Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Apakah Iman adalah Pemberian? Efesus 2:8 – Magazine Sinode GSKI
Study

Apakah Iman adalah Pemberian? Efesus 2:8

Para Teolog beraliran Calvinisme berpendapat bahwa keselamatan itu seluruhnya adalah Tuhan yang kerjakan, manusia pasif saja. Bahkan iman pun diberikan oleh Tuhan, seolah-olah manusia secara pasif dapat berubah menjadi manusia yang beriman dengan cara yang tidak dapat dimengerti atau secara ajaib dikerjakan oleh Tuhan. Dalam hal ini manusia diasumsikan tidak memiliki kehendak bebas, jadi bak sebuah robot biologis yang diprogram oleh penciptanya.

Beberapa di antara mereka ada yang mendasarkan pada teks Alkitab Efesus 2:8. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Alkitab TB LAI)

Kesalahan yang serius terjadi dalam hal ini karena mereka tidak teliti dalam memeriksa konteks yang benar dari ayat ini atau tidak menganalisa teks ini apa adanya, tetapi berusaha menyesuaikan teks ini dengan premis yang ada di dalam pikirannya, sehingga terjadi eisegesis, bukan eksegesis.

Kesalahan misinterpretasi ayat ini mengakibatkan orang berpikir bahwa kedaulatan Tuhan secara mutlak menghilangkan kehendak bebas manusia dan tanggung jawab manusia. Jadi seolah-olah Tuhan adalah penggerak semua perbuatan manusia. Ini jelas salah, sebab perbuatan jahat manusia pasti bukan karena Tuhan yang menggerakkan. Selanjutnya, jika Tuhan memilih hanya sebagian manusia yang digerakkan-Nya tanpa alasan apapun, ini bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Alkitab bahwa “Ia tidak menginginkan seorangpun binasa” (2 Ptr. 3:9). Hal ini juga bertentangan dengan hakikat Tuhan yang mengasihi seluruh umat manusia, tanpa pandang bulu (Rm. 2:11).

Faktanya dalam Alkitab, Tuhan memerintahkan semua manusia untuk percaya, bukan manusia diperintah pasif saja lalu dibuat percaya oleh Tuhan. Jika percaya atau tidak percaya adalah tindakan sepihak dari Tuhan, di luar kendali manusia, maka seluruh perintah Tuhan agar manusia percaya menjadi kontradiksi dan absurd. Jika manusia tidak memiliki kehendak bebas maka prinsip-prinsip etika tidak berjalan dengan wajar, dan hukum tabur tuai tidak bekerja secara adil.

Perjanjian Baru jelas mengajarkan bahwa bertobat dan percaya adalah kewajiban manusia. Manusialah yang harus mengerjakan pertobatannya. Keputusan untuk menerima Tuhan atau tidak, jelas adalah keputusan masing-masing pribadi, tetapi yang menerima-Nya, itupun harus melewati proses sehingga dapat menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12).

Yesus sendiri memerintahkan bahwa “bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15), percayalah kepada Allah (Mrk. 11:22), percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu (Yoh. 14:1), dan lain-lain.

Rasul Paulus juga memerintahkan kepada kepala penjara bahwa jika mau selamat harus percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Kis.16:31)

Seluruh kata perintah yang digunakan adalah kata kerja Yunani pisteuo. Ini menjelaskan bahwa yang harus percaya adalah yang menerima perintah, yaitu manusia.

Sekarang mari kita analisa teks Efesus 2:8
1. Menurut tata bahasanya
Dalam NKJV (New King James Version) dan NA28 (Nestle-Aland 28th Edition):
For by grace you have been saved through faith, and that not of yourselves; it is the gift of God (NKJV)
Τῇ γὰρ χάριτί (feminine) ἐστε σεσῳσμένοι διὰ πίστεως· (feminine) καὶ τοῦτο (neuter) οὐκ ἐξ ὑμῶν, θεοῦ τὸ δῶρον (neuter)·(NA28).

Interlinearnya:
Te gar {because, karena} khariti {grace, anugerah, noun – dative singular feminine} este sesosmenoi {you have been saved, kamu (jamak) telah diselamatkan, verb – perfect passive participle – plural nominative masculine} dia {through, melalui} pisteos {faith, iman, noun – genitive singular feminine} kai touto {and that, dan itu, pronoun – demonstrative – nominative singular neuter} ouk {not, bukan} ex {of, dari} humon {yourselves, kamu, pronoun – personal 2nd person genitive plural} theou {of God, dari Allah, noun – genitive singular masculine} to {the, itu} doron {gift, pemberian, noun – nominative singular neuter}

Kalau kita perhatikan jelas bahwa the gift of God (δῶρον, doron) memiliki gender neuter, jadi tidak menunjuk pada iman (πίστεως, pisteos) yang bergender feminine. Pertanyaannya, apa yang merupakan pemberian dari Allah?

Satu-satunya kemungkinan tinggal satu dalam kalimat ini, yaitu keselamatan yang dalam bentuk kata kerja pasif (este sesosmenoi, “you have been saved”).

Jadi dalam kalimat ini yang menjadi pemberian Allah adalah keselamatan, bukan iman!

Ada pihak yang keberatan dengan kesimpulan ini, mereka berkata bahwa keselamatan (salvation) juga kata bendanya bergender feminine, bukan neuter, jadi yang merupakan pemberian dalam teks Efesus 2:8 itu bukan “keselamatan” juga.

Kita harus ingat, bahwa kita sedang menganalisa kalimat ini, dan di kalimat ini keselamatan tampil dalam bentuk kata kerja pasif, jadi tidak boleh dijadikan kata benda, kita harus analisa kalimat ini apa adanya.

Jadi yang menjadi pemberian Allah adalah “keselamatan”, bukan “iman” dalam ayat ini.
Sebenarnya John Calvin sendiri juga mengartikan bahwa yang merupakan pemberian dalam Efesus 2:8 ini adalah keselamatan (yang merupakan kasih karunia melalui iman), dan ternyata Rasul Paulus juga menjelaskan hal ini dalam Roma 6:23 bahwa kasih karunia Allah itu adalah hidup kekal (keselamatan).

2. Menurut konteksnya
Ingat selalu bahwa pengertian yang benar bukan dibangun hanya dari 1 atau 2 ayat. Kita harus memeriksa konteks dekatnya maupun konteks jauhnya, agar Alkitabiah, bukan hanya ayatiah. Coba kita baca surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus ini secara lengkap, maka kita akan menemui banyak fakta bahwa:
Jemaat Efesus telah belajar mengenal Kristus, jadi ada proses yang harus dilalui, yaitu proses belajar (Ef.4:20).
Jemaat Efesus harus mau menanggalkan manusia lamanya agar tidak binasa (Ef. 4:22), dan banyak hal lain yang harus dikerjakan oleh jemaat Efesus, misalnya jangan beri kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27). Semuanya ini yang harus mengerjakan adalah jemaat Efesus, bukan Tuhan. Justru Tuhan yang memerintahkan hal itu. Coba dibaca Efesus 4:17-32, semuanya adalah perintah agar jemaat Efesus melakukannya, itu bagian jemaat Efesus, bukan bagian Tuhan. Demikian juga seluruh pasal 5 dan 6.
Bahkan seandainya kalimat tadi memang bermaksud bahwa iman adalah pemberian Allah, itupun bukan berarti lalu manusianya pasif, lalu Allah secara ajaib memberikan iman atau rasa percaya kepada manusia yang pasif itu, ini sungguh absurd.

Cara melakukan interpretasi semacam ini salah. Sama halnya dengan pertobatan sebagai pemberian atau kasih karunia Allah, tentu yang harus bertobat manusia, bukan Tuhan yang menggerakkan pikiran dan hati manusia menjadi bertobat secara instan dan ajaib.

Dalam Kisah 11:18, dikatakan bahwa “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”. Tentu kalimat ini bukan berarti bangsa-bangsa lain itu pasif saja, lalu dibuat otomatis bertobat oleh Tuhan, bukan demikian artinya. Arti sesungguhnya adalah mereka diberikan kesempatan istimewa untuk bertobat (Coba baca juga Kisah. 2:38, 3:19, 17:30).

Demikian juga dengan kita semua, kita diberi hak istimewa (exousia) agar bisa percaya dengan benar, dengan secara aktif mengarahkan kehendak kita untuk beriman kepada Tuhan (Rm.10:17).

Banyak orang sebenarnya tidak sadar bahwa mereka sedang berbeda pendapat dengan Tuhan sendiri, bahwa semua kita harus mau belajar dari pokok keselamatan kita, yaitu Tuhan Yesus (Ibr. 5:8-9, Mat. 11:29), bukan pasif saja menunggu “pemberian” yang ajaib.

Banyak orang menolak pengertian yang benar ini dengan bersikeras bahwa segala sesuatunya Tuhan yang menggerakkan atau mengerjakannya. Sebenarnya mereka takut kalau kedaulatan Tuhan direndahkan dan kedaulatan manusia ditinggikan. Kesalahpahaman ini perlu dijelaskan berulang-ulang. Bahwa keselamatan itu adalah anugerah Tuhan. Tanpa anugerah Allah tidak akan ada seorangpun yang selamat, tetapi manusia harus bertobat, percaya, melakukan kehendak Tuhan, dan mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar. Alkitab berbicara sangat jelas tentang hal ini, namun perlu diingat bahwa itu bukan berarti manusia boleh merasa berjasa dengan perbuatannya sehingga berhak selamat, bukan demikian. Manusia hanya meresponi firman Tuhan. Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan, bahwa manusia percaya kepada-Nya dan meresponi firman-Nya, bertobat dan belajar daripada-Nya.

Pengertian yang salah akan berakibat fatal, yaitu manusianya pasif saja, menunggu iman diberikan oleh Tuhan. Pengertian yang benar adalah manusianya (orang percaya) harus aktif meresponi firman-Nya. Tuhan Yesus berkata, jikalau seseorang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, ia tak dapat jadi murid-Ku (Luk. 14:33. Selanjutnya, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Amin.