Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Persepuluhan, Masih Relevankah? – Magazine Sinode GSKI

Menyingkap Kebenaran Yang Disembunyikan

“Jelas persepuluhan tidak dipraktekkan di gereja mula-mula, tetapi secara perlahan-lahan menjadi suatu kebiasaan.”

Pdt. Ir. Tjandra Tedja, M.Sc., M.Th.

Zaman Perjanjian Baru

Penyebutan Persembahan Persepuluhan
Persembahan persepuluhan disebut-sebut di dalam Perjanjian Baru sebanyak total sepuluh kali. Dua yang pertama hampir mirip. Matius 23:23 mencatat apa yang dikatakan Yesus:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpentingdalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Yesus jelas berkata bahwa yang terpenting dalam hukum Taurat adalah keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Percuma saja mempersembahkan persepuluhan tetapi yang terpenting justru diabaikan. Ini sama saja dengan kasus seseorang yang dengan setia mempersembahkan persepuluhannya tetapi mengabaikan keperluan materi dari orang tuanya dan/atau keluarganya. Atau, setia mempersembahkan persepuluhannya tetapi tidak melunasi hutang-hutangnya.

Lukas 11:42 menambahkan bahwa orang-orang Farisi memberikan persembahan persepuluhan “segala jenis sayuran” tetapi mengabaikan “keadilan dan kasih Allah”. Meskipun mereka melakukan persembahan persepuluhan yang sesuai dengan ketentuan hukum Taurat, namun Yesus marah terhadap sikap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.

Hal ini tentu tidak bisa diartikan bahwa Yesus sedang mengajarkan persepuluhan. Karena Lukas 11:37-54 konteksnya adalah Yesus sedang berbicara kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang memang masih harus tunduk kepada hukum Taurat. Yesus tidak sedang berbicara kepada murid-muridNya.

Sangat jelas kalau kita lihat pada Matius 23:1-36 dan Lukas 11:37-54 tersebut Yesus sedang mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sesuai dengan judul perikop dari rangkaian ayat-ayat tersebut. Pada teks Matius 23:1-36 terhitung ada delapan kali Yesus mengecam mereka, dan di rangkaian ayat Lukas 11:37-54 Yesus mengecam mereka enam kali. Jadi, jelaslah bahwa konteks ayat-ayat tersebut adalah tentang gugatan atau kecaman keras Tuhan Yesus terhadap praktek keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukan tentang persepuluhan.

Perhatikan baik-baik persepuluhan yang disinggung Yesus dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42 adalah jenis persepuluhan yang remeh temeh: persepuluhan bumbu-bumbu dapur (selasih, adas manis, jintan, inggu, dll) yang merupakan hukum persepuluhan tambah-tambahan yang secara agamawi dilaksanakan ketat oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dari sentilan lucu ini, kita seharusnya jeli membaca ayat tersebut bahwa Yesus justru sedang mengecam/menyindir praktek “persepuluhan” murahan mereka.

Penyebutan ketiga adalah pada perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Di dalam perumpamaan itu ada pernyataan dari seorang Farisi bahwa ia membayar sepersepuluh dari penghasilannya, sehingga ia merasa lebih benar dibanding si pemungut cukai (Lukas 18:12).

Memang pada pengamatan sekilas ketiga penyebutan ini seakan-akan mendukung praktek persembahan persepuluhan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen sekarang ini, karena Yesus berkata: “yang satu (persembahan persepuluhan) harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan (yang terpenting dalam hukum Taurat: keadilan, belas kasihan dan kesetiaan).”

Tetapi perhatikan kepada siapa Yesus pada saat itu berbicara. Ia berbicara kepada orang-orang yang waktu itu harus tunduk kepada Hukum Musa/Taurat, termasuk Yesus sendiri. Ini diperjelas pada contoh di Lukas 5:14 di mana Yesus memerintahkan orang yang baru disembuhkannya dari kusta untuk memperlihatkan dirinya kepada imam dan “memberikan persembahan atas pentahirannya seperti yang diperintahkan Musa”. Perjanjian Lama tetap berlaku saat itu sampai akhirnya Yesus mati di kayu salib dan membawa Perjanjian Baru.

Tujuh penyebutan lainnya tentang persembahan persepuluhan semuanya tercatat di dalam Ibr 7:2-10. Yang menjadi pertanyaan setelah membaca ayat-ayat tersebut ialah: apakah kita sebagai orang-orang Kristen diajarkan harus memberikan persembahan persepuluhan? Tidaklah demikian. Ayat-ayat di kitab Ibrani itu berada dalam konteks untuk memastikan orang-orang Yahudi akan superioritas dari keimaman Melkisedek, yang di dalamnya Yesus disebut, dengan mengingatkan mereka saat-saat dimana Abraham, bapa orang-orang Israel, memberikan persembahan persepuluhan kepada Melkisedek. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Lewi dan bahkan para imam adalah keturunan Abraham, yang berdasarkan hukum Taurat “menerima persembahan persepuluhan” dari orang-orang Israel tetapi tidak memberikan persembahan persepuluhan, dalam hal ini “membayar persembahan persepuluhan” kepada Melkisedek.

Memang ayat-ayat di Ibrani ini menggunakan contoh persepuluhan yang dilakukan Abraham kepada Melkisedek, tetapi ini hanya untuk menjelaskan dan menunjukkan superioritas Yesus seperti yang diuraikan di atas. Jelas penulis Surat Ibrani tidak bermaksud untuk membuat persembahan persepuluhan menjadi sesuatu yang harus dilakukan oleh umat Kristen Perjanjian Baru, karena kesimpulan yang dibuatnya adalah untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek yang lebih superior dari para imam suku Lewi menurut peraturan Harun.

Yesus tidak pernah menerima persembahan persepuluhan di sepanjang hidupnya. Tidak ada satu ayat pun di Perjanjian Baru yang menjelaskan bahwa Yesus menerima persembahan persepuluhan dari para murid-Nya dan pengikut-Nya, apalagi persembahan persepuluhan dalam bentuk uang.

Nah, sayangnya ada beberapa orang yang mengajarkan bahwa karena Yesus sebagai Imam Besar Agung sesuai peraturan Melkisedek, maka persepuluhan harus diberikan kepada Yesus sebagai Imam Besar Agung, melalui dirinya sebagai gembala sidang. Mereka lupa bahwa jabatan imam sudah tidak ada lagi di dunia. Jika mereka menganggap dirinya imam, maka mereka lupa bahwa kita semuanya adalah imam juga; imamat yang rajani (1 Pet2:9). Kalau persepuluhan diaktifkan kembali di antara umat Perjanjian Baru, dan harus diberikan kepada imam, maka kita yang juga para imam, kalau memberi persepuluhan akan sama saja layaknya seperti acara ‘tukar kado’ persepuluhan. Kacau kan?

Absen Yang Mencolok
Jika kita sekarang melihat ayat-ayat yang mengajarkan secara spesifik tentang persembahan di dalam Perjanjian Baru dan membandingkannya dengan Perjanjian Lama, maka akan kita temukan tiga hal pokok yang sangat penting.

Pertama, kita tidak melihat persembahan persepuluhan diajarkan di Perjanjian Baru. Tidak seperti halnya persembahan persepuluhan yang diajarkan secara rinci dan tegas seperti di Perjanjian Lama seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya (Imamat 27:30-33, Bilangan 18:21-28, Ulangan 12:5-19, 14:22-29, 26:12-14, Nehemia 10:34-39). Persembahan persepuluhan ABSEN TOTAL dari SEMUA pengajaran Perjanjian Baru tentang persembahan. Perlu dicatat bahwa di dalam 2 Korintus sendiri, kita hanya akan membicarakan 2 pasal (8 dan 9) tentang persembahan.

Kedua, di dalam Perjanjian Baru tidak ada kemarahan tentang tidak dibayarkannya persembahan persepuluhan meski di Perjanjian Lama hal kemarahan tersebut itu jelas terlihat di Maleakhi dan juga di Nehemia.

Ketiga, perilaku Perjanjian Baru. Persembahan persepuluhan tidak hanya absen dari pengajaran Perjanjian Baru, tetapi hal itu juga absen total dari penjelasan tentang bagaimana gereja/jemaat yang pertama hidup dan memberikan persembahan seperti yang dengan gamblang dijelaskan di Kisah Para Rasul 2:45, 4:34-37, 5:1-11, 6:1-6, 20:33-35 dan 24:17. Di sini jelas sekali bahwa jika persembahan persepuluhan memang ditujukan untuk menjadi sumber dana yang utama untuk pekerjaan Tuhan – seperti yang sering diajarkan dan dikhotbahkan di gereja-gereja tertentu sekarang ini – kita tentunya mengharapkan pembayaran persembahan persepuluhan itu disebutkan di kehidupan gereja/jemaat yang pertama, tetapi hal tersebut tidak ada sama sekali.

Jika ke iga hal-hal pokok tersebut masih juga tidak bisa meyakinkan Anda bahwa persembahan persepuluhan bukanlah bagian dari Perjanjian Baru dan hanya orang-orang tertentu saja yang diharuskan membayar dan menerima persembahan perpuluhan di Perjanjian Lama, maka nanti kita akan lihat lebih mendetil ketika membahas fakta-fakta bahwa Yesus dan para rasul-Nya tidak mempraktekkan persepuluhan.

 

Yesus Dan Para Rasul-Nya Tidak Mempraktekkan Persepuluhan
Dalam beberapa diskusi tentang persepuluhan kita sering mendengar beberapa argumen seperti: “Inikan zaman modern dan orang-orang Kristen sudah tidak banyak lagi yang bercocok tanam dan beternak, jadi sudah tidak mungkin lagi persepuluhan diberikan dalam bentuk hasil ladang dan ternak, harus dalam bentuk uang”, “Janganlah kau hitung-hitungan sama Tuhan. Kembalikanlah 10% yang memang uang Tuhan itu”, “Mana mungkin zaman sekarang kita membawa beras, jagung, kambing, domba, lembu atau sapi ke gereja sebagai persepuluhan kita”, “Kita kanprofesional yang dibayar dengan uang bukan dengan hasil ladang dan ternak, jadi persepuluhan kita harus dalam bentuk uang”. Demikian seterusnya.

Argumen-argumen seperti itu justru mencerminkan tingkat kerajinan seseorang dalam membaca Alkitab. Argumen-argumen seperti itu pastinya datang dari mereka yang malas membaca firman Tuhan. Kehidupan orang Yahudi di Israel kuno itu tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia modern sekarang ini. Tidak semua dari mereka bercocok tanam dan/atau beternak. Ada juga profesi-profesi lainnya seperti: penyamak kulit (Kis 9:43), tukang minyak wangi (Kel 37:29), tukang kayu & tukang batu (2 Sam 5:11), hakim (Bil 25:5), tabib (50:2), guru (1 Taw 25:8), nelayan (Yes 19:8), tukang tenun kain (Yes 19:9), buruh (Yes 19:10), tukang tembaga & tukang besi (Kej 4:22), tukang perak & pematung (Hak 17:4), tukang pahat (1 Raja 5:15), tukang bangunan (2 Raja 12:11), tukang periuk (1 Taw 4:23), tukang emas & pedagang (3:32), tukang mantra (Pengk 10:11), tukang tenung (Yes 44:25), tukang ramal (Yer 27:9), tukang roti (Yer 37:21), tukang cukur (Yeh 5:1), pelaut (Yeh 27:27), tukang kubur (Yeh 39:15), tukang kemah (Kis 18:3) dan masih banyak lagi. Mereka menerima penghasilannya dalam bentuk uang.

Kalau masih ada yang bersikeras bilang uang belum ada pada zaman itu, silahkan cek ayat-ayat ini yang berbicara tentang uang untuk transaksi pada masa itu: Kej 17:12, Kej 17:13, Kej 17:23, Kej 17:27, Kej 34:12, Kej 42:25, Kej 42:27 dan masih banyak lagi. Perhatikan semua ayat-ayat contoh tersebut saja ada di kitab Kejadian. Pastinya juga ada di kitab-kitab selanjutnya. Periksa sendiri!

Persepuluhan seperti yang sudah kita bahas dan ketahui memang hanya dalam bentuk makanan (hasil ladang dan ternak). Persembahan persepuluhan tahun pertama dan kedua untuk dimakan sendiri oleh pemberi persembahan di Hari Raya Pondok Daun bersama-sama orang-orang lainnya yang merayakan hari raya itu. Persembahan tahun ketiga barulah diberikan kepada orang Lewi, anak yatim, janda dan orang asing. Tuhan memang menciptakan sistem persepuluhan agar setiap orang Israel boleh makan berkecukupan meski itu adalah orang Lewi yang oleh Tuhan tidak mendapatkan warisan tanah untuk digarap karena mereka diharuskan hanya bekerja di bait Allah. Nah, saudara-saudaranya dari 11 suku lainnya yang punya makanan dari hasil ladang dan ternaknyalah yang berbagi makanan itu kepada suku Lewi

Jadi, singkatnya, sistem persepuluhan adalah untuk menjamin semua orang Israel (bahkan orang asing di sana) beroleh cukup makan. Jelas Tuhan menciptakan sistem persepuluhan bukan agar orang Lewi dapat uang, apalagi dari mereka yang profesinya bukan sebagai petani dan peternak. Silahkan periksa sendiri di Alkitab.

Sekarang kita lihat kehidupan Yesus dan para rasul-Nya. Mereka semuanya tidak ada yang dari suku Lewi. Yesus sendiri dari suku Yehuda. Karena berdasarkan hukum Taurat penerima persembahan persepuluhan adalah suku Lewi, maka jelas Yesus dan para rasul-Nya tidak mungkin berani menerima persembahan persepuluhan. Nah, karena bukan dari suku Lewi, mereka harus bayar persepuluhan. Ternyata kita tidak menemukan kejadian saat Yesus dan para rasul-Nya mempersembahkan persepuluhan. Kenapa? Karena tidak satu pun dari mereka ada yang bertani atau beternak.

Yesus sebelum mengabarkan injil, dia membantu ayah-Nya yang seorang tukang kayu. Kalaupun ia mendapatkan upah dari ayah-Nya, maka itu bukanlah penghasilan yang harus dibayar persepuluhannya. Murid-murid Yesus lainnya ada yang bekas nelayan, pemungut cukai dan tabib. Tentunya penghasilan mereka bukanlah subyek persepuluhan.

Lalu, Yesus saja yang sebagai Gembala Agung (Bos Besar dari semua gembala sidang gereja-gereja di dunia) tidak berani menyatakan diri-Nya sebagai orang Lewi lalu memungut persepuluhan dari seluruh pengikutnya, begitu juga para rasul-Nya. Ironisnya, sekarang ini justru banyak gembala sidang gereja-gereja di dunia ini mengaku-ngaku (atau merasa sebagai) orang Lewi yang berhak menarik persepuluhan? Dalam bentuk uang pula! Dari mana ayatnya? Alkitab versi apa?

Kiranya menjadi jelas bahwa Yesus dan para rasul-Nya tidak mempraktekkan persepuluhan. Pertanyaannya, kenapa justru banyak orang lebih percaya kepada para hamba Tuhan yang mengintimidasi mereka untuk memberikan persepuluhan? Mereka sebenarnya justru harus lebih percaya kepada Yesus dan para rasul-Nya ketimbang para hamba Tuhan yang mengintimidasi tersebut.

 

Hukum Taurat Yang Dibatalkan
Ada perbedaan pendapat yang sangat mendalam di kalangan orang percaya tentang apakah Taurat sudah dibatalkan ataukah masih berlaku. Mereka yang berpendapat bahwa Taurat itu masih berlaku biasanya menggunakan ayat-ayat ini untuk mendukung pendapatnya:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakanhukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”  (Matius 5:17-18)

Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal. (Lukas 16:17)

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa Taurat itu sudah dibatalkan biasanya menggunakan ayat ini sebagai pendukungnya:

Sebab dengan mati-Nyasebagai manusia ia telah membatalkanhukum Taurat dengan segalaperintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera. (Efesus 2:15)

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes(Lukas 16:16a)

Menariknya, Yesus juga mengatakan yang “bertolak belakang” dengan yang dikatakanNya sendiri di Lukas 16:16a:

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Matius 5:19-20)

Apakah Yesus “plin-plan” dan membuat orang jadi bingung? Hukum Taurat sudah tidak berlakukah atau masih? Tidak, Yesus tidak “plin-plan”. Yesus dilahirkan sebagai orang Yahudi dari suku Yehuda yang selama hidupnya taat kepada hukum Taurat. Dia disunat fisik di usia delapan hari (Lukas 2:21). Ketika sembuhkan orang  kusta, Dia juga meminta orang yang disembuhkan-Nya itu untuk memperlihatkan dirinya kepada imam dan mempersembahkan persembahan seperti yang diatur hukum Taurat (Matius 8:4). Jadi jelas, kedatangan Yesus tidak untuk meniadakan hukum Taurat karena Dia justru taat dan tunduk kepada hukum Taurat.

Kedatangan Yesus ini untuk menggenapi hukum Taurat seperti yang disebutkan di akhir Matius 5:17 (“untuk menggenapinya”, yang dalam versi King James adalah “to fulfil”). Itu juga disebutkan sekali lagi di akhir Matius 5:18 (“sebelum semuanya terjadi”, yang dalam versi King James adalah “till all be fulfiled”). Kata “to fulfil” bahasa aslinya adalah “pleroo” yang artinya menggantikan sepenuhnya/mengakhiri/menyelesaikan, sedangkan kata “be fulfiled” bahasa aslinya adalah “ginomai” yang  artinya untuk diakhiri/ diselesaikan/dilaksanakan).

Apa artinya itu? Semua konsekuensi ketidak-taatan manusia atas hukum Taurat yang mendatangkan kutuk digenapi Yesus di kayu salib. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). Kalau kita sudah ditebus dari kutuk hukum Taurat maka kita tidak terikat lagi dengan hukum Taurat dan hukum Taurat tidak berkuasa dan tidak berlaku lagi atas kita, alias dibatalkan karena semuanya telah diselesaikan Yesus.

Kalau Matius 5:18 dipadu-padankan dengan Lukas 16:17 secara kesatuan berarti satu titik pun dari hukum Taurat tidak akan ditiadakan kecuali digenapi Yesus atau langit dan bumi lenyap. Penggenapan hukum Taurat sudah dilaksanakan Yesus di kayu salib, jadi tanpa menunggu langit dan bumi lenyap hukum Taurat dan semua konsekuensi kutuknya batal. Jadi kedatangan-Nya memang bukan untuk meniadakan, tetapi untuk menggenapi hukum Taurat. Kematian-Nya di kayu salib telah menggenapi tuntutan hukum Taurat dalam diri-Nya dan sekaligus telah membatalkan aturan hukum Taurat bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Artinya, bagi orang percaya segala aspek formal hukum Taurat tidak berlaku lagi.

Pertanyaan yang tersisa adalah bagaimana tentang Matius 5:19? Karena Yesus berkata bahwa barangsiapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat akan menduduki tempat paling rendah di Kerajaan Sorga, sedangkan yang mengajarkan segala perintah hukum Taurat akan ditempatkan di tempat tertinggi di Kerajaan Sorga.

Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi mentaati hukum Taurat secara tersurat, tetapi esensi hukum Taurat yang tersirat (makna sejati hukum Taurat) justru diabaikan. Ambil contoh ketaatan mereka memberikan persembahan persepuluhan yang diatur hukum Taurat.  Di Matius 23:23 Yesus memarahi sambil menyindir ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang mentaati hukum Taurat yang tersurat (memberikan persembahan persepuluhan), tetapi esensi tersirat dari tindakan memberi persembahan persepuluhan (keadilan, belas kasihan dan kesetiaan) justru diabaikan.

Berzinah yang diatur secara tersuratdi hukum Taurat esensinya secara tersiratdijelaskan Yesus di Matius 5:27-28. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mentaati larangan berzinah secara tersurat: tidak berzinah secara fisik. Tetapi, esensinya yang dijelaskan Yesus justru sering dilanggar: memandang perempuan serta menginginkannya. Esensi-esensi hukum Taurat seperti inilah yang perlu diperhatikan karena sangat terkait dengan nasib seseorang di Kerajaan Sorga.

Terakhir, bagaimana soal perkataan Yesus yang menyatakan bahwa siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah hukum Taurat akan menduduki tempat tertinggi di dalam Kerajaan Sorga?  Apakah ini berarti kita harus melakukan dan mengajarkan hukum Taurat yang terdiri dari 613 mitzvot (peraturan/ketentuan) itu? Tidaklah demikian.  Yesus mengajarkan dua hukum dimana pada kedua hukum inilah tergantung SELURUH hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:37-40): “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Pengimplementasian kedua hukum itulah yang mencerminkan apakah seseorang sungguh-sungguh mengajarkan dan melakukan segala hukum Taurat.

Dengan demikian, jika kita setia mempraktekkan esensi hukum Taurat – yang justru diabaikan orang-orang ahli Taurat dan orang-orang Farisi – serta setia mengimplementasikan hukum kasih yang dijelaskan oleh Tuhan Yesus di Matius 22:37-40, maka jelas hidup keberagamaan (mentaati hukum Taurat) kita akan lebih benar dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi seperti yang dikehendaki Yesus di Matius 5:20.

Berikut adalah ayat-ayat lainnyayang berhubungan dengan batalnya hukum Taurat:

Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat (Roma 3:19a)

 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia (Roma 6:14)

Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. (Roma 7:4)

Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat (Roma 7:6)

Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat (Galatia 2:16)

Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus. (Galatia 2:21)

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13)

Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. (Galatia 3:24-25)

Tetapi setelah genap waktumya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. (Galatia 4:4-5)

Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia (Galatia 5:4)

Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. (Galatia 5:18)

Dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib (Kolose 2:14)

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya (Yakobus 2:10)

Sampai sekarang satu iota atau satu titik pun dari hukum Taurat itu tidak ditiadakan atau dihapus dari kitab-kitab Perjanjian Lama yang masih bisa kita baca dan pelajari lengkap, tapi sudah tidak berlaku lagi bagi orang percaya. Jika masih ada yang menyatakan bahwa hukum Taurat tidak batal seperti di Lukas 16:37, maka benarbahwa hukum Taurat memang tidak batal untuk orang-orang Yahudi yang tidak mengakui Yesus sebagai Mesias. Mereka tetap terikat dan tunduk kepada hukum Taurat dengan segala kutuknya. Jadi berbahagialah kita yang sudah tidak terikat oleh hukum Taurat dan ditebus dari segala kutuknya oleh karena kematian Yesus di kayu salib (Efesus 2:15, Galatia 3:13, Kolose 2:14).

Tetapi, bagaimana dengan 10 Perintah Allah (Ten Commandments) atau hukum moral umum yang disebutkan di Keluaran 20 dan Ulangan 5? Apakah sekarang kita boleh mencuri, membunuh, berzinah, berdusta dan lain-lain yang dilarang oleh 10 Perintah Allah? Tentu tidak! Ten Commandments atau Dekalog (δέκα λόγοι)adalahsumber hukum Taurat.Perintah-perintah itu kekaldan diajarkan kembali oleh Yesus. Berzinah didefinisikan lebih lagi: seorang laki-laki melihat perempuan dan mengingininya maka ia sudah berzinah dengan perempuan itu di dalam hatinya. Orang yang membenci saudaranya saja dianggap membunuh. Dan seterusnya. Ajaran-ajaran Yesus membuat Taurat yang legalitas menjadi sesuatu yang batiniah.

Pertanyaannya, jadi Taurat mana yang dibatalkan dengan kematian Yesus di kayu salib? Pertama-tama, pada waktu itu orang-orang Israel harus taat kepada hukum agama atau Taurat ini yang dissebut Dekalog(yang kemudian lebih umum disebut hukum Taurat, dan Taurat atau Torah (תּוֹרָה)itu artinya hukum). Kemudian, selainDekalog yang sudah disebutkan di atas ada juga Chukim dan Mishpatim yang bersumber pada Dekalog.

 Chukim itu adalah aturan-aturan baku dari hukum Taurat yang mengatur tata cara ibadah, persembahan, makanan yang haram/halal, cara berpakaian dan lain-lain. Sedangkan Mishpatimitu adalah aturan-aturan baku hukum Taurat yang mengatur tata kehidupan sosial dan moral orang Israel. Nah, Chukimdan Mishpatimdi Kitab Taurat (5 Kitab Musa atau Pentateukh: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), yang totalnya ada 613mitzvotinilah yang dibatalkan. Karena sesungguhnya 613 mitzvot itu bukanlah inti atau makna sejati dari Taurat melainkan hanyalah aspek normatif Taurat yang terkait situasi dan kehidupan sosial budaya masyarakat pada masa itu.

Pada masa itu, selain orang Yahudi ada juga orang-orang non-Yahudi (Gentiles) yang hidup di Israel. Menurut Taurat: haram hukumnya jika orang Yahudi menikah dengan orang non-Yahudi (Ulangan 7:3); pada tahun penghapusan hutang (tahun sabat/tahun Yobel) hutang sesama orang Yahudi harus dihapuskan, tetapi hutang orang non-Yahudi harus tetap ditagih (Ulangan 15:3); orang Yahudi tidak boleh melakukan kerjasama dengan orang non-Yahudi (Keluaran 23:32); dan masih banyak lagi.

Singkatnya, Taurat hanya untuk orang Israel/ Yahudi:

Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. (Maleakhi 4:4)

Karena berdasarkan Taurat, orang Yahudi itu lebih tinggi kelasnya dari orang non-Yahudi, maka Maka jika Chukim danMishpatim tidak dibatalkan seperti  di Efesus 2:15, kedua kelompok orang itu (Yahudi dan non Yahudi) tidak akan dapat hidup bersama dan tidak dapat bersatu menjadi satu manusia baru di dalam Kristus (bandingkan Rom. 2:12-12, 3:8,29). Karena Yesus datang untuk semua orang, baik untuk orang Yahudi dan non-Yahudi, maka tembok hukum Taurat – Chukim dan Mishpatim –  yang memisahkan mereka harus dibatalkan.

Apakah dengan demikian maka Perjanjian Lama tidak berlaku lagi? Tidak! Perjanjian Lama itu tidak semuanya bicara tentang hukum saja, tapi juga soal penciptaan dunia, sejarah manusia dan keturunannya (Adam-Hawa, Abraham, Ishak, Yakub dan sebagainya), sejarah raja-raja dan nabi-nabi, menjelaskan tentang kebesaran Tuhan, pujian dan penyembahan, mazmur, hikmat, nubuatan, simbol simbol, dan lain-lain.

Banyak yang bisa kita petik dari Perjanjian Lama: pelajaran  dari kesalahan orang-orang pada jaman itu agar tidak kita ulangi lagi (1 Kor 10:1-11); dengan  belajar hukum yang ada maka kita akan mengenal Tuhan lebih lagi, mengenal Kristus melalui tipologi yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Kita dapat pelajaran-pelajaran penting dalam Perjanjian Lama tentang bagaimana Tuhan berurusan dengan manusia; karena cara Tuhan berurusan dengan manusia berbeda-beda, waktu kejatuhan manusia di taman Eden, waktu jaman Nuh, dan sebagainya.

Sesuai Mishpatim, bagi orang Yahudi yang memukul/mengutuki ayah atau ibunya harus dihukum mati (Keluaran 21:15, 17). Di sini juga diatur tentang nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, bengkak ganti bengkak, dan seterusnya (Keluaran 21:23-25). Pencuri yang tertangkap tangan sebelum matahari terbit boleh dibunuh (Keluaran 22:2). Orang Yahudi yang berzinah dengan binatang harus dihukum mati (Keluaran 22:19). Dan masih banyak lagi.

Sesuai Chukim, orang-orang Yahudi diharuskan melakukan persembahan persepuluhan (Imamat 27:30-34; Bilangan 18:21, 24, 26, 28; Ulangan 4:1; Ulangan 12:6, 11, 17-18; Ulangan 14:22-29; Ulangan 26:12), persembahan korban bakaran (Keluaran 29:18), persembahan pentahbisan (Keluaran 29:22), persembahan unjukan (Keluaran 29:24), persembahan curah (Keluaran 37:16), persembahan korban sajian (Imamat 2:4), persembahan hasil pertama (Imamat 2:12), persembahan korban keselamatan (Imamat 3:1), persembahan korban penghapus dosa (Imamat 4:32) dan persembahan-persembahan lainnya. Semua orang Yahudi dilarang memakan daging babi, kelinci, dan segala yang hidup di air yang tidak bersirip atau bersisik seperti kepiting, belut dan lintah laut, begitu juga katak dan siput (Imamat 11:1-47). Mereka juga dilarang menggunakan pakaian yang terbuat dari campuran dua jenis bahan, misalnya katun dan polyester (Imamat 19:19). Teknologi tumpang sari – menanam 2 jenis tanaman di sebuah ladang – juga dilarang (Imamat 19:19). Anak laki-laki Yahudi yang bandelsekalidan membangkang kepada orang tuanya harus dirajam sampai mati oleh orang-orang sekotanya (Ulangan 21:18-21). Orang Yahudi yang berzinah harus dibakar sampai mati (Imamat 20:14). Dan masih banyak lagi.

Nah, kalau kita kembali ke persembahan persepuluhan yang diatur oleh hukum Taurat maka jelas itu sudah dibatalkan. Jika ada yang menyatakan itu belum batal, maka minta ia juga konsisten melakukan persembahan-persembahan lain yang juga diatur hukum Taurat seperti yang sudah disebutkan di atas. Minta ia juga konsisten tidak makan daging-daging yang diharamkan dan tidak pakai pakaian yang diharamkan  hukum Taurat. Minta ia serahkan anak laki-lakinya yang membangkang terhadapnyauntuk dirajam sampai mati oleh orang-orang sekotanya.

Meminta jemaat untuk tetap melakukan persembahan persepuluhan yang diatur oleh hukum Taurat sangatlah janggal karena dari zaman Perjanjian Lama hukum Taurat juga tidak diperuntukkan buat orang-orang non-Yahudi. Bahkan orang-orang non-Yahudi dilarang memberikan persembahan makanan seperti halnya persembahan persepuluhan yang juga merupakan persembahan makanan seperti yang sudah kita bahas sebelumnya:

Juga dari tangan orang asingjanganlah kamu persembahkan sesuatu dari semuanya itu sebagai santapan Allahmu, karena semuanya itu telah rusak dan bercacat badannya; TUHAN tidak akan berkenan akan kamu karena persembahan-persembahan itu. (Imamat 22:25)

Selainitu, yang dilakukan para rasul memperjelas bahwa bagi orang percaya hukumTauratsudah dibatalkan sesuai Efesus 2:15.Hal ini dapat Anda baca sendiri di Kisah Para Rasul 15:1-29 di mana dikisahkan orang-orang Kristen Yahudi menuntut orang-orang Kristen non-Yahudi untuk tetap disunat seperti yang diatur oleh hukum Taurat.Tetapi, Paulus dan Barnabas membantah pendapat mereka. Rasul-rasul dan penatua-penatua bersidang dan memutuskan bahwa tuntutan orang-orang Kristen Yahudi itu tidak berlaku untuk orang-orang Kristen non-Yahudi.

Oleh karena itu tambah jelaslah bahwa persembahan persepuluhan semakin sudah tidak relevan lagi untuk umat perjanjian baru.  Selain itu, kita juga sudah dingatkan bahwa: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yakobus 2:10). Orang Yahudi yang, misalnya, menuruti 613 ketetapan hukum Taurat itu tapi tidak taat dengan satu ketetapan hukum Taurat saja dinyatakan bersalah, apalagi Anda yang hanya taat kepada satu ketetapan hukum Taurat saja (persembahan persepuluhan).

 

Persembahan Jemaat Mula-mula
Apa yang Perjanjian Baru ajarkan ialah memberi persembahan dengan berbagi dan tanpa ikatan, yang tujuannya  adalah kesukarelaan/ kemurahan hati ketimbang membayar pajak. Yohanes lebih lanjut menuliskan bahwa persembahan adalah buah yang alami dan bukti dari kasih(1 Yoh. 3:16-18).

Paulus sebenarnya bisa saja seperti Nehemia yang ketika menghadapi kekurangan/masalah atas kebutuhan pelayanan yang tidak didapatkannya dari para jemaatnya lalu memarahi mereka karena tidak memberikan persembahan persepuluhan, atau bahkan seperti Maleakhi yang mengutuki orang-orang karena tidak memberikan persembahan persepuluhan. Tetapi, Paulus JUSTRU mengajarkan jemaat mula-mula untuk memberikan dengan sukarela:

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7)

Kalau kita baca dan teliti lebih dalam lagi tentang persembahan jemaat mula-mula di Kisah Para Rasul 4:32-37, maka kita akan takjub melihat betapa jemaat mula-mula itu sehati dan sejiwa. Sesuatu dari kepunyaannya menjadi kepunyaan bersama. Tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka. Jika ada yang menjual tanah atau rumah kepunyaannya, maka hasil penjualan itu diletakkan di depan kaki rasul-rasul lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Menariknya, ada seseorang yang bernama Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas. Ia adalah seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladangnya dan uang penjualannya diletakkannya di depan kaki rasul-rasul sesuai kesepakatan (Kisah Para Rasul 4:36-37). Dari contoh ini saja jelas bahwa yang dilakukan oleh jemaat mula-mula bukanlah persembahan persepuluhan, karena di dalam persembahan persepuluhan orang Lewi seperti Yusuf ini justru menjadi orang yang menerima persembahan bukan justru memberikan hartanya untuk orang lain. Jelas jemaat mula-mula tidak mempraktekkan persepuluhan.

 

Praktek Persepuluhan Gereja Mula-mula
Seperti yang sudah kita lihat dan ketahui pada pembahasan sebelumnya, sejak masa kehidupan Yesus dan kedua belas rasul tidak mempraktekkan persembahan persepuluhan. Ini jelas tidak pernah diceritakan apalagi dikhotbahkan di gereja-gereja yang mempraktekkan persepuluhan. Yesus, meski sebagai orang Yahudi, tidak mempersembahkan persepuluhan. Sebagai anak tukang kayu dan bekerja pada ayahnya sebelum akhirnya memberitakan firman dengan kedua belas muridnya, Yesus jelas bukan sebagai orang Yahudi pemilik tanah garapan dan/atau ternak yang hasilnya menjadi obyek persembahan persepuluhan sesuai dengan hukum Taurat untuk orang Lewi, janda, anak yatim dan orang asing (ajaran Kristen modern menekankan persepuluhan hanya untuk orang Lewi, padahal janda, anak yatim dan orang asing juga penerima persembahan persepuluhan – Ulangan 26:12).

Kedua belas murid Yesus juga bukan pemilik tanah garapan dan/atau ternak. Lukas adalah seorang tabib/dokter, Matius adalah mantan pemungut cukai, Paulus adalah  seorang farisi dan mantan penganiaya murid-murid Yesus dan yang lain-lainnya ada juga sebagai nelayan. Oleh karena itu, tidak ada satu pun dari kedua belas murid Yesus yang mempraktekkan persembahan persepuluhan, karena penghasilan mereka bukanlah obyek untuk persembahan persepuluhan.

Juga karena bukan sebagai orang-orang Lewi, Yesus dan kedua belas rasul tidak berhak menarik persembahan persepuluhan dari para pengikut-Nya. Dari sejak kematian Yesus sampai masa Kekristenan diakui sebagai sebuah agama resmi negara, kebanyakan pemimpin-pemimpin besar gereja hidup dalam kemiskinan.Kehidupan mereka dilandasi oleh semangat tidak mencari kekayaan dari pemberitaan firman. Mereka memberitakan firman dengan dana seadanya dan dari sumbangan sukarela dari para jemaat. Tidak pernah diceritakan di Perjanjian Baru bahwa Rasul Paulus dan lain-lainnya memberitakan firman dengan menarik persembahan persepuluhan sebagai sumber dana pemberitaan firman. Bahkan Rasul Paulus sampai menjadi tukang kemah/tenda yang hasilnya dipakai untuk pemberitaan firman (Kisah Para Rasul 18:3).

Cikal bakal persembahan persepuluhan mulai ditarik (baca: ditagih) kembali di kehidupan gereja mula-mula tercatat dimulai pada abad ke 3 oleh St. Cyprian. Thascius Caecilius Cyprianus (St. Cyprian) lahir sekitar tahun 200 di Carthage, Afrika Utara. Ia berasal dari keluarga kaya, dan ketika dia bertobat ia menjual seluruh kekayaannya dan menjadi pemberita firman yang hidup dalam kemiskinan. Ia lalu menjadi Bishop pada tahun 249 dan mati sebagai martir di Carthage pada 14 September 258. Cyprian-lah yang mula-mula mengaktifkan kembali persepuluhan dan itu dalam bentuk uang. Dia melakukan itu bukanlah untuk memperkaya diri, melainkan untuk mendukung pelayanan pemberitaan firman dan juga untuk mendukung para pemberita firman yang hidup dalam kemiskinan seperti dirinya. Meski tujuan Cyprian adalah mulia, tetapi pengaktifan kembali dan penarikan persembahan persepuluhan dalam bentuk uang itu tidaklah Alkitabiah dan itu pun hanya dijalankan di Afrika Utara.

Ketika Constantine The Great, Kaisar Roma, bertobat di abad ke 4 segera terjadi perubahan besar dan gelombang Kristenisasi melanda seluruh Eropa. Gereja-gereja didirikan, imam-imam diangkat dan ditahbiskan. Institusi Gereja kemudian lahir dan menentukan bahwa gaji kependetaan diambil dari persembahan-persembahan jemaat termasuk persepuluhan.

Jelas persepuluhan tidak dipraktekkan di gereja mula-mula, tetapi secara perlahan-lahan menjadi suatu kebiasaan. Council of Toursdi tahun 567 dan Council of Macon kedua tahun 585 di Perancis mendukung persepuluhan, tetapi itupun tidak diterima/diadopsi secara meluas. Persepuluhan barulah dibuat sebagai kewajiban oleh hukum sipil di kerajaan Carolingian pada tahun 765.

Sekitar tahun 800-an persepuluhan menjadi semacam kewajiban yang harus dibayarkan oleh jemaat dan menjadi sumber utama subsidi pembangunan katedral-katedral megah di Eropa. Persepuluhan yang merupakan ketetapan hukum Taurat yang pada masa Perjanjian lama ditarik kemudian diadopsi oleh gereja-gereja Kristen dimana orang awam menyumbangkan sepersepuluh dari pendapatan mereka untuk tujuan agama yang dijadikan sebagai suatu kewajiban di bawah hukum gerejawi.

Meski ditentang dan mendapatkan perlawanan serius dari kalangan jemaat awam dan juga kelompok masyarakat Kristen, persepuluhan lalu menjadi sesuatu yang wajib dalam agama Kristen yang menyebar pesat di seluruh Eropa. Persepuluhan diperintahkan oleh hukum gereja dari mulai abad 6 seperti yang dijelaskan di atas, lalu oleh hukum sekuler mulai dari abad 8. Di Inggris pada abad ke 10 sesuai keputusan hukum Gerejawi oleh Edmund I persepuluhan wajib dilakukan dan kemudian di bawah hukum temporal oleh Edgar. Pada abad 14 Paus Gregorius VII menyatakan hanya gereja-lah yang berhak menerima persepuluhan, orang awam/jemaat tidak berhak menerimanya.

Kemudian secara bertahap mulai muncul perlawanan terhadap praktek persepuluhan. Persepuluhan dicabut di Perancis selama revolusi (1789) dan diikuti beberapa negara Eropa lainnya. Persepuluhan diakhiri di Italia pada tahun 1887, kemudian persepuluhan juga dihapuskan di Irlandia pada saat goncangnya kekuasaan gereja Anglikan pada tahun 1871, dan secara bertahap praktek persepuluhan juga mati perlahan-lahan di gereja-gereja Skotlandia.

Di Inggris pada tahun 1836 persepuluhan dihidupkan kembali untuk pembayaran biaya sewa gedung. Metode baru sistem perpajakan dikembangkan di negara-negara yang memberikan dukungan keuangan pada gereja di luar dana pemerintah. Sisa-sisa sistem persepuluhan masih ada di Belanda dan Jerman. Di sana warga  harus membayar pajak gereja kecuali mereka resmi meninggalkan keanggotaan jemaat Gereja.

Gereja Yesus Kristus Dari Orang-orang Suci Zaman Akhir atau Gereja Mormon serta Gereja Advent mewajibkan persepuluhan. Gereja-gereja Kristen lainnya menjalankan persepuluhan secara sukarela. Gereja-gereja Ortodoks tidak pernah setuju dengan persepuluhan dan tidak pernah menjalankan persepuluhan. Gereja-gereja Pantekosta yang gerakannya dimulai pada tahun 1900 kembali mempraktekkan persepuluhan di Gereja.

Itulah sejarah singkat praktek-praktek persepuluhan di gereja mula-mula yang juga bisa dibaca di Encyclopedia Britannica, EncyclopediaAmericanadanRoman Catholic Encyclopedia.

Ada sebuah catatan menarik di sini. Setelah Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi di bawah pimpinan Jendral Titus (kelak menjadi Kaisar Romawi) pada tahun 70 M maka praktis praktek persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan korban lainnya yang biasanya dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Bait Allah itu terhenti sampai sekarang ini. Ini karena tempat yang ditentukan oleh firman Tuhan untuk melakukan ritual-ritual persembahan itu sudah tidak ada lagi.

Jadi, orang-orang Yahudi saja yang tidak mempercayai Yesus dan masih terikat oleh hukum Taurat untuk melakukan persembahan persepuluhan sudah tidak mempersembahkan persepuluhan, mengapa orang-orang Kristen yang sudah dimerdekakan dari kutuk hukum Taurat harus dikembalikan ke ritual persembahan dengan segala konsekuensi kutuk Taurat? Oleh karena itu, sangatlah lucu dan mengada-ada jika orang Kristen yang sudah dibebaskan dari hukum Taurat masih harus ditakut-takuti akan terkutuk jika tidak memberikan persembahan persepuluhan. □□□□