Pdt. Dr. Erastus SabdonoKetua Umum Sinode GSKI

Setiap orang memiliki peta atau pola berpikir. Peta ini terbangun dari paling tidak tiga hal, pertama,pengalaman hidup, yaitu reaksi inderanya terhadap peristiwa-peristiwa kehidupan. Kedua, berbagai filosofi hidup yang diserapnya. Ketiga, gen yang dimiliki masing-masing individu dengan karakteristiknya yang khusus dan khas. Siapa kita hari ini adalah akumulasi dari pengalaman masa lalu. Melihat hidup seseorang, maka kita dapat melihat masa lalu atau perjalanan hidupnya dan gen yang diwariskan dari nenek moyang.

Tidak dapat dibantahbahwa pikiran seseorang sangat berperan dalam kehidupan. Pikiranlah yang menciptakan atau menetapkan standar hidup, dan seseorang akan terus bergerak sepanjang waktu untuk mencapai standar hidup tersebut. Pada umumnya manusia ingin mencapai apa yang juga dicapai oleh manusia di sekitarnya.Pikiran bisa menjadi tempat di mana Iblis dapat memiliki akses atau jalan untuk menguasai kehidupan seseorang dan melaksanakan kehendaknya. Bila hal ini terjadi maka kehendak Allah dan rencana-Nya dijauhkan dari kehidupan orang tersebut. Itulah sebabnya Paulus menasihati orang percaya agar tidak memberi “kesempatan” kepada Iblis (Ef. 4:27).

Dalam hal ini bukan tanpa alasan apabila Paulus takut kalau-kalau pikiran jemaat disesatkan oleh Iblis. Dalam tulisannya ia berkata: “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya”(2Kor. 11:2). Dari pernyataan ini jelas sekalibahwa dosa masuk melalui penyesatan dalam pikiran, demikian juga penyesatan dalam gereja terjadi melalui pikiran. Penyesatan tersebut melalui pengajaran yang disebarkan melalui khotbah yang tidak diangkat dari penafsiran yang benar. Pengajaran-pengajaran tersebut dikemas menjadi doktrin, diakui sebagai Firman Tuhan atau sejajar dengan Firman Tuhan. Pengajaran hasil pikiran manusia yang bercampur dengan pemikiran dari roh-roh jahat memang melahirkan pengajaran yang logis dan mudah diterima, seolah-olah adalah Firman Tuhan. Pengajarnya berpikir bahwa kesimpulan dari idenya adalah suara Roh Kudus atau sebuah penemuan yang lahir dari hikmat Tuhan, padahal bukan. Hal ini sangat mengerikan. Orang percaya harus waspada bahwa pikiran manusia dapat disesatkan oleh Iblis. Pikiran atau ide manusia dapat menjadi kendaraan pikiran atau rencana Iblis.

Landasan pola berpikir manusia hari ini pada umumnya bukan Kerajaan Tuhan, tetapi kepentingan duniawi. Inilah orang-orang yang telah termakan bujukan kuasa dunia.Ciri orang yang terkena bujukan Iblis adalah mengutamakan dan menghargai segala sesuatu yang ada dalam hidup hari ini lebih dari menghargai Tuhan. Inilah logika duniawi. Logika duniawi adalah pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini, yaitu hal-hal yang kelihatan (Yun. blepomena:which are seen), yang bernilai sementara (Yun. pros kaira: temporal, for a season, for the occasion only; hanya semusim, sesaat).Sebaliknya, seorang yang menolak logika duniawi adalah seorang yang memiliki kualitas batiniah yang baik. Berbicara mengenai batiniah itu berarti berbicara mengenai kualitas keimanan seseorang dalam relasinya dengan Tuhan.

Gereja tidak boleh terjebak seperti kebiasaan banyak gereja yang hanya mempromosikan kuasa Tuhan sebagai solusi kehidupan yang sukar. Mereka tidak memperhatikan misi utama yaitu “mengajarkan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan”. Gereja harus tetap dalam misi yang benar yang Tuhan ajarkan. Gereja adalah utusan Tuhan untuk melaksanakan rencana Bapa; seperti Bapa mengutus Tuhan Yesus, demikianlah Tuhan Yesus mengutus orang percaya (Yoh. 20:21). Dalam hal ini orang percaya harus menemukan tugas sebagai seorang utusan, yaitu bukan saja menceritakan tentang kabar keselamatan dalam Yesus Kristus dengan kata-kata, tetapi juga menerjemahkan Injil dalam perbuatan.

Sangatlah logis kalau di dalam dunia yang semakin sulit karena berbagai krisis ini, orang berbondong-bondong ke gereja untuk menemukan jalan keluar dari segala persoalan hidup fana. Persoalan hidup fana tersebut antara lain problem kesehatan, ekonomi, karir, rumah tangga, jodoh dan lain sebagainya. Jika dunia mengalami banyak kesulitan, orang mencari agama sebagai solusinya. Hal ini harus dipandang sebagai peluang yang sangat baik untuk memberitakan Injil dan menangkap jiwa-jiwa masuk ke dalam Kerajaan Tuhan. Inilah gandum menguning yang siap dituai.

Dan kenyataannya,tidak sedikit yang menemukan jalan keluar dari berbagai masalah hidup tersebut. Dari pihak gereja tentu menyediakan pelayanan holistik yang melibatkan berbagai bentuk bantuan, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan umum, penyuluhan pertanian, perikanan dan lain sebagainya. Tetapi apakah sampai di sini keselamatan itu? Apakah ini Injil sepenuh? Hanya untuk inikah pelayanan Gereja? Mereka yang menerima solusi dari persoalan hidup fana tersebut masih dalam pola pikir yang belum diperbaharui atau belum ditransformasi, sebab pada umumnya mereka adalah orang-orang yang salah asuh (dunia yang sesat telah mengasuh mereka). Orang tua dan lingkungan dunia sekitar yang tidak mengenal kebenaran telah membentuk kepribadian mereka.

Setelah ditebus oleh darah Yesus, seseorang harus mulai memperkarakan: Untuk apa semua sukses yang diperoleh ini? Dan untuk siapa? Tentu tidaklah salah dapat menjadi dokter, pengusaha kaya, insinyur dan lain sebagainya, tetapi persoalannya adalah untuk siapa semua kesuksesan hidup yang didapat tersebut?  Sebab Tuhan telah membeli kita dengan darah yang mahal. Sekarang hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi milik Tuhan. Seharusnya seluruh hidup kita diabdikan sepenuhnya bagi Tuhan. Untuk mengerti tujuan hidup ini pikiran seseorang harus mengalami transformasi secara berkesinambungan.

Melalui transformasi inilah seseorang menemukan tempatnya di hadapan Tuhan untuk bersekutu dan mengabdi kepada Tuhan sepanjang hidup. Dalam hal ini betapa penting “pembaharuan pikiran setiap hari”. Dimana pelayanan pastoral dan pemberitaan Firman Tuhan adalah fasilitas transformasi, maka kualitas dan bobotnya haruslah meningkat makin baik. Hal ini disesuaikan dengan perjalanan umur rohani atau kedewasaan jemaat. Akhirnya, jemaat membutuhkan Tuhan bukan hanya karena mengharapkan perlindungan dan berkat Tuhan, tetapi terutama untuk menemukan tempat di hadapan Tuhan guna mengabdikan segenap hidup kepada-Nya.

Untuk proses trasformasi ini gereja harus mengajarkan kebenaran yang sesuai dengan tingkat usia gereja Tuhan di akhir zaman dan disertai dengan pertimbangan terhadap keadaan dunia yang semakin jahat. Pelayan-pelayan Tuhan tidak boleh puas dengan pengalaman dan prestasi pelayanan yang telah dicapai. Mereka harus terus bertumbuh dan belajar kebenaran Firman Tuhan untuk diajarkan kepada umat Tuhan, sebab inilah saatnya Tuhan menyempurnakan gereja-Nya. Sarana untuk menyempurnakan gereja-Nya adalah melalui kebenaran Firman Tuhan. Maka gereja harus dilengkapi dengan pelayan-pelayan Firman yang menyampaikan Firman Tuhan yang murni. Bukan pelayan pikiran sendiri yang disertai dengan pengalaman-pengalaman pribadinya.

Setelah menjadi anak Tuhan, pikiran seseorang harus terfokus pada pencapaian kesempurnaan karakter seperti Kristus. Di tengah kesibukan mencari nafkah dan segala tanggung jawab hidup, maka menempatkan diri sebagai murid haruslah menjadi hal yang utama. Tujuan akhir dari kehidupan seorang anak Tuhan adalah hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela. Orang percaya dipanggil Tuhan memang hanya untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela (Efs. 1:3). Inilah maksud utama mengapa Allah memilih orang percaya, yaitu untuk mempersiapkan bagi diri-Nya menjadi umat yang layak.