Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Siapakah Sesungguhnya Penulis Kitab Taurat? – Magazine Sinode GSKI

"Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu." (Kel 24:4a)

Secara tradisional, Musa memang dipercaya sebagai penulis kitab Taurat atau Pentateukh, yaitu kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama—Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Namun, pandangan ini mendapatkan banyak tentangan. Mungkin kita pun sempat mencurigainya, karena bagaimana mungkin Musa menulis tentang kematiannya sendiri? (Ul. 34) Atau mengapa kota asal Abraham disebut Ur-Kasdim (Kej. 11:28-31), padahal bangsa Kasdim baru ada di daerah itu sekitar 1000 tahun setelah Abraham?[1]

Teori Sumber

Pada abad ke-17, filsuf Yahudi Benedict Spinoza (1632–1677) berkata, “Adalah lebih terang daripada matahari rembang bahwa Pentateukh tidak ditulis oleh Musa, tetapi oleh orang lain yang hidup beberapa generasi setelah Musa.”[2]Sejak itu, para ahli mulai secara serius memikirkan hal ini. Jean Astruc (1684–1766), profesor kedokteran Perancis, mencurigai bahwa kitab Kejadian ditulis oleh dua kelompok orang yang berbeda, berdasarkan penggunaan nama Allah yang berbeda, yaitu Elohim dan YHWH.[3]Jika perbedaan hanya pada nama, mungkin tidak terlalu bermasalah, namun Astruc menemukan perspektif yang berbeda pada penggunaan nama yang berbeda tersebut, sehingga menyimpulkan bahwa kitab tersebut memang berasal dari dua dokumen yang berbeda. Astruc memelopori teori sumber dengan pendekatan historis-kritis, yaitu bahwa Pentateukh ditulis oleh penulis yang berbeda pada zaman yang berbeda, lalu digabungkan menjadi satu oleh seorang redaktur.

Orang yang paling berkontribusi atas Teori Sumber ini adalah Julius Wellhausen (1844–1918), pakar Perjanjian Lama dari Göttingen, Jerman. Dalam bukunya, Prolegomena zur Geschichte Israels(Prolegomena terhadap Sejarah Israel Kuno), Wellhausen memopulerkan Hipotesis Dokumen, yang ditulisnya berdasarkan tulisan para teolog sebelumnya seperti Hermann Hupfeld, Karl Heinrich Graf, Abraham Kuenen dan sebagainya.[4]Wellhausen mengatakan bahwa Pentateukh ditulis selama berabad-abad oleh empat sumber yang berbeda:

  • Sumber J (Jehovist, Yahwis), yaitu penulis di Kerajaan Yehuda yang berasal dari sekitar abad ke-10 atau ke-9 s.M. dan menggunakan nama YHWH untuk menyebut Allah.
  • Sumber E (Elohist, Elohis), yaitu penulis dari Efraim di Kerajaan Israel yang berasal dari abad ke-9 atau ke-8 s.M. dan menggunakan nama Elohim untuk menyebut Allah.
  • Sumber D (Deuteronomist, Deuteronomis), yaitu penulis utama kitab Ulangan dan bagian Pentateukh lain yang bertema teologi serupa, berasal dari akhir abad ke-7 atau awal abad ke-6 s.M, sekitar Reformasi Yosia (2Raj. 23:1–3).
  • Sumber P (Priestly, Pristis), yaitu penulis utama hukum-hukum ritual dan legalisme berbau imamat, yang dipercaya merupakan kelompok imam yang berasal dari abad ke-5 s.M., sesudah pembuangan ke Babel.[5]

Pendapat Wellhausen diterima oleh para teolog Perjanjian Lama sesudahnya pada abad ke-20 dan merupakan teori utama mengenai asal-usul penulisan kitab Pentateukh.[6]Namun pada akhir abad ke-20, para pakar mulai tidak sepakat mengenai urut-urutan penulisan sumber-sumber tersebut, ruang lingkup sumber, keberadaan sumber lainnya, dan sebagainya. Ini semua meruntuhkan konsensus yang dibangun oleh Wellhausen.[7]

Pandangan Tradisional

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, secara tradisional, Musa dipandang sebagai penulis seluruh kitab Pentateukh. Mungkin ada yang bisa menoleransi ayat-ayat yang tampaknya ditulis sesudah Musa, seperti Ul. 34 dan Kej. 11:28–31 di atas. Namun ayat-ayat yang lain pasti ditulis oleh Musa, dan orang yang tidak sepakat dengan hal ini tidak jarang dipandang liberal, tidak ortodoks, sesat atau pengikut ajaran bidat.

Memang tidak bisa disangkal bahwa kitab Pentateukh tidak dengan tegas menuliskan siapa penulisnya. Isyarat bahwa Musalah penulisnya diperoleh dari ayat-ayat yang mengatakan Musa menulis firman Tuhan. Ini diawali oleh perintah Allah kepada Musa untuk menulis pada Kel. 17:14, “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan…” dan diakhiri dengan pernyataan, “Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa, maka diberikannyalah kepada imam-imam bani Lewi…” (Ul. 31:9). Namun sekalipun ada hukum Taurat yang ditulis Musa, perlu diakui bahwa tidak dapat dijamin bahwa yang ditulis itu adalah kelima kitab Pentateukh seperti yang kita kenal hari ini.

Kepercayaan orang Yahudi bahwa Pentateukh ditulis oleh Musa juga dipegang oleh Tuhan Yesus, seperti dalam Yoh. 5:46, “Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.” Beberapa teolog seperti Gleason L. Archer, Jr. yang mengatakan jika ternyata Yesus salah tentang hal ini, maka tidak bisa tidak, otoritas-Nya juga patut disangkal, sebab dia bisa juga salah tentang kepercayaan atau ajaran yang diajarkan-Nya.[8]

Archer memberikan beberapa bukti yang menurutnya meneguhkan bahwa Musalah penulis Taurat, seperti:[9]

  • Iklim dan cuaca dalam Keluaran khas Mesir, bukan Palestina.
  • Flora dan fauna dalam Keluaran sampai Ulangan khas Mesir dan Semenanjung Sinai, bukan Palestina. Misalnya dalam Kel. 25:5 disebutkan bahan-bahan Kemah Suci. Pohon penaga (שִׁטָּה, shittâ) banyak dijumpai di Mesir dan Semenanjung Sinai, tetapi hampir tidak ada di Palestina. Lumba-lumba (תַּחַשׁ, takhash) sebetulnya adalah duyung, yang di dunia Perjanjian Lama hanya dapat ditemui di Laut Merah. Demikian juga hewan-hewan yang didaftarkan dalam daftar hewan-hewan yang halal dimakan. Karena itu sulit dibayangkan jika kitab tersebut disusun hampir 1000 tahun kemudian di negeri yang tidak mengenal tumbuhan dan hewan tersebut.
  • Beberapa referensi menunjukkan bahwa tulisan ini ditujukan bagi pembaca yang mengenal Mesir tetapi kurang mengenal Palestina, misalnya Kej. 13:10 yang mengatakan Lembah Yordan “seperti tanah Mesir”, dan Bil. 13:22 yang menyatakan Hebron didirikan tujuh tahun sebelum Soan di Mesir. Ini menunjukkan pembaca kitab mengetahui kapan Soan didirikan, tetapi tidak mengetahui soal Hebron.
  • Narasi pengembaraan di padang gurun dan pusat ibadah di Kemah Suci tidak relevan jika pembaca sudah menetap di Palestina berbad-abad dan hanya mengenal Bait Suci Salomo atau Bait Suci Zerubabel sebagai tempat pusat ibadah mereka.
  • Pentateukh berisi banyak nama Mesir dan kata serapan dari Mesir, jauh lebih banyak daripada bagian lain di Alkitab. Misalnya dalam Kej. 41:45 kita melihat nama Zafnat-Paaneah yang berarti “Pemelihara Tanah Sang Hidup (Firaun)”, Asnat yang berarti “Kesayangan Dewi Neith”, Potifera yang berarti “Pemberian Ra”, On untuk kota Heliopolis.[10]Ini menunjukkan bahwa penulis dibesarkan di Mesir dan menulis bagi orang-orang yang pernah hidup di Mesir.
  • Jika Pentateukh ditulis dari abad ke-10 hingga ke-5 di Palestina, tentu nama kota Yerusalem disebut, sebab kota itulah ibukota Kerajaan Israel dan Yehuda, dan merupakan tempat pusat ibadah mereka. Namun ternyata nama Yerusalem tidak ada sama sekali. Saat menyebut Gunung Moria (Kej. 22:2) dan Salem (Kej. 14:18) juga tidak ada petunjuk bahwa di masa depan di sanalah Bait Suci akan didirikan.
  • Nama Allah yang sering digunakan pada tahun 850–450 s.M., יהוה צְבָאֹות(YHWH Tseva’ôth) yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan “TUHAN Semesta Alam” sama sekali tidak digunakan dalam Pentateukh, padahal jika ada bagian yang ditulis oleh kaum Pristis, pasti nama tersebut digunakan.
  • Kaum Pristis juga seharusnya menuliskan lembaga ibadah dan liturgi yang ada di zaman Daud, seperti para penyanyi dalam 1Taw. 25, budak yang melayani di Bait Allah (Ezr. 2:68; Neh. 7:60) dan alat-alat musik. Tetapi ternyata di Pentateukh tidak ada sama sekali.
  • Di zaman reformasi Yosia, Yehuda hanyalah negara kecil di bayang-bayang kekuasaan Asyur. Ini tidak harmonis dengan bahasa optimis dan perintah untuk mengalahkan Kanaan seperti dalam Ul. 7:5; 12:2–3.
  • Sebelum zaman reformasi Yosia, Israel menoleransi penyembahan berhala. Padahal ada hukum dalam Taurat yang jelas memerintahkan untuk membunuh siapa pun yang menyembah berhala dan bahkan seluruh penduduk kota (Ul. 13:2–17). Tidak ada orang yang mengarang hukum yang tidak mungkin dilaksanakan pada zamannya.

Archer berpendapat Musa memiliki kualifikasi untuk menulis Pentateukh, sebab ia memang dididik di istana Firaun dalam hikmat orang Mesir (Kis. 7:22) yang dipilih Allah sebagai pendiri bangsa Teokratis yang diperintah berdasarkan hukum Allah.

Pandangan Saat Ini

Teori sumber dengan pandangan historis-kritis seperti yang dipopulerkan oleh Wellhausen saat ini semakin lemah. Studi mutakhir Perjanjian Lama semakin sedikit mempertanyakan sumber dan lebih memilih untuk mempelajari komposisi final Pentateukh berikut kitab-kitab yang ada di dalamnya.[11]

Misalnya, Hipotesis Dokumen yang memisahkan penulis berdasarkan penggunaan nama Allah dipandang tidak meyakinkan. Kikawada dan Quinn memberikan penjelasan mengenai hal ini:

Saat membahas mengenai aspek sejarah purba yang setara dengan sastra hikmat, ia menggunakan Elohim; saat berurusan dengan aspek-aspek yang menekankan penyataan khusus, ia merasa perlu cenderung menggunakan Yahwe.[12]

Juga menarik karena ada hampir seratus perbedaan nama Allah yang digunakan dalam teks Masoret dengan Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani).[13]Ini melemahkan pemisahan antara sumber J dan E. Sebagai contoh:

  • 21:2 menggunakan Elohim, tetapi LXX menggunakan Κύριος (Kýrios, yang seharusnya merupakan terjemahan dari YHWH).
  • 4:4 menggunakan YHWH, tetapi LXX menggunakan ὁ θεὸς (ho Theós, yang seharusnya merupakan terjemahan dari Elohim).

Juga perlu dipertimbangkan bahwa para teolog Perjanjian Lama juga tidak lagi sepakat dengan pandangan Wellhausen bahwa Perjanjian Lama mengandung evolusi agama Yahudi dari animisme ke henoteisme[14]ke monoteisme,[15]yang terkait dengan sumber-sumber dan kapan mereka menulisnya. Para pendukung pendekatan historis-kritis juga tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai bagian mana ditulis oleh siapa dan juga tidak sepakat mengenai kelompok penulis mana yang lebih dahulu ada.

Sejak tahun 1970-an, pendekatan studi sastra yang dilakukan oleh para teolog Perjanjian Lama lebih memperhatikan kualitas sastra narasi Alkitab, sehingga sering mengesampingkan pertanyaan mengenai asal-usul dan referensi sejarah. Studi terhadap kitab Kejadian yang dilakukan oleh para pakar seperti Fokkelman, Clines, Kikawada dan Quinn misalnya, membuktikan bahwa kitab Kejadian mengandung kesatuan sastra yang mempertunjukkan kecerdasan artistik dinilai berdasarkan kanon budaya Semitik.[16]Misalnya, kisah Yusuf menunjukkan suatu kesatuan yang hampir tidak mungkin berasal dari dua sumber yang berbeda.

Jadi, Siapa yang Menulis Taurat?

Perlu diakui bahwa Pentateukh mengandung sumber-sumber sebelum Musa dan sesudah Musa. Ini menyebabkan pandangan tradisional yang dipandang Injili atau ortodoks bahwa Musalah satu-satunya penulis Taurat mau tidak mau perlu mengalami pergeseran.

Kita tidak akan pernah tahu persis siapa saja yang menyusun seluruh Pentateukh, karena bukti-buktinya memang sulit untuk ditemukan, tetapi secara umum, berdasarkan bukti-bukti internal dan eksternal yang kuat terhadap kepenulisan Musa, kita dapat dengan tegas mengatakan bahwa Musa—mungkin dibantu oleh pengikut-pengikutnya—memang mempunyai peran yang sangat besar dalam penyusunannya. Sebagian besar dari Pentateukh memang berasal dari Musa, tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa untuk narasi masa sebelum Musa—terutama dalam Kejadian—digunakan pula sumber dari tradisi yang sudah ada sebelumnya, yang sebagian besar bersifat lisan, dan ada pula tangan-tangan redaktur sesudah Musa yang memberi tambahan-tambahan serta membentuk kitab-kitab itu hingga menjadi bentuk final yang kita kenal saat ini.

Namun semua itu terjadi di bawah tuntuntan Tangan Kuat yang memelihara umat-Nya, yang mampu membimbing tangan-tangan kecil yang menulis kitab-kitab itu. Kita percaya bahwa Alkitab yang saat ini kita gunakan adalah Firman Allah yang diilhami oleh Roh Kudus, termasuk Pentateukh, sekalipun bukan hanya Musa seorang diri yang menulisnya.

 

 

 

[1]“Chaldean” dalam A Dictionary of World History, Edisi Ketiga, ed. Edmund Wright (Oxford, UK: Oxford University Press, 2015).

[2]Peter Enns, The Evolution of Adam: What the Bible Does and Doesn’t Say About Human Origins(Grand Rapids, MI: Brazos Press, 2012), 17.

[3]Enns, Evolution, 18–19.

[4]John Muddiman dan John Barton, ed. The Oxford Bible Commentary: The Pentateuch(Oxford, UK: Oxford University Press, 2010), 20.

[5]Enns, Evolution, 20–21.

[6]Pauline A. Viviano, “Source Criticism” dalam To Each Its Own Meaning: An Introduction to Biblical Criticisms and Their Applications, ed. Steven L. McKenzie dan Stephen R. Haynes (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1999), 41-42

[7]David M. Carr, “Changes in Pentateuchal Criticism” dalam Hebrew Bible Old Testament: The History of Its Interpretation, Volume III: From Modernism to Post-Modernism, Part II: The Twentieth Century – From Modernism to Post-Modernism, ed. Magne Sæbø (Göttingen, Jerman: Vandenhoek & Ruprecht: 2015), 434.

[8]Gleason L. Archer, Jr. New International Encyclopedia of Bible Difficulties, versi EPUB (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001), 55.

[9]Archer, Encyclopedia, 58–63.

[10]Gleason L. Archer, Jr. A Survey of Old Testament Introduction(Chicago, IL: Moody Press, 1964), 102.

[11]Tremper Longman III dan Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament, edisi kedua (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2006), 47.

[12]I.M. Kikawada dan A. Quinn, Before Abraham Was: The Unity of Genesis 1–11(Nashville, TN: Abingdon Press, 1985), 19.

[13]Daftar perbedaan terjemahan nama Allah dalam teks Masoret dengan Septuaginta dikumpulkan oleh Michael S. Heiser dan dapat dilihat di http://www.michaelsheiser.com/TheNakedBible/LXX%20MT%20divine%20name%20switching.pdf. Diakses 20 April 2019.

[14]Henoteisme adalah penyembahan kepada satu Allah tetapi tidak menolak keberadaan ilah-ilah lain.

[15]Longman dan Dillard, A Survey of OT, 49.

[16]Longman dan Dillard, A Survey of OT, 50.