tidak berarti.

Untuk mempertahankan protein lebih jauh, tubuh membelah protein lama ke dalam komponennya asam amino dan mendaur-ulangnya menjadi protein baru. Dengan mempertahankan nutrien-nutrien esensial di dalam tubuh, alih-alih mengeluarkannya tubuh dapat mendaur ulang banyak dari nutrien-nutrien itu selama berpuasa.
Tentu saja, tidak peduli sebaik apa pun tubuh mengganti kekurangan, puasa berarti kita tidak mengonsumsi asam lemak dan asam amino esensial. Sebelum dan sesudah puasa, akan sangat membantu jika kita melakukan diet rendah karbohidrat, yang akan meningkatkan persentasi lemak dan protein yang dikonsumsi, sehingga tubuh memiliki persediaan yang cukup selama berpuasa.

Anak-anak, perempuan hamil, ibu menyusui, orang sakit dan orang sangat kurus memiliki kebutuhan yang lebih besar akan nutrien dibandingkan yang lainnya. Oleh karena itu, mendaur ulang protein dan lemak lama tidaklah cukup – yang baru dibutuhkan untuk meumbuhkan dan membangun jaringan. Untuk orang-orang ini, sebaiknya tidak berpuasa.
Mitos terakhir, yang menyebutkan bahwa puasa adalah tindakan gila, biasanya diciptakan oleh mereka yang sudah kehabisan alasan untuk tidak mencoba berpuasa. Secara keilmuan sudah jelas bahwa obesitas pada intinya adalah kelebihan makanan yang lalu ditimbun sebagai lemak tubuh. Keefektifan puasa dalam mengikis lemak tidak diragukan lagi. Pertanyaannya tinggal dua: Apakah puasa sehat? Jawabannya jelas. Sehat! Bisakah Anda melakukannya? Pasti bisa. Jutaan orang di seluruh dunia sudah menjalankan puasa untuk menurunkan berat badan dan banyak alasan lainnya.

Manfaat Puasa
Manfaat yang paling nyata dari berpuasa adalah penurunan berat badan. Tetapi sebenarnya banyak sekali manfaat puasa selain penurunan berat badan ini. Periode puasa sering disebut sebagai “pembersihan”, “detoksifikasi” atau “pemurnian”. Masyarakat umum percaya bahwa puasa tersebut membersikan diri dari toksin dan meremajakan tubuh mereka. Adapun manfaat puasa lainnya yang selama ini dikenal adalah: meningkatkan pembakaran lemak tubuh, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, meningkatkan energi, meningkatkan kejernihan mental dan konsentrasi, menurunkan kolesterol dalam darah, mencegah penyakit Alzheimer, memperpanjang usia, menunda proses penuaan dan mengurangi peradangan.
Salah satu masalah utama diet-diet yang memberikan manfaat seperti yang disebutkan di atas adalah sulit untuk dijalani. Obesitas dan diabetes tipe 2 adalah masalah kelebihan insulin. Karena karbohidrat rafinasi merupakan penyumbang utama tingginya kadar insulin, hal pertama yang disarankan oleh dr. Jason Fung kepada pasiennya adalah melakukan diet rendah karbohidrat, menghindari makanan-makanan olahan (seperti roti, kue, pizza dan lain-lain) serta mengurangi gula. Diet yang baik mencakup rendah karbohidrat rafinasi dan tinggi lemak alami dengan jumlah protein yang sedang.
Akan tetapi, meski diet yang sudah disarankan dr Jason Fung sudah benar, itu tetap tidak berhasil dengan baik. Sebenarnya, dietnya bisa saja berhasil jika diikuti dengan benar. Namun, diet tersebut terlalu rumit untuk kebanyakan pasiennya. Oleh karena itu, dr Jason Fung menggunakan metode paling efisien untuk mengurangi kadar insulin dan memangkas asupan karbohidrat yaitu dengan berpuasa. Puasa adalah intervensi terkait makanan paling tua di dunia. Puasa sangat berbeda dari semua strategi diet yang ada. Puasa bukan yang paling mutakhir dan paling hebat, tetapi yang teruji dan benar.
Puasa itu sederhana dan bisa dijelaskan dengan mudah dalam dua kalimat: Jangan makan apa pun. Minum air putih, teh, kopi atau kaldu tulang. Puasa itu juga gratis dan bisa menghemat karena Anda tidak perlu membeli makanan sama sekali ketika berpuasa. Tidak diperlukan energy bar, minuman shake, atau obat. Biaya berpuasa itu nol.

Sebagian diet menyarankan orang jangan pernah lagi memakan es krim atau makanan penutup. Anda mungkin bisa bersumpah untuk menjauhi makan penutup selama 6 bulan atau bahkan 1 tahun. Tapi apakah Anda bisa menghindarinya seumur hidup? Puasa tidak mengharuskan Anda menghindari total itu semua. Anda tetap bisa makan makanan kesukaan Anda selama pada jendela makan puasa Anda yang bertepatan di acara ulang tahun anggota keluarga Anda tanpa perasaan bersalah. Tapi ini juga bukan berarti Anda makan terus es krim atau kue keju setiap hari sepuas-puasnya. Aspek puasa yang paling penting adalah menyesuaikannya sehingga menjadi bagian hidup Anda. Ada saatnya Anda tidak harus berpuasa daripada menjadi perusak acara tidak mau makan ini dan menolak minum itu. Puasa benar-benar tentang keseimbangan.
Banyak orang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 mempunyai resistensi tinggi terhadap insulin yang bahkan diet ketogenik yang ketat (sangat rendah karbohidrat, protein secukupnya dan tinggi lemak) tidak cukup kuat untuk membalikkan penyakit mereka. Cara paling cepat dan paling efisien menurunkan insulin dan mengurangi resistensi terhadap insulin adalah puasa. Puasa memiliki kekuatan tidak tertandingi untuk membuat terobosan dalam hal menurunkan berat badan dan mengurangi kebutuhan terhadap insulin.

Dari sudut pandang terapeutik, keuntungan utama puasa adalah ia tidak punya batas atas (tidak ada jumlah maksimum waktu Anda boleh berpuasa – ingat puasa 382 hari yang dilakukan oleh Angus Barbieri – tanpa mengalami efek buruk). Jadi jika puasa berjeda (intermittent fasting) Anda tidak berhasil, Anda hanya perlu meningkatkan frekuensi atau jangka waktu Anda berpuasa sampai tujuan Anda tercapai). Ini tidak bisa dilakukan dengan diet biasa. Jika Anda melakukan diet rendah lemak atau rendah karbohidrat, sekali Anda sampai pada titik nol karbohidrat atau lemak dan Anda tidak bisa mendapatkan penurunan berat badan yang Anda kehendaki, maka Anda harus mengubah diet tersebut. Jadi kemanjuran puasa tidak perlu dipertanyakan lagi. Puasa adalah metode terampuh yang pernah ada untuk menurunkan berat badan. Hanya butuh keseriusan dan tekad yang tak terpatahkan.

Berbeda dengan diet yang pada umumnya tidak fleksibel seperti mengkonsumsi makanan pada periode setiap dua setengah jam sepanjang hari (makan 6 atau 8 kali dalam 1 hari) dan juga dengan komposisi makanan yang merepotkan pastinya akan menggangu jadwal Anda yang memang sudah padat/sibuk, puasa bisa dilakukan kapan saja. Durasi tidak ditentukan. Anda bisa mulai dengan puasa enam belas jam, lalu ke delapan belas jam, kemudian ke dua puluh jam sebelum akhirnya ke 24, 36, 48 atau bahkan 72 jam. Dan selama berpuasa berjeda Anda tetap boleh minum air. Ketakutan bahwa Anda akan menahan lapar tidak terbukti dengan cara puasa ini (kecuali di beberapa hari awal sebagai penyesuaian). Anda juga bisa berpuasa 2 hari saja dalam 1 minggu. Jadi puasa berjeda ini sangat fleksibel sekali mengikuti jadwal Anda. Jika Anda merasa kurang enak badan karena alasan apa pun, Anda cukup berbuka untuk menghentikan puasa Anda lalu melanjutkannya lagi nanti begitu Anda siap lagi. Hebatnya lagi, puasa bisa dikombinasikan dengan diet apa pun. Puasa adalah pengurangan, bukan penambahan atas diet yang mungkin sedang Anda lakukan.

Jika Anda takut berpuasa, camkan ini: setiap orang sebenarnya tanpa sadar berpuasa setiap harinya. Jika Anda makan malam jam 7 lalu sarapan pada jam 7 pagi maka sebenarnya selama Anda tidur Anda sudah berpuasa selama 12 jam bahkan tanpa minum. Itulah mengapa sarapan pagi disebut breakfast yang artinya membatalkan/berbuka (break) puasa (fast). Jika Anda mulai mencoba puasa berjeda 16 jam per hari, sebenarnya Anda tinggal menambahkan 4 jam puasa lagi dengan boleh minum air putih yang sebenarnya tidak berat. Ini berarti Anda tinggal geser waktu sarapan Anda ke jam 11 pagi dan kembali makan malam pada jam 7. Begitu terus setiap harinya. Jika sudah terbiasa, naikkan menjadi 18 jam puasa. Makan malam jam 6 dan makan siang jam 12. Demikian seterusnya.

Kesimpulannya, meski Kekristenan tidak mensyaratkan/mengharuskan orang Kristen untuk berpuasa secara ketat seperti yang dipraktikkan umat Israel di bawah Hukum Taurat, tetapi karena manfaatnya yang besar bagi kesehatan maka sudah saatnya orang Kristen lebih gemar berpuasa. Berpuasa juga berarti Anda berlatih melawan hawa nafsu kedagingan Anda yang jika Anda lakukan dengan sering maka kemungkinan besar Anda semakin terlatih melawan hawa nafsu lainnya. Pengalaman penulis puasa berjeda mulai dari 7 Juni 2019 sampai 25 Agustus 2019 terbukti ampuh menurunkan berat badan dari 85.2 kg menjadi 72.4 kg (turun 12.8 kg) dalam waktu sekitar 2,5 bulan. Di awal penulis mulai dengan 16 jam puasa selama 3 minggu, lalu 18 jam selama 2 minggu, 20 jam selama 1,5 minggu, 24 jam selama 3 minggu, 36 jam 1 kali, 40 jam lebih 2 kali, dan 72 jam 1 kali.

Daftar Pustaka:
The Evolutionary Biology of Human Body Fatness, Jonathan C. K. Wells, Institute of Child Health, University College London, Cambridge University Press, Maret 2010.

The Complete Guide to Fasting, Jimmy Moore and Jason Fung, MD., Simon & Schuster, Inc, 2016.

Intermittent Fasting: Surprising Update, Monique Tello, MD, MPH, Harvard Medical School – Harvard Health Publishing, 29 Juni 2018.

Tetapi karena manfaatnya yang besar bagi kesehatan maka sudah saatnya orang Kristen lebih gemar berpuasa.