“Untuk dapat membedakan apakah seseorang membawa pengajaran yang sehat atau tidak, sesat atau benar; kita harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab.”

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

APA ITU TEOLOGI?
Dalam arti sempit teologi dipahami sebagai ilmu tentang Tuhan. Tetapi dalam arti luas teologi adalah studi tentang keberadaan Allah, eksistensi pribadi-Nya, menyangkut karya-karya dan rencana-rencana-Nya untuk dipahami orang percaya sebagai pedoman atau kompas kehidupan. Dalam bahasan ini, teologi yang dimaksud adalah teologi Alkitab. Alkitab diyakini sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Di luar kebenaran Alkitab, kita tidak memercayainya sebagai kebenaran, maka kita sebut sebagai ateologi. Demikian pula pengajaran di lingkungan Kristen yang seakan-akan didasarkan pada Alkitab, tetapi salah mengartikannya maka itu juga digolongkan sebagai ateologi.

Kalau pengajaran salah di luar gereja dapat cepat kita kenali dan antisipasi, tetapi pengajaran di dalam lingkungan Kristen sendiri – yang mewartakan ajaran yang salah, dimana para pengajar diyakini sebagai “hamba Tuhan atau nabi Tuhan” – sulit dikenali. Padahal ini adalah “musuh dalam selimut” yang sangat berbahaya. Biasanya mereka tidak sadar bahwa mereka menjadi alat Iblis untuk membinasakan umat-Nya, dengan cara menyampaikan pengajaran yang salah tersebut. Mereka merasa telah dan sedang membela kebenaran, padahal mereka melawan kebenaran, sebab atelogi yang diwartakan.

Terdapatnya persepsi yang salah mengenai teologi mengakibatkan banyak orang percaya tidak belajar pengenalan akan Tuhan secara memadai. Hal ini berakibat sangat buruk bagi kehidupan orang percaya, sebab pengenalan akan Tuhan sangat menentukan kualitas iman, kehidupan rohani dan seluruh aspek kehidupannya. Persepsi-persepsi yang salah tersebut memandang teologi sebagai:

  • Ilmu yang sulit dipahami;
  • Barang eksklusif yang tidak ada di sembarang tempat.
  • Ilmu yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memiliki karunia khusus. Itulah sebabnya banyak orang yang sebenarnya sangat berpotensi untuk memahaminya, tidak berusaha belajar untuk memahaminya. Bila persepsi yang salah ini telah terlanjur diserap oleh jemaat, maka mereka mudah disesatkan.
  • Ilmu yang hanya diajarkan di sekolah Alkitab atau Sekolah Tinggi Teologi. Persepsi salah inilah yang mengakibatkan banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa sementara mereka mendengar khotbah atau mengikuti Pendalaman Alkitab, diskusi Alkitab dan berbagai kegiatan lain dimana Akitab dibuka, sebenarnya mereka sedang berteologi. Sejatinya, gereja adalah Sekolah Alkitab di mana teologi diajarkan secara maksimal. Semua kemampuan berteologi yang dimiliki seorang pimpinan jemaat harus diajarkan tanpa ragu-ragu dan dikurangi.
  • Hanya dipelajari oleh orang yang mau menjadi pendeta dan pembicara di mimbar.

Orang yang tidak belajar teologi, sehingga tidak memiliki pengenalan akan Tuhan secara memadai yang dapat mengubah hidupnya, adalah orang yang tidak bertanggung jawab atas kehidupannya.

Ada pula anggapan bahwa belajar teologi hanya menggunakan pikiran atau logika sehingga hati tidak tergarap. Bahkan ada sementara orang yang memberikan konotasi negatif terhadap teologi itu sendiri, karena mereka mengkaitkan teologi dengan ajaran yang “sedikit menyimpang dari kebenaran Alkitab”, “hanya menggunakan otak saja”, dan lain-lain. Berhubung ada orang-orang yang belajar teologi mengesankan keangkuhan dalam penampilannya, maka lahirlah persepsi bahwa teologi membuat seseorang menjadi sombong rohani seperti ahli Taurat.

 

KERASUKAN IBLIS
Sebagai akibat karena tidak bertumbuh dalam pengertian terhadap kebenaran Tuhan yang tertuang dalam Alkitab, maka banyak tindakan dan keputusan yang salah yang dilakukan orang percaya. Keputusan, pilihan dan tindakan yang salah akan mengarahkan hidup seseorang ke kerajaan kegelapan. Selain itu orang percaya tersebut akan menjadi bodoh di mata Tuhan, sebab kalau seseorang berhenti belajar kebenaran Firman Tuhan, maka pikiran Iblislah yang disuntikkan ke dalam jiwa orang tersebut. Iblis seperti singa yang berjalan keliling, artinya aktif berusaha terus menerus untuk dapat membinasakan manusia, yaitu dengan cara memasukkan filosofi yang bertentangan dengan kebenaran ke dalam pikiran mereka (Yoh. 10).

Pikiran Iblis sering tanpa disadari terinfus ke dalam diri seseorang tanpa orang itu menyadarinya. Alkitab mengajarkan bahwa Iblis bisa merasuk kehidupan seseorang tanpa orang itu menyadarinya, apalagi orang lain. Dalam kehidupan Petrus, ia tidak sadar bahwa ide dalam pikirannya adalah dari Iblis. Ia merasa sedang berpikir searah dengan Allah, bahkan merasa sedang berada di pihak Allah dan sedang membela-Nya (Mat. 16:21-23). Pikiran yang diindentifikasi oleh Tuhan Yesus sebagai Iblis dalam diri Petrus tersebut, merupakan akumulasi atau penumpukan dan pengumpulan dari pengertian yang telah diserap oleh Petrus lewat tahun-tahun yang panjang. Betapa mengerikan, kalau pembicara-pembicara Kristen yang tidak mengenal teologi yang benar memiliki banyak kesempatan mengajarkan “ajarannya” yang tidak sesuai dengan pikiran Tuhan.  Hal ini menciptakan orang-orang Kristen yang kerasukan Iblis, mereka adalah orang Kristen palsu.

Kalau seseorang memiliki pemahaman yang salah mengenai Tuhan dan kebenaran-Nya, maka berarti seseorang kerasukan Iblis.

Gejalanya bisa tidak kelihatan sama sekali. Tetapi kalau seseorang berjalan dalam Tuhan dan memiliki hikmat-Nya, maka ia dapat membedakan roh. Membedakan roh artinya bisa mengerti apakah suatu pilihan, keputusan, pikiran, ide, pendapat atau filosofi seseorang berasal dari Tuhan atau tidak. Oleh sebab itu setiap orang harus diajar mengenal Tuhan sejak dini.

Iblis telah menyusun siasat dengan segala usaha memenuhi pikiran anak manusia dengan pikiran atau ide-ide yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan. Hal itu sebagai upaya untuk menjerat manusia agar menjadi miliknya. Proses ini merupakan proses kerasukan setan secara permanen. Kalau seseorang kerasukan setan dengan gejala-gejala fisik yang kelihatan, Iblis mudah diusir dari padanya, tetapi kalau Iblis menguasai pola berpikir seseorang maka tidaklah mudah untuk memerdekakannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32).

Banyak orang yang kelihatannya baik-baik tetapi mereka adalah orang-orang terbelenggu yang tidak bisa lagi keluar dari ikatan kebodohan dalam pikiran mereka. Dalam tulisannya Paulus menyatakan bahwa pelayanannya adalah usaha mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Ia berusaha menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Kor. 10:5).

 

BUKAN SEKADAR TEORI
Kalau teologi yang benar diajarkan, maka teologi itu juga memuat tuntutan-tuntutan untuk dipenuhi, implikasi-implikasi yang harus menjadi fenomena riil kehidupan dan aplikasi-aplikasi yang harus diwujudkan dalam tindakan konkret. Jadi, tidaklah benar kalau orang berkata bahwa teologi hanya mengisi pikiran saja. Teologi macam apa yang tidak menuntut orang percaya menjadi pelaku? Sebab teologi adalah ilmu yang bersifat normative.

Teologi yang tidak menuntut orang percaya menjadi pelaku adalah ateologi.

Berteologi haruslah merupakan usaha untuk memenuhi apa yang dikatakan Firman Tuhan di dalam Roma 12:2. Berteologi bukan hanya bermaksud mengisi pikiran, tetapi merubah pikiran (methamorfoste), sehingga kehidupan orang tersebut tidak sama dengan dunia ini. Dan akhirnya menjadi sempurna seperti Bapa.

Oleh karena itu orang percaya harus memiliki komitmen untuk menjadi pelaku Firman-Nya. Firman yang dipelajari bukan untuk sekadar dipahami, tetapi harus diperagakan. Firman yang diperagakan akan menjadi milik abadi seseorang. Ini buah yang kekal yang dimaksud oleh Tuhan Tuhan Yesus (Yoh. 15:16). Seseorang bisa dikatakan berbuah bila kebenaran Firman Tuhan yang dipahami tersebut menyatu dalam jiwanya dan dapat diperagakan secara otomatis. Dalam hal ini orang percaya bisa bukan hanya bisa to do (melakukan), tetapi juga to be (menjadi) terhadap Firman-Nya.

Banyak gereja hari ini yang kurang menggiring umat untuk dipersiapkan menjadi umat yang layak bagi Kerajaan-Nya. Tekanan pemberitaan Firman selalu cenderung mengenai pemulihan jasmani (kesehatan, makan-minum, karir, studi dan lain sebagainya). Padahal dunia ini akan segera kita tinggalkan, Kerajaan Tuhan Yesus akan segera datang. Melalui pembaharuan pikiran umat Tuhan dipersiapkan menjadi umat yang layak bagi Dia.

Orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Bila kehidupan Kristen seseorang tidak luar biasa (Mat. 5:20), maka berarti ada yang salah dalam hidup Kekristenannya tersebut. Apa sebenarnya yang menentukan atau hal paling dominan berperan bagi pertumbuhan iman yang benar? Jawabnya adalah pengenalan akan Tuhan atau teologi melalui pemberitaan Firman. Harus diakui bahwa pemberitaan kebenaran bagi jemaat Tuhan merupakan hal yang utama dan penting dalam pelayanan gereja Tuhan. Hal ini diteguhkan oleh berita dalam Kisah Rasul 6:1-2, bahwa para rasul Tuhan perlu mengutamakan pelayanan pemberitaan Firman. Itulah sebabnya pelayanan diakonia perlu diserahkan kepada orang lain.

Jangan mengesankan kepada jemaat bahwa kurang mengenal Tuhan bukanlah masalah besar. Selama ini banyak pemberita Firman di mimbar yang memberi isyarat bahwa yang disebut dosa hanyalah membunuh, berzina, mencuri dan dosa umum lainnya. Sebenarnya bukan hanya dosa-dosa yang dilihat secara fisik yang dikategorikan kejahatan dan dapat mendatangkan kebinasaan, tidak mengenal Allah pun harus dikategorikan dosa yang mendatangkan kebinasaan. Ini berarti

Kemalasan belajar kebenaran Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab yang berdampak kebodohan adalah dosa yang sangat membahayakan.

 

PENGAJARAN YANG SEHAT
Pengajaran hasil pikiran manusia yang bercampur dengan pemikiran dari roh-roh jahat kadang melahirkan pengajaran yang logis atau wajar dan mudah diterima. Pengajar atau penafsirnya berpikir bahwa kesimpulan dari idenya adalah suara Roh Kudus atau sebuah penemuan yang lahir dari hikmat Tuhan. Kita harus waspada bahwa pikiran manusia dapat disesatkan oleh Iblis (2Kor. 11:2-3). Dengan kalimat lain dapat dijelaskan bahwa pikiran manusia atau idenya dapat menjadi kendaraan bagi pikiran atau rencana Iblis (Mat. 16:22-23). Dalam hal ini dapat ditemukan bahwa seorang pengajar atau pembicara di mimbar memiliki tanggung jawab dan pergumulan yang berat. Pertumbuhan rohani dan kualitas iman jemaat tergantung oleh isi pengajaran pembicara atau pengkhotbah dalam gereja. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa seorang guru atau pengajar dihakimi dengan ukuran yang lebih berat (Yak. 3:1).

 

Untuk dapat membedakan apakah seseorang membawa pengajaran yang sehat atau tidak, sesat atau benar, kita harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab.

Pengajar-pengajar palsu akan ditampilkan sebagai orang baik, lemah lembut, memiliki kuasa rohani dan lain sebagainya, dengan demikian ia dapat menyesatkan banyak orang. Oleh sebab itu setiap orang percaya harus dengan jeli selalu menguji roh seorang pemimpin jemaat, pembicara atau pengkhotbah dengan kebenaran Firman Tuhan. Hal ini disuarakan jelas oleh Yohanes dalam suratnya: “bahwa berhubung banyak nabi palsu pergi ke seluruh dunia maka orang percaya harus menguji setiap roh” (1Yoh. 4:1). Ciri-ciri dari ajaran sehat melalui pengajaran dapat dikenali melalui beberapa catatan di bawah ini.

  1. Pengajaran yang sehat menjunjung tinggi otoritas Alkitab dengan melakukan eksplorasi terhadap Alkitab.Hal ini menjadi dasar pengajaran atau doktrin Kristen. Ajaran yang sesat mengabaikan pendalaman Alkitab. Mengabaikan pendalaman Alkitab berarti: Pertama, menganggap untuk mengerti isi Alkitab itu hal yang gampang, atau dengan sembrono menafsirkan ayat-ayat Alkitab tanpa mau mengerti latar belakang Alkitab, teks asli Alkitab, prinsip menafsir dan lain sebagainya. Kedua, menampilkan pemikirannya tanpa mencari landasan yang mapan dalam Alkitab. Dengan cara inilah nabi palsu mengubah pengajaran. Pembicara atau pengkhotbah seperti ini biasanya menambah Alkitab dengan pemikiran manusia.
  2. Pengajaran yang sehat adalah pengajaran yang menekankan semua pokok yang diajarkan Alkitab.Sebaliknya, ajaran yang tidak sehat mengutamakan yang satu dan mengabaikan yang lain (1Tim. 4:9-11).
  3. Pengajaran yang sehat memayorkan apa yang mayor dan meminorkan apa yang minor.Menganggap utama apa yang utama dan memperlakukan apa yang tidak utama sebagai bukan utama.
  4. Pengajaran yang sehat mengajarkan Kekristenan sebagai jalan yang sukar. Harus diakui dewasa ini banyak pengajaran yang cenderung menawarkan Kekristenan sebagai jalan yang mudah. Kita harus menentang dengan tegas dan keras bila Kekristenan diajarkan sebagai jalan yang mudah. Kekristenan adalah jalan yang benar dan terbaik tiada duanya, tetapi bukan mudah. Kekristenan yang diajarkan sebagai jalan mudah dapat mengakibatkan orang-orang Kristen menjadi duniawi. Inilah penyebab kegagalan pelayanan. Banyak orang ke gereja dan setia dalam berbagai kegiatan gereja tetapi tetap hidup dalam “percintaan dunia”. Mereka akan binasa sebab tidak pernah mengasihi Tuhan.
  5. Pengajaran yang sehat mengajarkan bahwa Kekristenan bukanlah alat untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup dengan mudah.Kecenderungan untuk menyelesaikan segala masalah rohani secara instan (cepat dan segera) tanpa proses merupakan salah satu dampak dari pengajaran yang mengajarkan bahwa Kekristenan adalah jalan yang mudah.
  6. Pengajaran yang sehat adalah pengajaran yang berdampak memuliakan Tuhan Yesus, ini berarti mengaku Dia adalah Tuhan.
  7. Pengajaran yang sehat membuahkan kehidupan yang benar(Mat. 7:15-23). Buah di sini akan menunjukkan siapa dan bagaimana pengajarannya. Sering tanpa sadar seseorang terpengaruh dengan hal-hal lahiriah yaitu orang-orang yang berprestasi dalam pelayanan. Dengan mudah dan cepat orang menerima bahwa semua pengajarannya pasti benar. Harus diingat bahwa buah di sini juga menyangkut sikap batin manusia.
  8. Pengajaran yang benar akan membuat seseorang makin terlepas dari ikatan dosa dan dunia (materialisme). Inilah Kekristenan yang benar. Kekristenan yang benar adalah Kekristenan yang membawa manusia kepada kesempurnaan Kristus (Mat. 5:48).
  9. Pengajaran yang sehat menafsirkan teks Alkitab sesuai konteks. Kecenderungan menafsirkan ayat-ayat Alkitab dengan melepaskan diri dari latar belakang, konteks ayat sebelum dan sesudahnya dan teks aslinya, adalah ciri dari pengajaran yang sesat.
  10. Pengajaran yang sehat mengobarkan gairah surgawi. Tidak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini terdapat kecenderungan yang salah. Kecenderungan menerima dan mempraktikkan semangat duniawi dan materialisme, dimana segala sesuatu diukur dengan materi. Ajaran yang benar menciptakan naluriah surgawi atau rohani sehingga ukuran berkat dan sukses seseorang adalah “berkenan di hadapan-Nya”.