Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Pendidikan Teologi Yang Menghasilkan Transformasi Hidup Melalui Pembentukan Kerohanian – Magazine Sinode GSKI

Sebelum membahas judul di atas, perlu dibedah dulu pengertian beberapa kata dalam kalimat judul agar dapat diperoleh ketajaman analisis terhadap tema tersebut. Pertama yang harus dipahami adalah apa yang dimaksud dengan teologi. Dalam arti sempit teologi dipahami sebagai ilmu tentang Tuhan. Tetapi dalam arti luas teologi adalah studi tentang keberadaan Allah, eksistensi pribadi-Nya, menyangkut karya-karya dan rencana-rencana-Nya untuk dipahami orang percaya sebagai pedoman atau kompas kehidupan. Dalam bahasan ini, teologi yang dimaksud adalah teologi Alkitab. Alkitab diyakini sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Adapun pendidikan teologi artinya usaha mengajarkan apa yang dikemukakan Alkitab mengenai keberadaan Allah, eksistensi pribadi-Nya, menyangkut karya-karya dan rencana-rencana-Nya agar orang percaya menjadikannya sebagai pedoman atau kompas kehidupan.Dengan memberikan pendidikan teologi tersebut, orang percaya dapat menyelenggarakan hidupnya sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia. Dengan demikian manusia dapat menempatkan dirinya secara benar di hadapan Tuhan dan menempatkan Tuhan secara patut. Usaha ini juga disebut sebagai pembentukan kerohanian.

Pembentukan kerohanian terdiri dari dua kata, yaitu pembentukan dan kerohanian. Pembentukan menunjuk kepada suatu proses membangun suatu bentuk. Dalam konteks ini, pembentukan yang dimaksud adalah kerohaniannya. Kerohanian, dari kata rohani yang berarti sesuatu yang bersifat rohani. Kata rohani, berasal dari kata roh yang memiliki pengertian hal-hal yang bertalian dengan bagian manusia yang tidak kelihatan. Roh dalam Bahasa Ibrani bisa diterjemahkan ruakh, tetapi juga dapat diterjemahkan neshamah.Ruakhlebih menunjuk kepada unsur kehidupan, sedangkan neshamahlebih menekankan unsur kesadaran.

Firman Tuhan mengatakan bahwa roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 20:27). Kata roh dalam ayat ini tidak menggunakan kata ruakh (רוּחַ), tetapi neshamah (נְשָׁמָה). Kata neshamah selain memiliki unsur kehidupan juga menunjuk adanya unsur kesadaran. Inilah yang dihembuskan Allah pada waktu penciptaan manusia.Dengan neshamah ini, manusia bukan saja mampu bergerak melakukan aktivitas -karena dorongan mempertahankan hidup seperti hewan- tetapi juga bertindak dalam tatanan Tuhan. Neshamah inilah yang mestinya berfungsi sebagai pelita Tuhan. Pelita di sini maksudnya adalah sarana untuk memberi tuntunan agar manusia tidak salah melangkah. Jadi pengertian bahwa roh (neshamah) manusia pelita Tuhan adalah bahwa Tuhan memberi tuntunan secara berkesinambungan melalui roh atau neshamah manusia agar hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Jadi, berbicara mengenai kerohanian sebenarnya menunjuk kepada manusia batiniah yang bersumber pada hati nurani. Pembentukan kerohanian pada dasarnya adalah pembentukan atau pembangunan hati nurani. Inilah sebenarnya inti dari keselamatan. Proses keselamatan adalah proses mengubah cara berpikir. Kata cara berpikir ini dalam Filipi 2:5 disebutkan sebagai phroneo (φρονέω). Kalau Firman Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus atau phroneo-Nya, itu berarti kita harus terus menerus mengisi nurani di neshamahkita dengan kebenaran Firman Tuhan, sehingga terbangun cara berpikir Allah. Ini sama dengan proses mengubah sinful nature menjadi devine nature. Jadi, cara berpikir ini ada di wilayah hati nurani, di dalam neshamah-nya. Perlu mendapat catatan di sini, bahwa kesadaran tubuh ada di dalam jiwa, tetapi kesadaran hati nurani ada di dalam neshamah-nya. Melalui mata dan telinga, manusia berinteraksi dengan lingkungannya untuk mengisi jiwanya. Kualitas jiwa membangun karakter. Hal ini yang mewarnai neshamah-nya. Tuhan merancang neshamah manusia terus didewasakan agar bisa sama dengan dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa. Dengan demikian neshamah -yang kualitasnya terdapat pada hati nurani- dapat menjadi pelita Tuhan, artinya bahwa hati nurani dapat menjadi corong atau terompet (suara) Tuhan yang mengarahkan manusia untuk bisa bertindak dan berperilaku seperti Allah Bapa.

Kalau jiwa manusia (pikiran, perasaan dan kehendak) diwarnai terus menerus dengan kebenaran Firman Tuhan, maka hati nurani akan terbentuk menjadi hati nurani Ilahi. Kebenaran yang terus menerus itu menggores roh manusia yang membangun warna roh manusia. Kalau Firman Tuhan yang dikonsumsi maka roh (neshamah) manusia menjadi roh yang se-chemistry dengan Allah. Kalau Tuhan Yesus berkata, kamu harus sempurna seperti Bapa, maksudnya bahwa hati nurani harus memiliki seperti Bapa. Hati nurani ini ada di dalam neshamah manusia. Neshamah menjadi baik kalau jiwa yang selalu diisi dengan Firman yang keluar dari mulut Allah. Sebaliknya, kalau jiwa manusia diwarnai terus menerus oleh suara dunia atau filosofi yang bertentangan dengan Injil, maka neshamah manusia menjadi gelap. Jadi, hasil dari apa yang diserap oleh lingkungan memainkan peran terhadap kualitas jiwanya (karakter), kemudian hal ini secara langsung berdampak pada neshamah-nya. Kecerdasan dalam neshamah ini -yaitu nurani- sangatlah ditentukan oleh apa yang dikonsumsi oleh jiwa. Kalau yang dikonsumsi salah, maka hati nurani pun juga bisa rusak (Tit. 1:5).

Firman Tuhan mengatakan bahwa Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya. Kata pelita dalam teks ini adalah nir (נִיר). Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata “nur”. Nur itu artinya cahaya, demikian pula dengan kata nir ini. Tuhan hendak menjadikan hati nurani manusia sebagai pelita atau terang-Nya. Dengan demikian manusia bisa mengerti kehendak-Nya, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Jadi, hati nuranilah yang membuat manusia bisa mengerti kehendak Allah.

Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Mat. 6:22-23). Mata menunjuk kepada pengertian atau kemampuan berpikir, bukan sekadar “tahu”. Dalam hal ini mata yang dimaksud Tuhan Yesus bisa menunjuk neshamah. Kalau neshamah diisi dengan isian yang tidak sesuai dengan pikiran Tuhan, maka betapa gelapnya kegelapan itu. Hal ini sama dengan fakta, kalau pengertian yang seharusnya menimbang apa yang baik dan buruk salah menimbang, maka betapa rusaknya pertimbangannya, sebab tidak ada komponen lain yang berfungsi untuk dapat mempertimbangkan sesuatu. Tuhan Yesus mengajar agar “mata” tersebut menjadi terang. Inilah proses keselamatan yang benar.

Melalui korban Tuhan Yesus Kristus, kematian hati nurani manusia yang mengakibatkan manusia tidak mampu mencapai kesucian Tuhan, bisa dibangkitkan atau dipulihkan. Inilah sesungguhnya maksud dan tujuan keselamatan diberikan. Bagi orang percaya yang memiliki kuasa supaya menjadi anak Allah, mereka harus bekerja keras memanfaatkan kuasa tersebut guna mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Yoh. 1:11-13). Dengan kuasa itu (exousia) seseorang dapat memiliki hati nurani Ilahi, artinya sanggup bertindak seperti Allah bertindak.

Dengan keadaan ini seseorang barulah pantas disebut sebagai anak-anak Allah. Semua ini bisa terjadi oleh karena anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Apa yang tidak bisa dilakukan manusia, telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus (Rm. 7:25; 8:1), sehingga Ia menjadi pokok keselamatan kita; artinya Ia memberikan penebusan (membeli kita dari hukum dosa), mengajarkan kebenaran dari apa yang dikerjakan dan yang diajarkan serta penerangan oleh Roh Kudus, memberi teladan dan kemudian memuridkan kita melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidup ini. Semua ini merupakan potensi untuk memiliki nurani seperti Dia, yaitu hati nurani Ilahi.

Kalau hati nurani dibentuk atau dibangun dari kebenaran Firman, maka akan menjadi hati nurani Ilahi. Inilah yang menguasai atau mewarnai seluruh neshamah-nya. Dengan demikian seseorang bisa menjadi manusia Allah. Sebaliknya, jika jiwa menyerap filosofi dunia, maka hati nuraninya rusak. Hati nurani yang rusak akan mewarnai seluruh kehidupannya. Hati nurani inilah yang menjadi sosok permanen seseorang atau diri manusia itu. Inilah proses pengkloningan. Apakah seseorang memberi diri dikloning oleh Tuhan menjadi seperti Tuhan atau dikloning oleh dunia dengan segala pengaruhnya sehingga menjadi anak Iblis. Idealnya bagi umat Perjanjian Baru, harus memahami apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus, kemudian berusaha untuk melakukan dan meneladani hidup-Nya.

Itulah sebabnya kita dikehendaki untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang dalam teks aslinya adalah phroneo,yang artinya the mind (as the interiorself) (bagian pikiran yang dalam). Kata ini dalam Bahasa Inggris juga diterjemahkan attitude, artinya sikap batin atau sikap hati. Hal ini juga menunjuk atau bertalian dengan hati nurani. Sebenarnya phroneo memiliki pengertian yang sejajar dengan suneidesis.  Hati nurani Ilahi inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan “mata”. Tuhan tegaskan bahwa mata adalah pelita tubuh. Jika mata baik, teranglah seluruh tubuh; jika mata jahat, gelaplah seluruh tubuhnya. Jadi jika terang yang ada pada seseorang gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Mat. 6:22-23). Dari pernyataan Tuhan Yesus ini jelaslah bahwa kalau hati nurani seseorang sudah tidak diisi dengan kebenaran Firman Tuhan, maka gelaplah kehidupan orang tersebut. Gelap di sini artinya tidak mampu mengerti pikiran Tuhan (yang baik, yang berkenan dan yang sempurna). Ini juga berarti tidak melakukan kehendak Bapa. Dalam Injil Matius 6:19-24, orang yang materialistis pasti menjadi buta (Luk. 16:11). Orang yang bersikap salah terhadap harta dunia tidak akan dapat mengerti kebenaran, artinya hati nuraninya pasti gelap.

Seorang tokoh pendidik terkenal bernama John Locke, pernah mengemukakan suatu teori yang namanya teori Tabula Rasa. Teorinya mengatakan bahwa jiwa anak-anak seperti kertas putih. Bagaimana keadaan anak manusia tergantung bagaimana dunia sekitarnya mewarnainya. Teori ini ditentang oleh teolog-teolog Kristen yang menyatakan bahwa seorang anak walaupun belum menerima pengaruh apa pun telah mewarisi kodrat dosa. Jadi, jiwa anak tidak bisa dikatakan sebagai kertas putih. Dalam teorinya, John Locke tidak menyinggung secara eksplisit hal hati nurani. Kalau kata jiwa digantikan sebagai hati nurani, maka bisa dikatakan bahwa hati nurani manusia seperti kertas putih.

Sebenarnya teorinya tidak sepenuhnya salah. Memang jiwa manusia bisa dikatakan seperti kertas putih, dalam artian bahwa bagaimanapun apa yang didengar dan dilihat seseorang itulah yang menentukan keadaan jiwa. Jadi, manusia tidak bisa menjadi baik dengan sendirinya atau rusak dengan sendirinya. Manusia menjadi seperti apa yang lingkungan memengaruhinya. Bagaimanapun, keadaan seorang anak manusia tergantung apa yang mewarnai atau menggores jiwanya. Dari apa yang mewarnai jiwanya, maka itu membangun hati nurani dalam rohnya.

Setiap anak manusia yang terlahir di dunia ini pasti otomatis mewarisi kodrat dosa. Kodrat dosa inilah yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang tidak bisa mencapai kesucian Allah. Kodrat dosa hendaknya dimengerti bukan sebagai sesuatu yang fatalistik yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang berkarakter binatang. Manusia tetap bisa berkarakter manusia, tetapi bukan manusia seperti yang dirancang oleh Allah. Manusia menjadi manusia yang berkualitas rendah. Manusia yang meleset atau tidak kena sasaran (Rm. 3:23).

Selama ini para teolog cenderung mengesankan bahwa kejatuhan manusia dalam dosa membuat semua manusia fatal rusak, sehingga menjadi sampah abadi secara otomatis. Mereka tidak pernah mempertimbangkan ada manusia-manusia yang masih dalam penggarapan Allah, sehingga mereka masih mengerti hukum Tuhan, seperti misalnya Ayub. Tentu Ayub tidak seorang diri, masih ada lagi Ayub-Ayub lainnya. Mereka menutup mata terhadap kebaikan moral yang masih disisakan Tuhan. Hal ini dikemukakan agar kita dapat melihat standar kebenaran umat pilihan Allah yang mengantar umat pilihan menjaid manusia yang ideal di mata Tuhan. Suatu standar yang sangat tinggi. Tetapi kalau kita sudah memandang mereka rusak sama sekali, maka kita akan gagal melihat standar kesempurnaan yang Allah kehendaki.

Inilah yang terjadi, banyak orang Kristen yang hanya mencapai standar baik, bukan sempurna. Karena mereka buta terhadap kebaikan yang juga dimiliki oleh bukan umat pilihan. Apalagi plus konsep keselamatan “hanya oleh anugerah” yang salah, maka makin parahlah kerusakan pola berpikir banyak orang Kristen. Mereka merasa bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan, jadi tidak berbuat baik juga bisa selamat. Sejatinya, orang yang benar-benar ada dalam keselamatan dalam Yesus Kristus atau yang selamat, bukan hanya menjadi baik, tetapi pasti menuju sempurna. Jadi kalau orang tidak baik, pasti tidak selamat. Masakan Tuhan diskriminasi, mentang-mentang Kristen biar perbuatannya buruk tetap selamat karena “percaya”. Firman Tuhan menyatakan bahwa Allah tidak pandang muka (1Ptr. 1:17-19). Orang yang ditebus pasti telah keluar dari cara hidup manusia pada umumnya -termasuk cara hidup yang baik- dan masuk cara hidup Tuhan Yesus.

Sejatinya, yang merusak manusia bukan saja di dalam dirinya mengalir “hasrat” yang bertentangan dengan kesucian Tuhan, tetapi juga lingkungan yang “mencetak” seseorang menjadi manusia yang meleset, artinya bukan menjadi manusia ideal seperti yang Allah kehendaki. Manusia terlahir di suatu lingkungan yang cenderung membawanya jauh dari standar manusia yang ideal. Namun demikian harus dicatat bahwa bagaimanapun manusia terlahir sebagai seorang anak manusia yang hati nuraninya masih seperti kertas putih. Hati nurani ini menjadi bagaimana, tergantung lingkungan atau input yang diterima seseorang.  Dalam hal ini setiap orang akan bertanggung jawab kepada Tuhan di hari penghakiman nanti (Rm. 2:12-16).

Harus jujur diakui bahwa hukum-hukum di dunia ini mengacu pada Taurat yang tertulis dalam Alkitab dan Taurat yang tertulis di dalam hati manusia (Rm. 2:12-16). Hal ini menjadi benteng terakhir manusia bisa dimungkinkan masuk dunia yang akan datang. Bagi manusia yang mau membangun nurani yang baik, maka ia bisa memiliki kasih sehingga ia diperkenan masuk dunia yang akan datang (Mat. 25:31-46; Luk. 16:19-31). Hati nurani orang kaya di Lukas 16:19-31 telah rusak karena kekayaan dunia dan lingkungannya mengkondisi demikian dan ia memilih untuk hanyut olehnya. Sebenarnya, orang kaya ini pun juga memiliki Taurat yang tertulis di hatinya, tetapi ia memilih tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ketika ia ada di alam maut, ia meminta supaya Lazarus turun ke bumi untuk mengingatkan saudara-saudaranya agar tidak masuk tempat celaka, kepada orang kaya ini Abraham berkata bahwa di bumi masih ada taurat Musa.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya adalah terang dan garam dunia artinya bahwa Tuhan masih menyisakan manusia yang memiliki standar kesucian Allah. Standar kebenaran yang diajarkan Tuhan Yesus sangat luar biasa. Bagaimana seseorang harus mengasihi sesama, membangun pernikahan monogami dan lain sebagainya. Dan yang terutama kebenaran dalam Injil yang membuat manusia dapat tercelik mengerti kehendak Allah. Hal terakhir ini, membawa manusia menjadi manusia yang ideal seperti yang Allah kehendaki. Inilah jalan keselamatan.

Bagi umat Perjanjian Baru yang menerima anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus, ia juga terahir sebagai anak manusia yang mewarisi kodrat dosa. Hati nuraninya juga seperti kertas putih. Lingkungannya juga lingkungan dunia yang sudah jatuh. Tetapi yang membedakan dengan mereka yang tidak memiliki anugerah adalah orang percaya memiliki Roh Kudus, memiliki Firman Kristus dan menerima penggarapan Allah (bagi yang mengasihi Dia). Kalau fasilitas ini tidak dimanfaatkan, maka kondisi orang Kristen tersebut tidak berbeda dengan mereka yang tidak memiliki anugerah keselamatan, bahkan kadang berkeadaan lebih bobrok. Maka sebagai anak Tuhan kita diingatkan agar kita tidak menyia-nyiakan anugerah yang sangat mahal yang Tuhan berikan. Keselamatan haruslah sesuatu yang diperjuangkan. Itulah sebabnya Tuhan berkata: “berjuanglah memasuki jalan yang sesak” (Luk. 13:23-24). Hal ini tidak merusak prinsip “only by grace,” hanya oleh anugerah.

Kebenaran Firman Tuhan harus dengan tekun dikonsumsi agar suara hati nuraninya bisa menjadi suara Allah yang menuntunya kepada tindakan-tindakan yang menyukakan hati Allah.Tindakan yang didorong oleh keinginan atau selera Tuhan, bukan karena faktor-faktor lain. Segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Inilah yang dimaksud dengan melakukan kehendak Allah. Misalnya kalau seseorang seyogyanya marah karena faktor-faktor tertentu, tetapi ia tidak marah karena Allah menghendaki demikian, maka itu adalah hal berkualitas yang dapat dinikmati oleh Tuhan. Dengan demikian hati nurani dapat diubah melalui proses transformasi.

Untuk membahas mengenai perubahan, mau tidak mau kita harus membahas mengenai transformasi menurut Alkitab. Transformasi adalah proses penting yang harus dialami oleh setiap orang percaya. Tanpa proses ini tidak mungkin seseorang mengerti kehendak Tuhan; apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna. Pengertian transformasi yang tidak berpijak pada kebenaran Alkitab, mengakibatkan karakter Kristus tidak terbangun dalam kehidupan orang percaya.Sebab selama ini pengertian transformasi pada banyak orang Kristen hanyalah sebuah perubahan moral umum yang menciptakan keadaan baik dalam segi politik, ekonomi dan berbagai aspek hidup lainnya. Akibat pengertian transformasi yang salah, hal ini menggagalkan kerja Roh Kudus dalam mentransformasi cara berpikir orang percaya. Transformasi yang seharusnya berfokus pada dikembalikannya karakter manusia pada rencana Allah, digantikan dengan kemakmuran duniawi dan kejayaan lahiriah.

Akibat yang lain dari penjelasan transformasi yang salah adalah menciptakan ketidaksiapan menghadapi hari esok di dunia yang semakin sukar.Pengajaran transformasi selama ini mengindikasikan akan datangnya keadaan baik yang akan dialami manusia, tetapi sebenarnya sesuai dengan Firman Tuhan, dunia akan berkeadaan semakin buruk dan klimaksnya adalah lautan api. Dalam hal ini, pengertian transformasi yang salah menyebabkan kerentanan pribadi dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin buas dan ganas.

Kata transformasi berasal dari kata dalam bahasa Inggris transformation,yang artinya antara lain:Complete change: a complete change, usually into something with an improved appearance or usefulness (berubah secara penuh, biasanya dengan tampil lebih maju, berkembang atau berguna).Diskripsi ini sama dengan yang didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Definisi yang lain:  Transforming: the act or process of transforming somebody or something (suatu proses perubahan pada sesuatu atau seseorang). Dalam Alkitab Perjanjian Baru dapat ditemukan dua kata yang memiliki pengertian sejajar dengan transformasi, yaitu allasso (ἀλλάσσω) dan metamorphosthe (μεταμορφοῦσθε). Dari dua kata tersebut, dapat diperoleh pengertian transformasi yang benar.

Pertama, allasso, kata ini terdapat dalam beberapa ayat Perjanjian Baru (1Kor. 15:51-52 dan Kis. 6:14). Kata allassoberarti mengubah (Ing. change) atau membuat berbeda (to make different).Kata allassomenunjukkan perubahan fisik ketika Tuhan Yesus datang (parousia) bersama orang kudus-Nya di akhir zaman. Mereka yang masih hidup “diubah” (transform) dalam sekejap. Di sini kata allasso berarti berubah bentuk.Kata yang sejajar dengan perubahan bentuk dari tubuh fana ke tubuh kemuliaan adalah metaschematizo (μετασχηματίζω), dalam bahasa Inggris diterjemahkan “transfer” (Flp. 3:21). Kata allasso yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 6:14, lebih menunjuk kepada perubahan tingkah laku.

Kedua, kata yang memiliki pengertian transformasi dalam bahasa Yunani adalah metamorphoo(μεταμορφόω; Rm. 12:2). Kata metamorphooberarti berubah (change) dan transfigure(merubah rupa). Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pikiran.

Adapun kata “pembaharuan” dari teks aslinya anakainoais (ἀνακαίνωαις), yang berarti renewing(pembaharuan), renovation(renovasi). Hal ini menunjuk kepada sesuatu yang diubahkan, diperbaharui atau dibuat dalam bentuk lain. Adapun kata “budi” dalam Roma 12:2 teks aslinya adalah nous(νοῦς) yang bisa berarti mind(pikiran), the intellect(kecerdasan), understanding(pengertian). Kata methamorphosteterdapat juga dalam 2 Korintus 3:18: “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya.” Di sini Paulus berbicara mengenai perubahan watak atau kehidupan pribadi orang yang diperbaharui Tuhan. Kata methamorphosthemenunjuk perubahan tingkah laku, yang bukan saja mengubah seseorang menjadi baik, tetapi hidup yang memancarkan kemuliaan Tuhan yang sempurna.

Transformasi adalah perubahan pola berpikir yang mengakibatkan perubahan arah hidup.Ini lebih dari perubahan moral. Perubahan ini menyangkut seluruh filosofinya, ini berarti juga perubahan sikap hati dan seluruh gaya hidup. Perubahan pola berpikir ini sejajar dengan pertobatan. Bertobat dari Bahasa Ibrani shub(שׁוּב) yang berarti berbalik. Pertobatan bukan sekadar perubahan moral baru, tetapi arah hidup yang diubah. Arah hidup yang tadinya berorientasi atau tertuju kepada hal-hal dunia (materi), berpindah ke Kerajaan Surga (hal-hal surgawi). Dalam Bahasa Yunani, kata bertobat adalah metanoeo (μετανοέω), yang berarti perubahan pikiran. Transformasi yang terjadi dalam diri seseorang akan membuka pikiran dan kesadarannya, sehingga dapat menghayati dari mana ia datang dan ke mana ia pergi (Yoh. 3:8-11). Bagi orang percaya, transformasi akan menyadarkan bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini.

Transformasi adalah perubahan yang berlangsung secara terus menerus atau berkesinambungan, bukan sebuah momentum atau peristiwa yang terjadi dalam sekejap.Proses transformasi dapat digambarkan seperti sebuah garis panjang, bukan sebuah titik. Hal ini terjadi karena hasil kerja keras orang percaya dalam memberitakan Injil dengan mengajarkan kebenaran murni seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Perubahan dunia kekafiran pada abad mula-mula oleh Kekristenan adalah hasil pelayanan yang tak kenal Lelah; bukan hanya karena pergumulan doa, tetapi juga karena kerja keras. Dalam hal ini bukan berarti doa tidak berperan, doa memiliki tempat sendiri, sementara tanggung jawab orang percaya juga memiliki tempatnya. Keduanya harus berjalan seiring. Dalam sejarah dapat dijumpai bahwa setiap perubahan hampir selalu melalui mekanisme proses hasil perjuangan individu-individu, bukan sesuatu yang instan. Reformasi pada abad ke-15 juga terjadi oleh kerja keras puluhan tahun dengan pertaruhan segenap hidup para reformator. Suatu bangsa tidak akan mengalami transformasi kalau hanya didoakan, tetapi kerja keras orang percaya yang bekerja keras mengubah pola berpikir masyarakat.

Tidak dapat dibantah bahwa pikiran seseorang sangat berperan dalam kehidupan. Pikiranlah yang menciptakan atau menetapkan standar hidup, dan seseorang akan terus bergerak sepanjang waktu untuk mencapai standar hidup tersebut. Pada umumnya manusia ingin mencapai apa yang juga dicapai oleh manusia di sekitarnya. Tetapi bagi orang percaya Firman Tuhan berkata: “Janganlah serupa dengan dunia ini.”Transformasi adalah pembaharuan pikiran yang membuka kesadaran, memberi pengertian dan melahirkan persepsi-persepsi Ilahi. Sebenarnya, pada dasarnya transformasi adalah pembaharuan mindset.Kata pikiran dalam Roma 12:2 adalah nous,yaitu yang bertalian dengan kesadaran (consciousness) terhadap kebenaran, yang membangun pemahaman makna hidup yang benar.

Pikiran bisa menjadi tempat di mana Iblis dapat memiliki akses atau jalan untuk menguasai kehidupan seseorang dan melaksanakan kehendaknya. Bila hal ini terjadi, maka kehendak Allah dan rencana-Nya dijauhkan dari kehidupan orang tersebut. Itulah sebabnya Paulus menasihati orang percaya agar tidak memberi “kesempatan” kepada Iblis (Ef. 4:27). Kata kesempatan dalam teks aslinya adalah topon (τόπον), yang bisa berarti tempat (Ing. place). Kata toponjuga berarti tempat berpijak (Ing.foothold). Tempat berpijak di sini sama dengan pangkalan. Tidak memberi kesempatan kepada Iblis artinya agar tidak mengisi pikiran dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan.

Sebagai contoh kasus, seperti yang diungkapkan Tuhan Yesus dalam Matius 16:21-23. Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus ke Yerusalem, sengsara, mati dan dibangkitkan. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur dengan menggunakan nama Allah. Petrus mengira ide atau pikirannya berasal dari Allah, sedangkan pernyataan Tuhan Yesus dianggap bukan dari Allah. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Tuhan Yesus mengusir Iblis dari diri Petrus, yaitu ide di dalam pikirannya. Pikiran Petrus menjadi batu sandungan atau halangan terhadap rencana Tuhan. Banyak orang beranggapan bahwa apa yang dipikirkan – asal wajar-wajar saja, tidak melanggar hukum – maka hal tersebut bukan dari Iblis. Padahal dari pernyataan Tuhan tersebut jelas bahwa semua pikiran yang bukan berasal dari Allah, berarti dari Iblis.

Dalam hal ini bukan tanpa alasan apabila Paulus takut kalau-kalau pikiran jemaat disesatkan oleh Iblis. Dalam tulisannya ia berkata: “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya”(2Kor. 11:2). Dari pernyataan ini jelas sekali bahwa dosa masuk melalui penyesatan dalam pikiran, demikian juga penyesatan dalam gereja terjadi melalui pikiran. Penyesatan tersebut melalui pengajaran yang disebarkan melalui khotbah yang tidak diangkat dari penafsiran yang benar. Pengajaran-pengajaran tersebut dikemas menjadi doktrin, diakui sebagai Firman Tuhan atau sejajar dengan Firman Tuhan. Pengajaran hasil pikiran manusia yang bercampur dengan pemikiran dari roh-roh jahat memang melahirkan pengajaran yang logis dan mudah diterima, seolah-olah adalah Firman Tuhan. Pengajarnya berpikir bahwa kesimpulan dari idenya adalah suara Roh Kudus atau sebuah penemuan yang lahir dari hikmat Tuhan, padahal bukan. Hal ini sangat mengerikan. Orang percaya harus waspada bahwa pikiran manusia dapat disesatkan oleh Iblis (2Kor. 11:2-3). Pikiran atau ide manusia dapat menjadi kendaraan pikiran atau rencana Iblis.

Tuhan Yesus menebus manusia supaya menjadi umat pilihan-Nya dan meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:18-19). Cara hidup nenek moyang adalah cara hidup yang tidak sesuai dengan cara hidup bangsawan surgawi. Dalam tulisannya, Petrus menegaskan agar orang percaya “menyiapkan akal budi” (1Ptr. 1:13). Menyiapkan berasal dari kata gird up (Yun. anazonnumi; ἀναζώννυμι), artinya bersiap-siap untuk bertindak atau menggunakan akal budi dengan seksama. Tentu ada relasi antara menyiapkan akal budi dalam 1 Petrus 1:13 dengan cara hidup nenek moyang yang harus ditinggalkan di ayat 18. Dari hal ini dapatlah diperoleh kesimpulan bahwa langkah meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang adalah menggunakan pikiran untuk mengenali kebenaran. Dengan mengenali kebenaran inilah seseorang dapat meninggalkan cara hidup orang yang tidak mengenal Tuhan.

Dalam suratnya, Petrus menjelaskan bahwa pengenalan akan Tuhan ini menentukan kesucian hidup orang percaya. Ia menulis: “Karena kuasa Ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat Ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia”(2Ptr. 1:3-4). Ada beberapa pokok pikiran yang harus diperhatikan. Pertamakuasa Ilahi menganugerahkan kuasa untuk hidup saleh. Hendaknya kuasa Tuhan bukan hanya dikaitkan dengan mukjizat dalam pelayanan. Dalam ayat ini maksud “kuasa Ilahi Tuhan diberikan” adalah untuk hidup yang saleh, yaitu mengambil bagian dalam kodrat Ilahi. Kedua, kuasa Ilahi tersebut tersalur melalui pengenalan akan Tuhan.  Perhatikan kalimat “oleh pengenalan kita akan Dia”. Ibarat pipa saluran, saluran untuk mendayagunakan kuasa Ilahi yang berguna untuk hidup yang saleh adalah pengenalan akan Tuhan. Pengenalan akan Tuhan terletak pada pikiran yang telah dibaharui atau ditransformasi.

Tuhan Yesus mengemukakan: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). “Hidup kekal” dalam hal ini hendaknya tidak diartikan sekadar hidup terus menerus nanti di surga karena terpancang pada kata “kekal”. Kata “hidup kekal” dalam ayat ini bukan hanya menunjuk kehidupan nanti di surge, tetapi sudah dimulai hari ini, ketika seorang percaya kepada Tuhan Yesus (Yoh. 3:16). Kata “hidup” (Yun. zoen) dalam ayat ini lebih menunjuk kepada hidup yang sudah diperbaharui, tentu hidup yang “berkualitas”. Jadi pengenalan akan Tuhan menentukan kualitas hidup seseorang. Kata hidup kekal bukan hanya berbicara mengenai “panjangnya hidup” tetapi juga berbicara mengenai “dalamnya hidup, mutu atau kualitas hidup.” Dengan demikian jelaslah bahwa pengenalan akan Tuhan – yaitu pikiran yang dipenuhi dengan kebenaran – akan menentukan kualitas hidup manusia.

Dalam transformasi terdapat sarana yang mengubah hidup seseorang. Sarana tersebut adalah Firman Tuhan, baik Firman dalam arti logosmaupun rhema. Firman Tuhan adalah sarana transformasi yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Proses ini berlangsung oleh pekerjaan Roh Kudus yang mengilhami orang percaya agar dapat mengerti Firman Tuhan. Untuk itu, orang percaya harus juga berusaha untuk menggali dan menemukan Firman Tuhan yang benar dengan hati haus dan lapar.  Proses ini melibatkan kerja keras hamba-hamba Tuhan yang mengajar Firman Tuhan untuk membantu menggali dan menemukan kebenaran Firman Tuhan yang murni bagi jemaat Tuhan. Tanpa Firman Tuhan yang murni, tidak akan pernah terjadi transformasi yang sesungguhnya. Dalam hal ini transformasi bisa berlangsung tidak cukup dengan berdoa, tetapi dengan mendengar, mengerti dan menerima Firman Tuhan.

Dalam doa Tuhan Yesus kepada Allah Bapa, terdapat kalimat: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Doa ini memiliki isi yang pasti sangat penting. Pengudusan dengan darah Yesus yang menjadikan seseorang milik Tuhan harus ditindaklanjuti dengan pengudusan oleh Firman. Pengudusan oleh darah Yesus menghapus dosa, tetapi pengudusan dengan Firman Tuhan adalah pembaharuan pikiran. Kata kebenaran dalam teks ini adalah alitheia, yaitu kebenaran yang bertalian dengan pengertian akan Allah dan kehidupan ini menurut pandangan yang benar. Perlu ditambahkan di sini bahwa Injil Yohanes ditulis ketika Kekristenan menghadapi pengajaran sesat, yaitu gnostikpada abad pertama.

Kata “kuduskanlah” dalam teks aslinya adalah hagiason (Ing. sanctify), yang berasal dari kata hagiazoyang berarti bukan sajato make holy(membuat kudus), tetapi juga to venerate mentally (menghargai nilai-nilai kesucian atau moral). Untuk dapat menghargai nilai-nilai kesucian atau moral, maka seseorang harus mengenal apa yang suci dan yang bermoral sempurna. Di sini Firman Tuhan memberikan pencerahan dalam pikiran sehingga menemukan atau menangkap kebenaran-kebenaran yang murni dari Alkitab. Kata hagiozomemiliki kata benda dan sekaligus sifat, yaitu hagiosyang berarti berbedadariyang lain. Jadi menguduskan berarti juga “membuat berbeda dari yang lain”. Doa Tuhan Yesus mengarah agar orang percaya “terlindungi dari pada yang jahat” dengan cara “menguduskan mereka dengan Firman Tuhan”. Di sini peran Firman Tuhan yang original atau murni sangatlah besar, sebab hanya Firman yang dapat mengubah pola hidup ini. Softwareyang salah yang telah di-installke dalam pikiran banyak orang harus digantikan dengan softwarebaru. Hamba-hamba Tuhan berperan dalam meneruskan apa yang Tuhan telah ajarkan kepada murid-murid-Nya.  Kata “sehingga” (Yun. eis) dalam Roma 12:2, menunjukkan bahwa perubahan dalam hidup seseorang terjadi akibat proses. Jadi, seseorang tidak akan mengerti kehendak Allah – yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna – tanpa mengalami pembaharuan pikiran setiap hari.

Orang percaya harus dapat membedakan antara transformasi dan konversi agama. Berpindahnya suatu kelompok atau seseorang masuk agama Kristen adalah konversi, ini tidaklah identik dengan transformasi. Transformasi adalah perubahan pola pikir (mindset) oleh pembaharuan pikiran yang dikerjakan Roh Kudus menggunakan sarana Firman Tuhan. Orang yang melakukan konversi agama belum tentu mengalami transformasi sesuai dengan standar Alkitab. Proses transformasi ini akan membangun manusia batiniah yang unggul seperti yang dikemukakan Paulus dalam 2 Korintus 4:16. Sejatinya, orang percaya bukan saja harus mengalami perubahan secara moral atau perilaku menjadi baik, tetapi juga perubahan filosofi hidup secara menyeluruh. Perubahan dari logika duniawi ke logika rohani. Logika di sini maksudnya adalah pola dan landasan berpikir, sedangkan rohani artinya sesuatu yang memiliki nilai lebih dari hal-hal yang bersifat fana dari bumi ini. Logika rohani adalah pola pikir yang berbasis atau berlandaskan pada dunia yang akan datang.

Logika rohani ini, dikemukakan Paulus dalam suratnya yang tertulis:Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. Kata memperhatikan dalam teks aslinya adalah skopountondari akar kata skopeo(σκοπέω), yang artinya: to heed(memperhatikan secara serius); consider(memikirkan dengan hati-hati dan respek); to take aim at(mengambil arah atau tujuan). Paulus menyaksikan bahwa ia memberi perhatian serius dan mengarahkan tujuan kepada apa yang tidak kelihatan (unseen). Mengapa? Sebab yang kelihatan adalah sementara sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal. Sangatlah bodoh kalau seseorang tidak memperhatikan dan menghargai (consider) perkara-perkara yang bernilai kekal. Dalam Injil Matius Tuhan Yesus berkata: “Di bumi ngengat dan karat bisa merusak dan pencuri bisa membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19).

Landasan pola berpikir manusia hari ini pada umumnya bukan Kerajaan Tuhan, tetapi pada dunia. Inilah orang-orang yang telah termakan bujukan kuasa dunia. Tuhan Yesus sendiri mengalami godaan untuk menyerah kepada bujukan tersebut, tetapi Tuhan dapat menolaknya (Luk. 4:6-7). Ciri dari orang yang terkena bujukan Iblis adalah mengutamakan dan menghargai segala sesuatu yang ada dalam hidup hari ini lebih dari menghargai Tuhan. Inilah logika duniawi. Logika duniawi adalah pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini, yaitu hal-hal yang kelihatan (Yun. blepomena: which are seen), yang bernilai sementara (Yun. pros kaira: temporal, for a season, for the occasion only; hanya semusim, sesaat).

Seorang yang menolak logika duniawi adalah seorang yang memiliki kualitas batiniah yang baik. Berbicara mengenai batiniah itu berarti berbicara mengenai kualitas keimanan seseorang dalam relasinya dengan Tuhan. Orang percaya haruslah seorang yang rohani. Masalahnya adalah apakah ciri orang yang disebut “rohani itu”? Dalam teks bahasa Yunani kata rohani diterjemahkan pneumatikos. Lawan kata rohani adalah duniawi (Yun. epigeios) atau kedagingan (Yun. sarkos). Duniawi adalah segala sesuatu yang berorientasi pada kekayaan dunia (Ing. material thing), kedagingan adalah segala sesuatu yang berorientasi pada kepuasan nafsu rendah kedagingan (Ing. lust).

Rohani dari kata “roh”, berarti hal-hal yang bersangkut paut dengan roh atau batiniah seseorang, seperti yang telah dijelaskan di atas. Kalau dikatakan bahwa seorang anak Tuhan harus rohani, maka itu berarti seorang anak Tuhan harus memiliki batiniah yang baik dalam hubungannya dengan Tuhan. Digunakan kata “manusia batiniah”, sebab hendak dipaparkan bahwa sasaran pembentukan murid Tuhan adalah “batiniah”. Kebenaran ini akan membawa seorang anak Tuhan kepada kehidupan yang benar menurut ukuran Allah, bukan sekadar menjadi manusia beragama yang moralis yang secara lahiriah baik, tetapi menjadi manusia yang batiniahnya “cemerlang” di mata Tuhan. Terdapat beberapa ayat dalam Alkitab yang menunjukkan dengan jelas bahwa Tuhan sangat memperhatikan unsur batiniah manusia (2Kor. 4:16; 1Ptr. 3:4; Mzm. 51:8). Oleh karenanya, Allah menguji batin manusia lebih dari sikap lahiriahnya (Mzm. 7:10; Yer. 17:10; Why. 2:23).  Manusia batiniah yang baik ditandai dua hal, yaitu mengasihi Tuhan dan merindukan Kerajaan-Nya saja.

Banyak orang pergi ke gereja untuk menemukan jalan keluar dari persoalan hidup duniawi. Gereja menyambut dan mendoakan mereka. Tidak sedikit yang menemukan jalan keluar dari berbagai masalah hidup tersebut. Dari pihak gereja tentu menyediakan pelayanan holistik yang melibatkan berbagai bentuk bantuan untuk melicinkan jalannya misi, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan umum, penyuluhan pertanian, perikanan dan lain sebagainya. Tetapi apakah sampai di sini keselamatan itu? Apakah ini Injil sepenuh? Hanya untuk inikah pelayanan Gereja?

Mereka yang menerima solusi dari persoalan hidup fana tersebut masih dalam pola pikir yang belum diperbaharui atau belum ditransformasi, sebab pada umumnya mereka adalah orang-orang yang salah asuh (dunia yang sesat telah mengasuh mereka). Orang tua dan lingkungan dunia sekitar yang tidak mengenal kebenaran telah membentuk kepribadian mereka. Kalau orang tua beranggapan bahwa yang dianggap berhasil adalah menjadi sarjana, tentu kemudian orang tua mengupayakan segala sesuatu demi gelar yang dapat dicapai. Kalau orang tua beranggapan bahwa ukuran sukses adalah menjadi pedagang yang banyak uang, maka mereka mengupayakan anaknya dapat menjadi pedagang yang berhasil mengakumulasi uang untuk kebahagiaan dan kebanggaan atau keangkuhan hidup.

Setelah ditebus oleh darah Yesus, seseorang harus mulai memperkarakan: Untuk apa semua sukses yang diperoleh ini? Dan untuk siapa?Tentu tidaklah salah dapat menjadi dokter, pengusaha kaya, insinyur dan lain sebagainya, tetapi persoalannya adalah untuk siapa semua kesuksesan hidup yang didapat tersebut?  Sebab Tuhan telah membeli kita dengan darah yang mahal. Sekarang hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi milik Tuhan. Seharusnya seluruh hidup kita diabdikan sepenuhnya bagi Tuhan. Untuk mengerti tujuan hidup ini pikiran seseorang harus mengalami transformasi secara berkesinambungan.

Untuk proses transformasi ini gereja harus mengajarkan kebenaran yang sesuai dengan tingkat usia gereja Tuhan di akhir zaman dan disertai dengan pertimbangan terhadap keadaan dunia yang semakin jahat. Pelayan-pelayan Tuhan tidak boleh puas dengan pengalaman dan prestasi pelayanan yang telah dicapai. Mereka harus terus bertumbuh dan belajar kebenaran Firman Tuhan untuk diajarkan kepada umat Tuhan, sebab inilah saatnya Tuhan menyempurnakan gereja-Nya. Sarana untuk menyempurnakan gereja-Nya adalah melalui kebenaran Firman Tuhan. Maka gereja harus dilengkapi dengan pelayan-pelayan Firman yang menyampaikan Firman Tuhan yang murni. Bukan pelayan pikiran sendiri yang disertai dengan pengalaman-pengalaman pribadinya. Sebab iman timbul dari pendengaran, pendengaran oleh Firman Tuhan (Rm. 10:17). Ketika Paulus berbicara mengenai pergumulannya dalam pelayanannya di Korintus, yang dipersoalkan adalah kuasa Allah di dalam hikmat-Nya (1Kor. 2:1-5).

Kuasa Allah di dalam hikmat-Nya, yaitu kuasa untuk menyampaikan kebenaran Firman yang original atau murni. Di sini kita menemukan bahwa memang yang dibutuhkan adalah Firman yang dapat membangun iman. Itulah sebabnya di dalam gereja harus ada lima jawatan, yaitu: gembala sidang, guru, penginjil, nabi dan rasul. Kita terus berusaha agar jemaat terpelihara melalui pelayanan yang terpadu. Jemaat harus tekun belajar kebenaran Firman Tuhan dan bersungguh-sungguh dalam pengiringan kepada Yesus.

Proses transformasi menjadi tugas gereja yang harus diselenggarakan secara terus menerus, tidak boleh digantikan dengan promosi kuasa Tuhan dan berkat jasmani untuk menarik perhatian jemaat supaya datang ke gereja. Apabila pikiran jemaat sudah terkontaminasi dengan menitikberatkan kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, maka proses transformasi tidak akan dapat berlangsung dengan baik. Jemaat harus dapat berprinsip asal ada makanan dan pakaian cukup. Hidup di bumi ini hanya untuk persiapan kekekalan.

Setelah menjadi anak Tuhan, pikiran seseorang harus terfokus pada pencapaian kesempurnaan karakter seperti Kristus, dimana neshamahseseorang menjadi pelita Tuhan. Di tengah kesibukan mencari nafkah dan segala tanggung jawab hidup, maka menempatkan diri sebagai murid haruslah menjadi hal yang utama. Tujuan akhir dari kehidupan seorang anak Tuhan adalah hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela. Orang percaya dipanggil Tuhan memang hanya untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela (Ef. 1:3). Inilah maksud utama mengapa Allah memilih orang percaya, yaitu untuk mempersiapkan bagi diri-Nya menjadi umat yang layak. Panggilan ini seharusnya tidak diterima sebagai beban, tetapi sebagai berkat, sebab Tuhan akan menghindarkan seseorang dari api kekal. Tuhan Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat. 5:20). Dengan hal ini, Tuhan memanggil orang percaya untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Inilah sebenarnya kesempurnaan yang Tuhan kehendaki, bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa yang di surga yang adalah sempurna (Mat. 5:48).

Dalam suratnya Paulus menasehati jemaat: “…supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah”. (Flp. 2:15-16). Dari tulisannya ini kita temukan pula kebenaran bahwa susah payah Paulus dalam pelayanan bertujuan agar jemaat menjadi jemaat yang kudus tak bernoda. Sampai kedewasaan penuh, seseorang tidak akan dapat berbalik lagi ke dalam kegelapan. Petrus menyebutnya sebagai: Hak penuh masuk Kerajaan Tuhan(1Ptr. 1:10-11). Pada tahap ini seorang anak Tuhan sudah mulai memiliki logika rohani yang kuat dan seluruh tingkah lakunya diwarnai oleh logika tersebut.

Oleh sebab itu menjadi persoalan yang sangat penting dalam hidup Kekristenan kita, yaitu bagaimana membuat hidup Kekristenan kita sukses di mata Tuhan. Tentu ini lebih dari keberhasilan seseorang dalam studi, karir, rumah tangga dan bidang kehidupan lainnya. Suksesnya hidup Kekristenan bukan pada lebih giatnya seseorang dalam kegiatan organisasi gereja, bukan pula pada meningkatnya status jabatan dalam gereja, tetapi pada apakah natur anak Allah dalam diri seseorang berkembang.  Natur di sini maksudnya adalah kodrat atau sifat hakiki dalam diri seseorang. Menjadi anak Tuhan berarti memiliki natur baru, yaitu natur Ilahi. Alkitab berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor. 5:17).

Maksud ayat di atas adalah bahwa kalau seseorang ada di dalam Kristus, maka ia menjadi “ciptaan yang baru” (Ing. new creature). Ini berarti seseorang memiliki keberadaan yang baru (Ing. a new being). Menjadi anak-anak Allah yang penting bukan saja orang percaya berstatus anak Allah -yang mana seseorang memiliki jaminan pemeliharaan, perlindungan dan berkat-berkat-Nya- tetapi bagaimana orang percaya juga memiliki kodrat baru atau natur baru.  Natur baru ini adalah sesuatu yang benar-benar luar biasa. Orang percaya harus sungguh-sungguh menghargai natur baru yang diberikan Tuhan kepada orang percaya Dengan cara bagaimanakah manusia menghargai natur baru ini? Yaitu dengan cara memfokuskan diri terhadap pengembangannya. Itulah sebabnya kita ke gereja, aktif dalam berbagai kegiatan gereja. Semua ini dilakukan bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban orang beragama, tetapi lebih kepada usaha untuk dimuridkan agar kodrat anak Allah yang ada pada seseorang berkembang atau bertumbuh melalui proses transformasi.

Bagaimana transformasi ini dapat terjadi dalam hidup seseorang? Persoalan ini muncul dari pernyataan dalam 2 Korintus 5:17 yang berbunyi “siapa yang ada di dalam Kristus”. Apa yang dimaksud dengan “ada di dalam Kristus”? Dalam terjemahan bahasa asli Alkitab adalah en kristo; yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi be in Christ, joined to Christ. “Di dalam Kristus” menunjuk kepada seseorang yang telah mengalami suatu perubahan besar dan mendasar ketika seseorang mengaku dengan benar dan menerima dengan benar Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini bukan sebuah perpindahan agama (konversi), tetapi transformasi yang ada di dalam diri manusia, yaitu pikiran yang dibaharui terus menerus sehingga mengubah seluruh konstalasi berpikirnya dan membangun atau membentuk pola berpikir rohani yang permanen.

Ini adalah sesuatu yang benar-benar luar biasa. Kejadian ini adalah titik balik seorang anak manusia kepada Tuhan. Transformasi seperti inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh Tuhan. Hal ini harus dialami oleh setiap orang percaya. Tanpa transformasi ini seseorang tidak menjadi anak Tuhan yang benar. Bertalian dengan hal tersebut ada dua hal penting. Pertama,bagaimana transformasi ini terjadi dalam hidup seseorang. Kedua, bagaimana mengembangkan natur baru sebagai tindak lanjut atau follow updari transformasi tersebut. Tanpa tindak lanjut, maka transformasi sia-sia. Sama artinya tanpa usaha mengisi kemerdekaan, maka sia-sialah kemerdekaan yang diperolehnya.

Pada intinya Kekristenan harus dapat mengubah cara kita memandang hidup ini. Bila cara kita memandang hidup berubah, maka seluruh gaya hidup kita juga berubah.Usaha merubah cara kita memandang hidup inilah yang dimaksud Tuhan dengan mendahulukan Kerajaan Allah (Mat. 6:33). Ini suatu usaha yang sangat sulit. Oleh sebab itu kita tidak boleh menganggapnya mudah. Banyak orang merasa sudah menjadi orang Kristen yang baik dengan memiliki moral yang baik di mata masyarakat dan pengetahuan Alkitab yang menurutnya memadai, padahal caranya memandang hidup masih tidak berbeda dengan anak-anak dunia. Merubah cara memandang hidup sama dengan merubah gaya hidup “normal”. Merubah “kenormalan” inilah hal yang sebenarnya nyaris tidak dapat dilakukan, sebab pola “kenormalan” telah mengakar selama belasan bahkan puluhan tahun. Dalam hal ini, hidup baru yang dimaksudkan oleh Alkitab (2Kor. 5:17), harus dimengerti secara benar.

Pertaruhan dan pengorbanan untuk memiliki cara pandang baru terhadap hidup adalah seluruh hidup. Kita tidak bisa menjadikannya sambilan. Pertaruhan dan pengorbanan yang sedikit tidak akan membawa kita kepada pengenalan dan kehendak-Nya secara penuh. Demi supaya perburuan kita terhadap Tuhan dapat berjalan lancar atau tidak terhambat, Firman-Nya menasihati kita bahwa kita harus memiliki rasa cukup (1Tim. 6:6-7). Tanpa rasa cukup, manusia tidak akan pernah berhenti memburu sesuatu yang “bukan Tuhan”.

Pertaruhan dan pengorbanan yang berat adalah ketika seseorang harus “barter”. Paulus menunjukkan bahwa ia harus “melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah” supaya ia memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9). Melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah adalah hasil dari cara memandang hidup yang diubah. Dalam Filipi 3:7-8 tertulis: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.Hal ini menunjuk proses dari cara memandang hidup yang diubah. Bila kita bisa mengatakan seperti yang Paulus katakan, maka kita menemukan “kemerdekaan” yang sejati.