Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Esensi Prestasi Pendidikan – Magazine Sinode GSKI
Voice

Esensi Prestasi Pendidikan

“Prestasi diawali dari inspirasi dilanjutkan dengan literasi, dan diakhiri dengan aksi”

Pdt. Dr. Franky Tjong, S.Kom., M.M., M.Th.

Setiap orang menginginkan hasil atau capaian positif yang maksimal melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat ditemukan dalam komunitas akademik, organisasi bisnis, budaya, politik, dan lain sebagainya. Meski demikian, untuk mencapai hasil, capaian, dan prestasi positif yang maksimal tersebut dibutuhkan usaha atau kerja keras. Tingkat usaha dan kerja keras akan menentukan hasil atau prestasi yang dicapai. Di sini berlaku hukum positif antar kedua entitas. Semakin tinggi kerja keras yang dilakukan oleh seseorang atas satu bidang tertentu, maka hasil yang dicapai akan tinggi pula. Demikian pula sebaliknya, usaha yang sekadarnya atau seadanya akan memberikan hasil yang seadanya dan tidak lebih. Hukum ini berlaku di semua bidang kehidupan.

Dalam era milenium ini, keberhasilan seseorang atau lembaga tidak hanya dibutuhkan sebuah kerja keras saja, namun diperlukan juga kerja cerdas. Kerja dan usaha yang keras merupakan keharusan atau memiliki nilai absolut yang harus dimiliki sebagai dasar komitmen dalam mengerjakan sesuatu. Namun, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Kerja keras harus diimbangi dengan kerja cerdas sesuai dengan tuntutan, tantangan, dan perubahan zaman. Seseorang, lembaga, atau sebuah organisasi tidak saja memerlukan lembaran-lembaran strategi untuk mencapai suatu tujuan Dibutuhkan keterampilan dalam mengeksekusi lembaran strategi di atas kertas tersebut menjadi langkah-langkah operasional yang bersifat konkret.

Kerja cerdas menunjuk kepada kepemilikkan atas keterampilan-keterampilan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Kerja cerdas yang menuntut seseorang atau lembaga memiliki komitmen yang holistik dalam membangun dirinya dengan penguasaan keilmuan, keterampilan, dan karakter yang positif. Usaha yang maksimal dalam menumbuh-kembangkan keilmuan dan keterampilan akan menghasilkan daya kreativitas dan inovasi yang unggul. Dengan demikian, capaian atau prestasi tidak dapat datang dengan sendirinya. Dalam konteks dunia pendidikan: jangan pernah berpikir, bahwa ketika seseorang telah menempuh dan menyelesaikan suatu proses pada jenjang pendidikan tertentu serta mendapatkan gelar akademik dan nilai yang memuaskan, maka ia telah mencapai hasil atau prestasi yang sesungguhnya. Alih-alih bahwa pencapaian hasil tertentu tersebut merupakan suatu permulaan dari sebuah proses panjang yang harus dilanjutkan dan diusahakan dengan serius.

Demikian dengan pendidik yang andal, ia akan terus mengusahakan dengan serius kepemilikkan akan kebaruan dalam keilmuan dan keterampilan. Materi-materi pemelajaran yang telah diterima dan didiskusikan dalam ruang-ruang belajar, dilanjutkan menjadi usaha belajar yang mandiri. Prestasi hakiki seorang pendidik tidak dapat diwakilkan dengan serangkaian nilai-nilai yang terdapat dalam transkip akademik atau selembar ijazah. Namun, nilai prestasi tersebut akan diwujudkan melalui karya-karya nyata yang bermanfaat bagi lingkungan akademisi dan masyarakat umum lainnya. Pendidik yang andal mampu menangkap makna hakiki atau esensi dari sebuah prestasi yang dapat berdampak dan berpengaruh positif, baik bagi dirinya sendiri, pun kepada orang-orang lain.

ESENSI

Kata esensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikategorikan sebagai kata benda yang memiliki arti inti, hakikat, saripati, atau hal yang utama. Dalam kamus Merriam-Webster memiliki arti tambahan yakni sesuatu yang mendasar dan tidak dapat dihindari. Dengan demikian, sesuatu dikatakan esensi ketika menjadi inti, dasar, utama, dan dalam pencapaiannya dibutuhkan proses yang tidak dapat dihindari, apalagi ditiadakan. Esensi menjadi penting fungsinya manakala dihadapkan kepada beberapa alternatif pilihan dalam pengambilan keputusan.

Semisal dalam melihat dan menilai suatu fenomena yang berkaitan dengan implementasi proses pendidikan yang ideal. Kita akan mendapatkan beberapa alternatif pilihan yang berkaitan dengan mekanisme proses pendidikan yang dianggap tepat. Mulai dari pendekatan yang bersifat authotarian, demokratis, laissez-faire, dan lain sebagainya. Kita hendaknya dapat menemukan esensi dari semua pendekatan proses pendidikan tersebut. Esensi atau intinya adalah bahwa proses pendidikan hendak membantu obyek belajar untuk menemukan tujuan yang hendak dicapai melalui mekanisme proses belajar tersebut. Apakah akan menggunakan pendekatan authotarian, demokratis, atau laissez-faire, tentunya dapat disesuaikan dengan lingkungan dan budaya serta sistem pemelajaran yang digunakan. Penulis tidak ingin berpolemik dengan mengatakan bahwa ada satu pendekatan pemelajaran yang paling baik lebih daripada pendekatan lainnya. Sekali lagi, kita sedapat-dapatnya menemukan esensi dari sebuah proses pemelajaran.

Hal penting lainnya dalam mengkonkretkan makna esensi adalah di dalamnya terdapat proses atau mekanisme yang harus dilalui. Esensi tidak akan pernah menjadi inti ketika ia tidak melalui serangkaian proses atau tahapan yang harus diikuti. Esensi terbentuk melalui serangkaian pembuktian melalui berbagai pengalaman empiris yang nyata. Penulis hendak mendaratkan makna esensi melalui contoh yang berlaku secara umum seacara konkret. Semisal: Apa yang menjadi esensi dari panjangnya proses kehidupan manusia? Tentunya, anak-anak yang berusia 5 tahun, akan memiliki keterbatasan dalam menjawab pertanyaan ini. Hal ini dikarenakan anak-anak belum memiliki rentang atau proses panjang kehidupan yang dilalui. Begitu pun dengan anak-anak atau remaja yang berusia hingga 12-15 tahun, tidak mudah dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Dengan demikian, azas atau konsep esensi dapat terbentuk melalui proses yang di dalamnya terkandung pengalaman dan waktu yang panjang. Orang tua yang berusia 50, 60, atau 70 tahun tidak akan mengalami kesulitan ketika ia harus menemukan dan menjelaskan makna atau esensi kehidupan. Pengalaman dan rentang usia dapat membantunya untuk menjabarkan secara panjang lebar mengenai pertanyaan yang esensi tersebut.

Namun faktanya, kita akan menemukan jawaban yang berbeda-beda mengenai esensi kehidupan masing-masing manusia. Dengan demikian, esensi menurut satu orang tidak dapat disamakan, apalagi dipaksakan kepada orang lain. Pandangannya tergantung seberapa dalam ia memaknai kehidupan. Pandangan penulis mengatakan jika seseorang memiliki ketajaman dalam memaknai kehidupan, maka ia akan menemukan esensi kehidupan yang sebagaimana mestinya. Namun, esensi kehidupan akan menjadi bias manakala disampaikan oleh seseorang yang tidak memaknai kehidupan secara baik.

Demikian juga dengan esensi pendidik. Ia adalah seseorang yang telah melalui serangkaian pengalaman dalam kehidupan sebagai pendidik dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karenanya, menjadi seorang pendidik adalah sebuah panggilan, bukan sekadar profesi untuk memenuhi aspek ekonomi. Seorang pendidik sejati akan menemukan panggilannya secara jelas dan konkret, sehingga ia tahu benar bahwa ia harus membagi hidup dengan orang-orang lain. Pendidik yang telah menemukan esensi panggilannya, ia bukan saja membagi sebagian hidupnya, tetapi seluruh hidupnya. Membagi seluruh bagian hidupnya melalui serangkaian tindakannya yang patut menjadi contoh dan teladan bagi orang lain. Ia akan menjaga karakternya bukan hanya untuk kepentingan dirinya, namun untuk kepentingan orang lain yang sedang menggugu dan menirunya.

Inilah esensi atau prestasi yang dicapai oleh semua pendidik, manakala orang-orang di sekitarnya menemukan sosok yang dapat ditiru, dicontoh, dan diteladani hidupnya. Ia adalah pendidik yang jujur ujarannya, tulus lakunya, dan bersih isi pikirannya. Atribut-atribut tersebut tidak dapat terjadi dengan sendirinya dalam waktu yang relatif singkat. Diperlukan proses dan pengalaman panjang serta kesediaaan untuk belajar dengan segala kerendahan hati. Percayalah, ganjaran kerendahan hati adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan dalam menemukan esensi atau makna hakiki sebagai seorang yang terpanggil menjadi pendidik yang berprestasi.

PRESTASI

Setiap orang ingin meraih keberhasilan dalam setiap aspek kehidupan. Aspek kehidupan yang berkaitan langsung dengan keahlian dan keterampilan di bidangnya masing-masing. Keberhasilan dalam bisnis usaha, pendidikan, politik, seni, dan lain sebagainya. Tentunya, keberhasilan yang dimaksud di sini adalah hasil tertinggi atau maksimal dari rata-rata keberhasilan yang telah dicapai orang-orang pada umumnya. Mungkin inilah yang menjadi definisi sederhana dari prestasi yang berlaku secara umum. Jika hasil yang diraih seseorang sama dengan orang lain pada umumnya, maka hal ini merupakan hal yang biasa dan tidak dapat dikategorikan sebagai prestasi. Menjadi nomor satu, itulah yang dinamakan prestasi. Jika meraih urutan kedua, ketiga, apalagi keduapuluh, maka itu bukan prestasi. Apalagi berada di posisi paling akhir, orang-orang pada umumnya akan memberikan status: GAGAL atau tidak berprestasi sama sekali. Apakah benar demikian pemaknaan dari kata prestasi?

Semangat berkompetisi dibarakan sedemikian rupa, sehingga mendorong setiap orang melakukan segala sesuatu dengan maksimal. Meski demikian, bukan merupakan rahasia lagi, banyak orang akan menggunakan segala cara untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Sekalipun cara atau metode yang digunakan untuk meraihnya dapat melukai, merendahkan, dan merugikan orang lain. Kita telah banyak mendengar bahwa tidak sedikit orang yang telah meraih posisi atau jabatan tertentu dilakukan dengan cara-cara yang tidak wajar dan tidak etis. Yang penting prestasi diraih tanpa mempertimbangkan aspek-aspek etika, kemanusiaan, dan kebenaran. Keinginan untuk mencapai posisi tertiggi dan terhormat telah menutup logika dan akal sehatnya.

Prestasi yang diraih dengan cara-cara demikian, pada hakikatnya telah merusak dan melukai makna dasar dari prestasi itu sendiri. Prestasi memiliki sudut pandang dan nilai yang luas. Ia tidak dapat diartikan sebagai pencapaian maksimal hanya dari aspek nilai kuantitatif. Jika prestasi hanya diukur dari angka-angka perolehan atau kuantifikasi, maka pemaksaan prestasi menjadi parsial dan naif, tidak utuh dan terkesan dangkal. Prestasi mengalami degradasi dalam konteks pemaknaan, nilainya menjadi turun dan tidak kontekstual. Penulis akan menyampaikan satu kisah secara empiris berkaitan dengan pemaksaan pencapaian prestasi ini.

Dalam perhelatan akbar kompetisi olahraga tingkat dunia yang diadakan di Kota Rio de Janeiro Brasil pada Olimpiade 2016 silam. Selalu saja ada cerita menarik yang terekam dalam kamera para pemburu berita. Ada cerita sedih yang mengakibatkan keharuan yang mendalam dan terselip pula kegegap-gempitaan kubu yang meraih world record pada bidang olahraga tertentu. Perilaku sportif yang membanggakan sampai kepada sikap curang yang memalukan, tidak kurang menambah deretan panjang fenomena yang terangkum dalam kegiatan Olimpiade di Brasil ini. Sampailah kita pada satu fragmen empiris atau drama kemanusiaan yang dimainkan oleh dua orang pelari wanita kenamaan Selandia Baru dan Amerika Serikat.

Pada babak penyisihan lari 5.000 meter putri di Olympic Stadium tepat pada 16 Agustus 2016, Nikki Hamblin (Selandia Baru) dan Abbey D’Agostino (Amerika Serikat) telah menarik perhatian penonton. Apa yang mereka lakukan tidak hanya menyita perhatian penonton yang berada di dalam Olympic Stadium saja, namun menjadi viral dan menjadi buah bibir manusia sedunia. Apa pasalnya? Sejatinya, setiap pelari pasti membawa impian dari negaranya untuk meraih posisi tertinggi, meraih medali emas tanda pencapaian prestasi yang maksimal. Perolehan medali Perak dan Perunggu sering tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Perak dan Perunggu adalah standar. Emas adalah prestasi. Begitulah kira-kira isi pikiran olahragawan pada umumnya.

Nikki Hamblin merupakan rival dari Abbey D’Agostino dan mereka sebelumnya tidak saling mengenal satu dengan lainnya. Pada 4,5 laps terakhir, Nikki Hamblin jatuh terjerembab di tengah lintasan dan menyebabkan banyak pelari lainnya ikut terjatuh, termasuk Abbey D’Agostino. Pelari-pelari yang terjatuh serta merta bangun berdiri dan berlari meneruskan kompetisi serta jauh meninggalkan Nikki Hamblin yang tidak sanggup bangun dari kecelakaan yang dialaminya. Sementara para pelari semakin jauh meninggalkan Nikki Hamblin, justru Abbey D’Agostino bangkit dari jatuhnya dan berhenti serta berjalan dengan membungkuk ke arah Nikki Hamblin. Abbey D’Agostino berteriak kepada Nikki Hamblin: “Ayo cepat-cepat. Kita harus menyelesaikan lomba ini.” Mereka berlari bersama dengan saling mendukung karena cedera kaki yang dialami. Meski tertatih-tatih, mereka menyusuri lintasan laps yang tersisa secara perlahan. Seperti dua orang bersahabat, keduanya berlari berdampingan untuk menyelesaikan pertandingan. Akhirnya, Hamblin mencapai garis finis terlebih dahulu dan disusul D’ Agostino setelahnya. Kedua pelari itu sangat gembira saat menyelesaikan lomba. Inilah prestasi dunia yang membanggakan. Prestasi kemanusiaan yang melebihi kuantitas medali yang disediakan oleh panitia olimpiade. Ternyata, prestasi tidak selalu berbicara tentang perolehan kuantitas sebanyak-banyak atau setinggi-tingginya. Namun, prestasi juga berbicara tentang kualitas yang tidak dapat diwakilkan dengan apa pun juga.

Seseorang harus memberikan pengaruh atau dampak kepada sesamanya secara positif dan konstruktif. Itulah makna dari prestasi sesungguhnya. Seorang yang kuat memiliki tanggung jawab untuk berdampak kepada orang yang lemah. Kekuatan yang dimilikinya bukan sekadar jadi ajang pamer, namun dapat bermanfaat bagi orang lain. Demikian juga orang pintar, ia harus dapat membantu memintarkan orang lain melalui kecerdasan yang dimilikinya. Inilah prestasi bukan sekadar kompetisi, namun sebuah kolaborasi yang mengagumkan. Kehidupan berdampak nyata, bukan sekadar jadi hiasan tanpa makna.

MOTIF

Apa yang menjadi latar belakang, alasan, atau motivasi seseorang meraih prestasi dapat berbeda dengan orang lain. Hal tersebut tergantung dari sudut pandang bagaimana seseorang memberi nilai atas pencapaian sebuah prestasi. Ada yang memberi nilai tinggi, sedang, dan rendah. Bahkan ada yang tidak memberi nilai apa-apa terhadap capaian prestasi. Ia menganggap hal tersebut tidak terlalu penting. Ia merasa cukup dengan kondisi dan keadaan yang dimiliki saat ini. Tentunya sikap yang terakhir ini dapat dikategorikan sebagai perilaku yang kurang bertanggung jawab atas potensi yang ia miliki. Seyogyanya, seseorang harus memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya sebagai bentuk pertanggung-jawaban yang harus ditumbuh-kembangkan. Sikap berpuas diri, tidak mau mengembangkan potensi, dan nyaman dengan keadaan tertentu akan membuat seseorang menjadi tidak kreatif dan tidak produktif.

Sejatinya, motivasi yang menjadi latar belakang seseorang mencapai sebuah prestasi adalah produktivitas. Sikap ini tidak sekadar berbicara tentang kuantitas tetapi kualitas pada jenjang atau tingkatan tertentu secara maksimal. Produktif tidak hanya mengukur pertumbuhan dalam rentang yang panjang (akumulasi), namun juga setiap momen perubahan positif adalah sebuah produktivitas. Motivasi harus ditumbuhkan berdasarkan keinginan untuk berubah ke arah yang positif dan konstruktif. Inilah esensi motivasi yang akan lestari sepanjang masa, karena perubahan adalah keniscayaan. Oleh karenanya, kita harus menghargai setiap perubahan positif dalam setiap ukuran apa pun, karena perubahan-perubahan besar merupakan akumulasi dari rangkaian perubahan kecil. Dengan paparan ini, kita harus memeriksa kembali apa yang menjadi motivasi dalam melakukan usaha tertentu.
Seseorang mengambil jenjang pendidikan tertentu, tidak ada salahnya untuk memeriksa kembali apa yang menjadi latar belakang dan motivasi kegiatan studi itu dilakukan. Jika hanya sekadar mengisi waktu, menambah deretan gelar, dan menjadi nilai diri, maka motivasi yang melatar-belakanginya menjadi kosong makna. Mengapa? Hendaknya kegiatan pemelajaran pada jenjang pendidikan tertentu harus membawa seseorang menjadi produktif dalam penalaran bidang studi yang diambil. Ia bertanggung jawab penuh atas proses pemelajaran yang dilalui dengan sebuah ‘produk’ akademis. Produk akademis yang dimaksud adalah kepemilikkan dan penguasaan aspek-aspek pengetahuan dan ketrampilan bidang keilmuan yang diambil.

Motivasi yang salah akan menghasilkan produk yang semu, bias, dan tidak kontras. Ia hanya menduduki area abu-abu, parsial, dan tidak lengkap. Inilah alasan mengapa diperlukan penjabaran kepentingan atas suatu motif di balik semua tindakan atau kegiatan yang dilakukan. Jika bukan diarahkan kepada suatu hal yang produktif, maka segala kegiatan yang dilakukan dapat dipertimbangkan kembali. Kita harus menemukan esensi dari semua hal yang dilakukan. Jangan hanya merebut tulang besar tanpa isi. Perhatikan isinya, bukan tulangnya. Perhatikan esensinya, bukan kerangkanya. Paparan motivasi ini akan dilandaskan dalam contoh-contoh konkret pada bagian selanjutnya.

ESENSI PRESTASI BAGI PESERTA DIDIK

Anak-anak pada umumnya memiliki cara pandang bahwa yang namanya prestasi adalah menjadi nomor satu, dua, tiga, atau minimal lima besar dalam urutan. Logika ini tidak sepenuhnya salah, karena orangtua, pendidik, dan sekolah telah lama menanamkan paradigma ini ke dalam pikiran anak-anak. Tentunya, paradigma berkenaan dengan prestasi ini tidak sepenuhnya salah, namun harus dapat diseimbangkan dengan pemaknaan hakiki dari azas prestasi tersebut. Semisal, anak-anak yang meraih nilai terbaik atas mata pelajaran Matematika akan mendapatkan selembar kertas penghargaan dari sekolah dengan tulisan: The Best Achievement Student… Begitu pun dengan anak-anak yang meraih angka terbaik dalam mata-mata pelajaran yang lain. Penghargaan yang diberikan oleh sekolah ini memang di satu sisi akan memberikan motivasi kepada anak-anak tersebut untuk menjaga prestasi yang telah ia raih. Namun demikian, orangtua dan pendidik harus melihat sisi lain dari sekadar tingginya angka dan prestasi yang dicapai oleh anak-anak tertentu. Sisi lainnya itu adalah anak-anak yang mengalami perubahan (sedikit). Mereka juga harus diberikan penghargaan agar motivasi perubahan yang sedikit itu menjadi bukit.

Orangtua dan pendidik dapat memberikan penghargaan yang sama seperti kepada anak-anak yang mengalami perubahan hasil belajar dengan lembaran kertas bertuliskan: The Most Improvement Student… Apakah Anda dapat membayangkan ketika anak-anak yang telah berusaha dengan keras, namun karena memiliki keterbatasan dalam bidang keilmuan tertentu, ia tidak dapat menghasilkan nilai maksimal, namun orangtua dan pendidik tetap memberikan penghargaan? Penghargaan ini bukan sekadar pemberian tanpa makna dan arti. Justru sebaliknya, penghargaan kepada anak-anak yang berusaha berubah ke arah yang positif, walaupun ‘sedikit’ akan memberikan makna yang besar kepada anak-anak tersebut. Ia akan bangga bahwa usahanya dihargai, diperhatikan, dan dirayakan. Inilah perayaan akademis buat semua anak-anak. Merayakan atas semua keberhasilan yang telah mereka usahakan, sekecil apa pun usaha tersebut.

Pernyataan ini bukan hendak meniadakan usaha pencapaian prestasi yang maksimal. Pencapaian hasil yang maksimal merupakan default dan absolut yang tidak dapat diubah serta ditawar. Namun akan menjadi lengkap ketika kita mampu melihat sisi atau paradigma yang lain atas prestasi. Prestasi tidak hanya dapat diwakili dengan perolehan deretan angka-angka. Hasil yang diraih tersebut merupakan bagian kecil dari arti prestasi yang sesungguhnya. Anak-anak tidak dapat dinilai hanya dari satu sisi perolehan nilai semata. Apalagi ketika orangtua dan guru membandingkan kualitas anak-anak didik melalui perolehan nilai-nilai eksakta dan mengabaikan nilai-nilai yang lain.

Hal ini masih mewarnai budaya akademis, baik di kalangan orangtua maupun pendidik. Anak-anak yang memiliki nilai eksakta jauh lebih berarti dari perolehan nilai non-eksakta. Anak-anak yang memeroleh nilai tinggi dalam mata pelajaran Matematika, Fisika, Biologi atau Kimia mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang lebih ketimbang anak-anak yang memeroleh nilai tinggi dalam Bahasa Indonesia, Agama, Budi Pekerti, dan lain sebagainya. Prestasi atau penghargaan hanya dinilai dari perolehan hasil maksimal mata pelajaran tertentu. Hal ini merupakan padangan atau sudut pikir yang naif, dangkal, dan tidak konstruktif.

Orangtua, guru, dan pendidik harus melihat semua mata pelajaran merupakan asupan kurikulum yang memiliki nilai atau bobot yang sama. Anak-anak yang memiliki kelebihan dalam bidang keilmuan eksakta harus didukung dan dimotivasi agar dapat memertahankan prestasi yang dicapainya, bahkan lebih daripada itu. Anak-anak yang memiliki passion atau kelebihan dalam bidang keilmuan lingustik atau kebahasaan pun harus didukung dan diberi motivasi yang sama besar. Kecerdasan dan passion masing-masing anak memiliki keunikan tersendiri. Jangan pernah membandingkan prestasi anak-anak hanya dari sisi perolehan nilai semata, namun nilailah mereka dari sisi konsistensi.

Anak-anak yang mencintai ilmu kebahasaan harus memiliki konsistensi, disiplin, dan usaha yang keras dalam menumbuh-kembangkan kualitas ilmu linguistik yang maksimal. Anda tidak kalah hebat dengan rekan-rekan yang berprastasi dalam keilmuan lain. Oleh karena itu, tumbuh kembangkan potensi yang ada dengan kerja keras yang konsisten. Practice makes perfect. Berlatihlah dengan giat, konsisten, dan dengan dibarengi usaha keras untuk menguasai ilmu kebahasaan tertentu yang menjadi kesukaan. Anda tidak punya kesibukkan lain selain mengasah dan mempertajam ilmu kebahasaan yang menjadikan Anda bergairah untuk berkarya. Orangtua dan guru harus memiliki sudut pandangan yang sama dengan passion dan talent yang dimiliki oleh anak-anak. Anak-anak didik akan merasa termotivasi belajar giat ketika mendapatkan dukungan dan arahan yang signifikan dari para orangtua dan guru.

Anak-anak akan melakukan sesuatu secara maksimal ketika mereka menyukai apa yang mereka lakukan. Dengan pernyataan ini bukan berarti anak-anak tidak perlu memberi perhatian kepada mata pelajaran-mata pelajaran yang lain. Seluruh mata pelajaran yang menjadi tanggung jawab yang harus dikerjakan, namun untuk mata pelajaran keahlian agar mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih. Untuk mata pelajaran yang lain usahakan memerolah Nilai Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan. Namun, untuk mata pelajaran keahlian atau kesukaan hendaknya mendapatkan waktu, perhatian, dan nilai yang maksimal.

Ada satu hal penting dan mendasar yang harus mendapatkan perhatian bersama bahwa pengetahuan akan menjadi kadaluarsa pada waktu tertentu. Pengetahuan yang satu akan diganti dan diubah dengan pengetahuan yang lain. Pengetahuan lama yang gemilang akan didisrupsi dengan pengetahuan yang baru, berkembang, dan sedang in. Bukan berarti pengetahuan lama tidak dibutuhkan. Pengetahuan yang telah lama berlalu tetap dapat menjadi pijakan atau landasan perkembangan keilmuan yang baru. Oleh karena itu, penulis menyampaikan bahwa pengetahuan (lama) dapat menjadi usang, kedaluwarsa, dan tergantikan.

Jangan hanya melihat satu sisi ilmu pengetahuan dari produknya, namun perhatikan pertumbuhan aspek yang lain, yaitu keingin-tahuan. Ilmu pengetahuan akan menjadi kuno atau obsolete, tetapi rasa keingin-tahuanlah yang akan membuat seseorang bertahan dan berkembang. Rasa keingin-tahuan yang bertumbuh dalam diri seorang pelajar akan merawat ilmu pengetahuan yang memiliki kebaruan atau noveltis. Rasa keingintahuan akan mendorong seorang pemelajar untuk meng-update dan meng-upgrade diri secara konsisten. Ia akan selalu haus akan sesuatu kebaruan dan memelajarinya dengan konsisten. Leon Meggison yang merujuk Darwin dalam suatu kajiannya menulis bahwa: ”Bukan makhluk yang paling cerdas atau kuat yang akan bertahan, melainkan mereka yang mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahanlah yang akan bertahan.”

Akhirnya, kita akan menemukan makna hakiki dari sebuah prestasi, yakni konsistensi. Pekerjaan yang dilakukan dengan konsisten akan memberikan hasil atau prestasi sesuai dengan kerja keras yang telah dilakukan. Sebuah adagium berkata bahwa usaha memertahankan sesuatu jauh lebih sulit dari pada usaha memperolehnya. Di sinilah fungsi konsistensi dibutuhkan, agar yang sudah baik menjadi lebih baik dan yang kurang akan terdorong menjadi baik. Nilai bukan segalanya, namun segalanya memerlukan penilaian. Kerjakan tugasmu dengan konsisten, usahakan mimpimu dengan kerja keras. Percayalah bahwa usaha dan kerja keras yang konsisten akan mengganjar dengan kesuksesan dan keberhasilan di masa yang akan datang. Tetaplah konsisten.

ESENSI PRESTASI BAGI PENDIDIK

Penulis mengulas data yang tertera dalam harian Kompas edisi Sabtu, 27 Juli 2019 dalam kolom humaniora subbidang pendidikan. Dalam uraian tersebut tercatatlah beberapa angka penting sebagai berikut.
1. Indonesia memiliki tenaga pendidik (guru; pendidikan dasar dan menengah-dikdasmen) sebanyak 3.017.000 (tiga juta tujuh belas ribu) orang guru yang tersebut tersebar di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota.

2. Guru-guru tersebut tersebar di 147.500 jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), 37.000 jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 25.300 jenjang Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMA atau SMK).

Dalam tulisan ini, penulis memberi ruang lingkup kepada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Namun pemaknaanya dapat diserap juga pada jenjang pendidikan tinggi. Sebagai guru, kita adalah satu dari 3.017.000 orang guru yang tersebar di seluruh antero Nusantara. Kita memiliki tugas dan fungsi yang sama sebagai pendidik. Pendidik di jenjang SD, SMP, dan SMA atau SMK. Namun, apakah kita telah menjadi salah satu orang pendidik berprestasi yang diberi penghargaan oleh Pemerintah Indonesia? Jika belum, maka jangan berkecil hati, karena penghargaan yang sesungguhnya bukan sekadar pengakuan selembar kertas dan perayaan sebuah kemenangan. Pernyataan ini bukan dalam rangka meniadakan usaha, kerja keras, pengakuan, dan penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah atau lembaga lain atas usaha seorang pendidik.

Sejatinya, prestasi seorang pendidik akan terlihat secara nyata ketika ia berhasil membimbing, mengarahkan, dan memperbaiki anak-anak didiknya. Usaha untuk membantu anak-anak ini tidak dapat dilakukan secara parsial, namun total. Pendidik harus merelakan segenap hidupnya bagi perubahan hidup anak-anak didiknya. Perubahan bukan hanya dalam tataran kognitif semata, dari yang tidak tahu bidang keilmuan tertentu berubah menjadi tahu dan terampil. Namun, lebih dari pada itu, terjadi perubahan signifikan atas sudut pandang atau paradigma anak-anak didik. Mereka mengerti dan memahami tugas serta tanggung jawab sebagai peserta didik yang harus menemukan perubahan di berbagai lini kehidupan. Inilah makna dan arti hakiki prestasi dari seorang pendidik. Anda mungkin mengajar di satu sekolah yang sederhana, terbatas dalam sarana, dan jauh dari hingar bingarnya kota-kota besar, namun janganlah kehilangan jati diri dan makna sebagai agen perubahan bagi anak-anak didik yang dipercayakan. Tugas dan panggilan ini adalah the ultimate function atau fungsi dan tanggung jawab tertinggi dari seorang pendidik bahwa ia harus dapat mengubah anak-anak menjadi baik, positif, dan konstruktif.
Pendidik yang memberikan hidupnya bagi tumbuh kembang anak-anak didiknya, menerima keberadaan mereka apa adanya, bukan ada apanya, adalah seorang pendidik sejati yang tidak dapat diwaliki oleh angka berapa pun. Pendidik sejati ini tidak akan pernah dapat digantikan dengan apa pun dan siapa pun juga. Ia memiliki hati dan jiwa yang dapat diandalkan oleh hidup anak-anak yang dipercayakan kepadanya. Alih-alih pendidik seperti ini jauh dari pada pengakuan dan penghargaan dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada, namun akan mendapatkan pengakuan serta penghormatan yang tulus dari anak-anak didik yang hidupnya berubah karena kesabaran dan perhatiannya. Jadilah pendidik andal yang berprestasi dalam arti yang sesungguhnya. Pendidik sukses yang dapat membawa kesuksesan bagi hidup setiap anak-anak didiknya. Jasa dan pengabdian seorang pendidik sejati dapat saja dan mudah untuk dilupakan. Namun, jejak-jejak kesejatian seorang pendidik sejati tidak akan pernah lekang dimakan panas dan tidak akan lapuk dimakan hujan. Ia akan tetap berdiri dan membagikan hidupnya buat anak-anak yang dikasihinya. Selamat berprestasi dalam arti sesungguhnya.