Voice

Flashy, Flashy, Flashy

Kata flashy dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai pongah atau arogan. Beberapa hari ini halaman Instagram penulis dipenuhi dengan foto dan video dari seorang hamba Tuhan yang setiap pagi selalu menampilkan foto atau video dirinya. Ia mengendarai mobil sangat mewah yang setiap hari selalu berganti. Tentunya lengkap dengan aksesori baju atau jaket yang mewah, ditambah dengan jam dan aksesori lainnya yang semuanya mewah. Peragaannya selalu diberi judul “my morning drive.” Di kesempatan lain, sosial media juga diwarnai dengan adanya informasi digital yang disebut dengan “pastor in style.” Dari kedua informasi digital di atas perlu dipertanyakan mengenai apa yang keliru, dan apa yang dapat dibenarkan. Apakah kesederhanaan itu? Dapatkah orang tetap mengendarai mobil sangat mewah, lengkap dengan perlengkapannya dan tetap disebut sederhana?

Informasi yang termuat dalam tulisan ini perlu dipertimbangkan karena gereja harus memperlengkapi jemaatnya dengan cara pikir yang lengkap. Harus diingat bahwa panggilan gereja bukanlah sekadar untuk menyelenggarakan ibadah gereja dengan seluruh kegiatan sosialnya. Panggilan gereja bukan sekadar memindahkan orang beragama lain menjadi pemeluk agama Kristen. Panggilan gereja bukan sekadar menyewa atau membangun gedung-gedung tempat ibadah. Lebih dari itu semua, Tuhan Yesus memberikan amanat supaya gereja menjadikan segenap bangsa sebagai murid-Nya (Mat. 28:19-20). Membuat orang yang sebelumnya beragama lain kemudian menjadi orang percaya memang baik dan tetap relevan untuk dilakukan hari ini. Namun kegiatan ini baru sebagian tugas gereja. Kegiatan ini baru merubah status seseorang menjadi orang percaya. Sedangkan murid bagi Kristus adalah mereka yang diubah menjadi orang-orang benar.

Kesulitan utama yang menghalangi seseorang untuk menjadi orang benar terletak pada ketidak-mengertian, kurang paham. Dalam istilah hari ini, gagal paham. Ketidak-mengertian menjadi halangan atau musuh bagi orang yang mau benar. Hal ini juga dikatakan oleh Hosea: “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” (Hos. 4:6)

Dunia yang semakin hari semakin jahat ini menyebabkan orang kurang tertarik untuk mempelajari kebenaran Alkitab. Memang orang semakin pandai dalam ilmu pengetahuan dan kemampuannya untuk bertahan hidup. Bahkan sukses dalam hidupnya sehingga mereka bergelimangan dalam segala sesuatu. Namun demikian, mengenai kebenaran yang terdapat dalam Alkitab, banyak orang yang gagal paham, tidak memiliki cukup pengetahuan. Salah satu yang kurang dipahami adalah mengenai apa yang dimaksud dengan kesederhanaan. Tulisan ini bermaksud untuk mengungkapkan pemahaman Alkitabiah tentang arti dari kesederhanaan.

Apa Itu Kesederhanaan?

Sederhana bukan berarti tidak memakai perhiasan atau pakaian mewah, tidak pula mengendarai mobil super mewah. Yang harus diperhatikan adalah mengenai motivasi utama seseorang dalam mengenakan perhiasan dan pakaian itu. Apa motivasi seseorang dalam mengendarai kendaraan super mewah itu. Dalam sistem hukum pidana dikenal suatu istilah yang disebut dengan “mens rea, niat jahat.” Perbuatan jahat selalu dimulai dari niat yang kemudian diwujudkan dalam perbuatan. Ketika niat itu tidak diwujudkan dalam suatu perbuatan, belum dapat dikatakan bahwa telah terjadi suatu pelanggaran. Dalam penurutan terhadap kehendak Allah hendaknya setiap orang jujur dan mempelajari niatnya.

Ketika seseorang mempersiapkan diri di pagi hari untuk bepergian maka ia memiliki kesempatan untuk bertanya kepada dirinya sendiri, mengenai motivasi dirinya mengenakan perhiasan, pakaian, dan aksesori yang hendak ia kenakan. Bahkan mungkin ada kesempatan baginya untuk memilih kendaraan mana yang akan ia gunakan untuk morning drive-nya. Apa motivasinya, apakah tujuannya supaya orang menjadi kagum terhadap dirinya? Karena setiap manusia dicipta dengan nurani, maka alangkah indahnya ketika ia mempersiapkan dirinya di pagi hari itu ia berkomunikasi dengan Tuhan. Bertanya apakah kiranya Dia Yang Maha Mulia itu berkenan dengan pilihan orang itu? Dengan berkomunikasi demikian ia dapat mengoreksi motivasinya. Bila kiranya Tuhan tidak berkenan, urungkan niat itu sehingga tidak terjadi pelanggaran.

Kejujuran yang akan menentukan apakah telah terjadi pelanggaran atau tidak, karena bisa saja seseorang berpakaian seolah-olah ia tidak memiliki apa-apa. Sengaja memilih pakaian, aksesori, bahkan kendaraan yang murah. Namun di balik itu motivasinya adalah supaya orang lain memandang dia sebagai orang yang sederhana. Motivasi haruslah diperkarakan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Kejujuran ini juga harus dipadukan dengan pengertian tentang kepantasan.

Sebetulnya menampilkan foto dan video tentang mobil mewah yang dikendarai di pagi hari bisa saja bukan sebuah kesombongan. Namun demikian mengunggah foto dan video demikian setiap harilah yang dapat disebut sebagai sikap tidak pantas dan jelas tidak menampilkan kesederhanaan. Barang mewah bisa saja dikenakan bukan dengan tujuan untuk membangun nilai diri, dan justru mungkin dapat memberkati. Foto yang ditampilkan oleh pihak ketiga, dalam media sosial pastor in style tersebut bisa saja sebetulnya tidak menunjukkan arogansi. Karena yang menampilkan adalah pihak ketiga. Juga adalah sebuah kebaikan bila seorang hamba Tuhan mengenakan pakaian yang baik, bahkan bagus. Hamba Tuhan tidak perlu menampilkan dirinya dengan barang murah nan lusuh.

Dengan demikian kesederhanaan sesungguhnya adalah mengenai sikap hati. Sepanjang sejarah Alkitab yang dituntut dari seorang manusia adalah agar manusia memiliki kerendahan hati. Musa dikenal sebagai orang yang paling rendah hati. Memang Musa adalah orang yang berani sehingga ia membela kaum sebangsanya yang dianiaya oleh orang Mesir (Kel. 2:11-12). Musa juga pecinta kebenaran dan berani membela kaum yang lemah. Di Midian ia membela gembala wanita yang diperlakukan tidak baik oleh gembala laki-laki (Kel. 2:16-17). Musa juga orang yang penuh kasih ketika ia mendoakan saudara perempuannya, Miriam, yang sakit (Bil. 12:1-3). Tapi Musa tidak pernah tercatat sebagai orang yang gagah berani, atau pembela kebenaran. Ia dicatat sebagai orang yang paling rendah hati. Terjemahan New International Version (NIV) mencatat sebagai berikut: “Now Moses was a very humble man, more humble than anyone else on the face of the earth. – tidak ada orang yang lebih rendah hati daripada Musa di seluruh bumi.”1

Sebagai seorang pemimpin, Musa pasti bukanlah orang yang berkekurangan secara materi. Ia tidak mungkin berkekurangan karena segala yang dibutuhkan oleh Israel selama perjalanan disediakan oleh Allah. Ia memiliki fasilitas yang baik yang dapat ia gunakan dalam kepemimpinannya. Hal yang sama juga berlaku bagi Abraham. Ia tidak berkekurangan apapun, bahkan jelas dikatakan bahwa kekayaan Abraham begitu banyak. Ia bisa membagi seluruh lembah Yordan yang banyak airnya sampai ke Zor kepada Lot. Sekalipun Abraham sudah membaginya, ia tidak kekurangan (Kej. 13:10). Dengan demikian harus disimpulkan bahwa memiliki dan menikmati fasilitas yang baik, kekayaan itu belum tentu adalah suatu kesalahan. Karena kekayaan itu sifatnya relatif. Yang keliru, salah, dan tidak berkenan bagi Allah adalah apabila semua fasilitas itu menghilangkan kerendah hatian seseorang.

Publik di negeri ini memiliki presiden yang baik. Beberapa waktu yang lalu publik dibuat kagum atas pilihan presiden menaiki pesawat komersial bersama dengan masyarakat umum. Padahal dirinya bisa saja, dan sangat lumrah, bepergian dengan pesawat kepresidenan. Namun demikian sikap itu belum tentu menunjukkan kerendah hatian. Sikap itu bisa saja didasari pada maksud presiden untuk menimbulkan kecintaan dan kepercayaan publik bagi maskapai dalam negeri. Lagipula harus juga dipikirkan tentang keselamatan presiden. Bukankah pilihan presiden bepergian dengan maskapai komersial itu pasti diikuti dengan pengamanan. Harus dimengerti bahwa pengamanan bagi presiden yang bepergian dengan pesawat komersial pastilah rumit, mahal, dan sangat berisiko. Sehingga dapat saja justru pilihan itu membawa konsekuensi biaya yang jauh lebih mahal daripada bila presiden memilih bepergian dengan pesawat kepresidenan.

Lagipula pilihan terbang dengan maskapai komersial tersebut hari ini tidak lagi dilakukan. Hanya beberapa kali dilakukan. Sekarang presiden, tentunya dengan berbagai pertimbangan, kembali bepergian dengan pesawat kepresidenan. Namun semua masyarakat harus tetap memberikan pujian atas pilihan presiden tersebut. Karena pilihannya menunjukkan bahwa Presiden Joko Widodo tidak bertindak untuk kepentingannya sendiri. Ia bertindak untuk kepentingan yang lebih besar, kepentingan maskapai nasional, kepentingan bangsa.

Bila sejarah adalah guru yang terbaik yang dapat dimiliki oleh umat manusia, maka alangkah baiknya jika pada kesempatan ini dipelajari tentang konsep kerendahan hati dari sudut pandang Yahudi. Untuk itu akan diperhatikan pandangan Rabbi Joseph Telushkin berikut ini.
“It means not regarding ourselves as more important than other people, including those who have achieved less that we have. And it implies judging ourselves not in comparison with others, but in light of our capabilities, and the tasks we believe God has set for us on earth. – (sederhana adalah tidak menganggap bahwa diri kita lebih penting dari orang lain, termasuk tidak menganggap rendah kepada orang yang pencapaiannya tidak sama dengan kita. Tapi justru memandang pada kelemahan kita dalam memenuhi panggilan Tuhan.”)2

Dari pengajaran tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa yang merusak usaha seseorang untuk dapat menjadi orang yang rendah hati adalah karena seseorang mementingkan diri sendiri. Dengan demikian Musa dianggap sebagai orang yang sangat rendah hati tanpa bandingan di seluruh muka bumi adalah karena Musa tidak mementingkan dirinya sendiri. Abraham juga dianggap sebagai orang yang sederhana karena Abraham pun tidak mementingkan diri sendiri.

Firaun adalah manusia yang paling sombong. Bukan karena ia kaya dan memiliki kekuasaan tanpa batas. Namun kesombongan Firaun adalah karena mementingkan kepentingannya sendiri. Ia bahkan menganggap dirinya lebih berkuasa daripada Allah Israel. Demikian dikatakan oleh Firaun ketika Musa memohon kepada Firaun untuk membebaskan Israel. “Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.” (Kel. 5:2)

Pada zaman modern dikenal seorang Yahudi yang dianggap rendah hati karena ia tidak merasa hebat atas prestasinya. Melainkan bersedih karena ia merasa bahwa ia belum melaksanakan secara maksimal tugas yang diberikan oleh Allah kepadanya. Oscar Schindler adalah orang yang sangat berjasa pada era Perang Dunia kedua. Ia menyelamatkan sekitar 1.100 orang Yahudi dari kekejaman Nazi. Setelah perang usai, orang-orang Yahudi yang diselamatkan itu memberikan kepadanya sebuah cincin. Di atas cincin itu tertulis sebuah ajaran kuno Yahudi yang berbunyi: “He who saves one life it is as if he saved an entire world. – Dia yang menyelamatkan nyawa seorang manusia adalah bagaikan telah menyelamatkan seluruh dunia.” Ketika ia menerima cincin itu, ia menangis tanpa bisa dikendalikan. Karena ia menyesal tidak bisa menyelamatkan lebih banyak lagi manusia dari kekejaman Nazi.

Karena kesederhanaan adalah mengenai sikap hati, maka tantangan lain bertumpu pada mereka yang pada hari ini menerima banyak informasi dengan mudah melalui berbagai media, termasuk media online. Sebagai penerima informasi, mereka tidak perlu menghakimi. Terima segala informasi itu dengan bijak. Dia yang setiap pagi mengunggah foto dan video “my morning drive” belum tentu sedang pamer dan mempertontonkan kesombongan. Bisa saja jauh di dalam hatinya sebetulnya dia sedang bersyukur kepada Tuhan. Sebaliknya, dia yang berpakaian lusuh bukan berarti sedang mempertontonkan kesederhanaan. Penerima informasilah yang dituntut untuk bersikap bijak. Segala informasi yang ia terima kiranya digunakan untuk mengoreksi diri sendiri. Mengoreksi pilihannya hari itu, mengoreksi sikap hatinya. Apakah pilihannya hari itu berkenan kepada Tuhan. Pertimbangkan bahwa ketika seseorang mengepalkan tangannya untuk menunjuk kesalahan orang lain, sebetulnya terdapat tiga jari yang sedang menunjuk dirinya sendiri. Pilih sikap ibu jari yang selalu bersikap netral dan tidak menunjuk kepada siapapun.

Kesimpulan

Dengan demikian kesederhanaan tidak dapat diukur melalui fasilitas yang digunakan seseorang. Seorang manusia bisa saja memiliki, menggunakan banyak fasilitas yang baik. Tapi semua itu harus diiringi oleh kerendahan hati. Yaitu tidak mengutamakan diri sendiri. Sekaligus selalu memiliki kerinduan untuk dapat berbuat lebih banyak lagi bagi kepentingan Allah. Orang kaya sekalipun, yang berkecukupan dalam segala sesuatu, dapat tetap dianggap sebagai orang yang sederhana. Yang keliru adalah jika seseorang menghendaki supaya ia memiliki kekayaan untuk dinikmati bagi diri sendiri, membangun kehormatan, menarik perhatian orang lain untuk mendatangkan pujian bagi diri.

Referensi
1. The New International Version, (2011). (Num. 12:3). Grand Rapids, MI: Zondervan.
2. Telushkin, Joseph, A Code of Jewish Ethics: ­Volume 1: You Shall Be Holy, (New York: Bell Tower), ebook, location 4028.