Perkenalkan saya, Pdt. Kwet Pin Yosua dari Ketapang, Kalimantan Barat, saya mau bersaksi bagaimana Suara Kebenaran telah merubah hidup saya. Pada bulan April 2009, pertemuan saya dengan Rehobot Ministry dan Pdt. Dr. Erastus Sabdono yang tidak direncanakan namun juga bukan kebetulan. Kebiasaan saya, malam sebelum tidur, saya mengikuti khotbah pendeta di TV (Indovision). Suatu malam ketika saya menyetel channelkhotbah itu Pak Eras kembali yang  berkhotbah. Ketika Pak Eras menyampaikan khotbahnya, saya agak bingung, dan saya berkata kepada istri saya bahwa pendeta ini sesat, karena khotbahnya berbeda dengan yang saya dengar selama ini.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali membuka channel khotbah dan sekali lagi Pak Eras yang berkhotbah, dan khotbah kali ini sangat menyentuh hati saya, karena isi khotbahnya tentang pelayanan, di mana saya aktif terlibat pelayanan. Ternyata pelayanan saya selama ini tidak benar dan motivasinya salah.

Sejak saat itu, saya mulai tertarik dengan khobah Pak Eras dan mulai mencari kaset-kaset atau CD khotbah Bapak Pdt. Dr. Erastus Sabdono. Saya semakin mengerti dan menemukan adanya  kejanggalan  dalam pelayanan dan khotbah-khotbah di gereja di mana saya melayani dan berjemaat. Salah satunya visi-visi yang berbau kemakmuran jasmani. Semakin saya mengikuti khotbah pak Eras, semakin saya merasakan perbedaan gairah dan fokus dari khotbah-khotbah yang disampaikan di gereja saya yang lama,  sehingga saya mulai tidak betah dan mulai “terganggu” dengan khotbah-khotbah yang berbau kemakmuran jasmani. Pada saat itu kehausan saya akan Suara Kebenaran semakin besar, akhirnya saya mulai menghubungi Rehobot Ministry Jakarta untuk memperoleh info lebih lanjut. Puji Tuhan, saya boleh berbagi dengan salah satu hamba Tuhan dari Rehobot Ministry Jakarta, yaitu Bapak Pdt. Andreas Agus Wurjanto. Saya menyampaikan apa yang saya alami di Ketapang dan saya berencana untuk keluar dari gereja di mana saya melayani dan berjemaat, beliau menganjurkan untuk tetap bertahan dan saya coba menuruti nasehat beliau.

Pada akhirnya saya tidak bisa bertahan lagi di gereja itu dan memutuskan keluar dari gereja itu. Bersama dengan beberapa rekan, kami mulai membentuk persekutuan dan belajar khotbah-khotbah Pak Eras. Selanjutnya, pada tanggal 16 Agustus 2009 kami membentuk Gereja lokal sendiri, itulah awal kelahiran GBI Rehobot Ketapang, yang saat ini telah berubah menjadi GSKI Rehobot Ketapang. Puji Tuhan, mulai saat itu dan sampai sekarang, kami belajar dan menikmati pengajaran-pengajaran yang sangat memberkati kami, sehingga saya juga melihat bagaimana jemaat GSKI Rehobot Ketapang bertumbuh dalam kebenaran yang Alkitabiah. Tentu dalam hal ini, kami mengerti bahwa percaya Tuhan Yesus berarti kami diberi dan mendapat kesempatan berjuang untuk mengalami perubahan dari kodrat dosa menjadi kodrat Ilahi. Demikianlah kesaksian saya, semoga memberkati dan memotivasi. Amin

 

Salam LB3, Solagratia