Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Memahami Kekristenan – Magazine Sinode GSKI

Orang Kristen yang sejati adalah mereka yang menjadikan hidup di dunia ini hanya sebagai masa persiapan untuk kehidupan yang akan datang.

Pdt. Dr. Erastus SabdonoKetua Umum Sinode GSKI

Pengertian Kata Kekristenan

Sebenarnya banyak orang Kristen yang belum memahami Kekristenan dengan benar dan mereka belum pantas disebut sebagai orang Kristen. Untuk membedah persoalan ini kita harus merunut kata Kristen. Kristen adalah sebutan yang ditujukan bagi orang-orang yang mengikut Tuhan Yesus pada awal berdirinya gereja di abad 1. Sebutan ini muncul pertama kali di Antiokhia (Kis. 11:26),  dikenakan pada murid-murid yang belajar Injil yang diajarkan oleh Barnabas dan Paulus. Mereka adalah komunitas orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan memperjuangkan kepentingan-Nya. Kata Kristen secara umum berarti “to be like Christ”(seperti Kristus). Mereka disebut Kristen karena berperilaku seperti Yesus Kristus yang mereka percayai dan membela kepentingan-Nya. Orang-orang percaya pada waktu itu belajar Injil yang murni, sampai hidup sepadan dengan Injil yang mereka terima. Injil tersebut memuat ajaran Tuhan Yesus yang mereka kenakan dan kehidupan Kristus yang mereka teladani. Sehingga mereka menjadi serupa dengan Tuhan Yesus Kristus.

Serupa dengan Tuhan Yesus Kristus berarti menemukan dan mengenakan pribadi, watak, karakter atau kepribadian Anak Allah. Inilah sebenarnya maksud keselamatan diberikan, yaitu agar manusia dikembalikan kepada rancangan semula Allah. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia segambar dengan diri-Nya dan manusia hidup sepenuhnya bagi Dia. Demikianlah kodratnya, bahwa memang manusia diciptakan hanya untuk melayani keinginan, kehendak dan rencana Penciptanya dalam segala keadaan dan sampai kapan pun. Manusia tidak pernah diperkenan hidup untuk dirinya sendiri. Tidak bersedia menerima realitas ini, berarti tidak bisa menjadi makhluk ciptaan, pantas dibinasakan. Ini harga mati.

Ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, maka ia harus mulai memasuki proses penyempurnaan karakter agar serupa dengan Tuhan Yesus dan hidup bagi kepentingan-Nya. Bisa dipastikan, kalau karakter seseorang berubah semakin ke arah Kristus sebagai modelnya (teladan atau contohnya), maka ia akan memberikan segenap hidup untuk melayani Bapa. Tanpa memasuki proses penyempurnaan karakter, berarti seseorang tidak memiliki keselamatan, walau ia seorang Kristen dari kecil, aktivis gereja bahkan seorang rohaniwan. Proses mengalami perubahan karakter adalah ciri utama orang yang mengerjakan keselamatan sampai serupa dengan Kristus. Ciri ini tidak bisa digantikan dengan apa pun. Jadi, harus ditegaskan bahwa orang Kristen yang tidak memiliki ciri ini berarti ia gagal menjadi manusia yang diselamatkan. Mereka tidak pantas menyandang sebutan Kristen.

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang tidak merasa sudah menjadi Kristen kalau hanya mengaku percaya dan pergi ke gereja. Perubahan karakter ini dapat dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain. Dari perubahan sederhana atau kecil sampai perubahan yang sangat radikal dan tajam. Dengan demikian, kalau seseorang memilih menjadi Kristen ini sama artinya dengan menceburkan diri pada masalah hidup yang rumit. Kerumitannya terletak pada berat dan sulitnya mengenakan cara berpikir dan gaya hidup yang sangat berbeda dengan anak-anak dunia atau manusia pada umumnya. Hal ini disebabkan karena sebelum mengenal kebenaran Injil, seesorang telah terbiasa hidup dengan cara hidup seperti anak-anak dunia; manusia di sekitarnya.

Kalau jujur, dapat ditemukan hampir semua manusia menjalani harinya hanya untuk memiliki sebuah cara hidup seperti manusia di sekitarnya atau yang telah diwarisi dari orang tua. Sebuah  cara hidup yang jauh dari standar yang Tuhan inginkan. Standar hidup yang dimiliki biasanya antara lain: pergi ke sekolah, kuliah untuk menjadi manusia yang berpendidikan dan bergelar, mencari nafkah untuk memiliki berbagai fasilitas, menemukan pasangan hidup, berketurunan, membesarkan anak, mencari menantu, menjaga cucu dan lain sebagainya. Jadi, banyak orang menjalani hari hidup hanya untuk sebuah standar hidup manusia pada umumnya. Inilah cara hidup yang telah diwariskan oleh nenek moyang kepada semua orang, termasuk sebagian besar orang Kristen. Cara hidup standar tersebut  diperjuangkan mati-matian tanpa batas, karena mereka berpikir itulah satu-satunya hidup yang mereka miliki.

Untuk mempertahankan eksistensi cara hidup tersebut mereka berurusan dengan Tuhan dan beragama. Tuhan dijadikan andalan untuk meraih standar cara hidup tersebut. Kebertuhanan dan keberagamaan seperti ini sudah menjadi ukuran atau standar umum. Kebanyakan orang Kristen pun juga demikian dalam menyelenggarakan hidup keberagamaannya. Hal ini disebabkan oleh pengajaran salah yang disuntikkan ke dalam pikiran mereka, baik dari ajaran di luar gereja maupun di dalam gereja sendiri.

Salah satu tanda orang Kristen yang kualitasnya masih rendah ini adalah menjadikan Tuhan sekadar penopang untuk pemenuhan kebutuhan jasmani.

Memang mereka rajin ke gereja dan berdoa, tetapi semua itu hanya sebagai upaya untuk mengeksploitasi Tuhan. Tuhan Yesus hanya dijadikan Juruselamat untuk pemenuhan kebutuhan jasmani. Pada dasarnya mereka tidak bertuhan dengan benar, sebab merekalah yang mau menjadi “tuhan” bagi diri mereka sendiri. Tuhan hanya dijadikan alat untuk meraih kesenangan hidup di bumi ini.

Dalam banyak agama pada umumnya, memang berurusan dengan Tuhan dimaksudkan agar dapat memperoleh pertolongan dari segala persoalan; masalah ekonomi, kesehatan dan segala pemenuhan kebutuhan jasmani. Oleh karenanya terjadi manipulasi dan eksploitasi terhadap Tuhan, dimana Tuhan menjadi pihak yang dimanfaatkan. Karena hal ini, maka relasi antara Allah dan umat sering diikat oleh azas manfaat. Sebagai barternya, umat menyembah dan memuji-muji nama-Nya dalam upacara agama atau seremonial, yang dalam Kekristenan disebut misa atau liturgi kebaktian. Hal ini dianggap sah-sah saja, mereka mengajarkan bahwa memang demikianlah “fungsi Tuhan.”

Berbeda dengan Kekristenan yang sejati, Kekristenan menempatkan Tuhan sebagai Majikan, sehingga umat memang diciptakan hanya untuk Penciptanya. Prinsipnya adalah “Tuhan ada bukan untukku, tetapi aku ada untuk Tuhan.” Umat berusaha untuk menjadi makhluk seperti rancangan semula. Sejatinya, hal ini merupakan satu-satunya hal yang harus dipersoalkan. Hal lain harus menjadi dukungan demi proyek ini. Dengan demikian azas yang dikenakan dalam hidup orang percaya adalah azas devosi.Devosi adalah penyerahan segenap hidup sebagai ekspresi sikap hormat dan tunduk dengan kerelaan dan sukacita kepada Tuhan.

Kekristenan harus dibersihkan dari unsur-unsur agamawi dan duniawi yang merusak kemurniannya.

Ini bukan sesuatu yang mudah, karena pola keberagamaan yang salah yang telah bertahun-tahun mengakar dalam kehidupan gereja. Banyak doktrin gereja agamawi dan pola pikir manusiawi telah disejajarkan dengan Alkitab. Kewibawaan Alkitab sebenarnya telah dirongrong oleh pola pikir yang salah tersebut, khususnya oleh tokoh-tokoh Kristen yang mengaku telah menerima pengajaran langsung dari Tuhan (pengajaran yang sangat subyektif dan tidak bisa dipercaya). Tanpa mereka sadari, mereka telah mengobrak-abrik pengajaran murni yang seharusnya dipahami jemaat. Ciri kehidupan hamba-hamba Tuhan seperti ini adalah tidak hidup dalam kesederhanaan seperti Yesus. Orientasi hidup mereka masih hal-hal duniawi atau pemenuhan kebutuhan jasmani.

Untuk masuk ke dalam kehidupan Kekristenan yang sejati, seseorang harus berani keluar dari segala tradisi keberagamaan yang selama ini dianggap sejajar dengan Alkitab.

Tradisi keberagamaan dalam lingkungan Kristen menekankan liturgi, sistem organisasi, tingkatan dalam gereja di mana ada kelompok imam dan awam. Harus diingat bahwa pada waktu gereja mula-mula, orang percaya tidak memiliki liturgi, tidak ada sistem organisasi, tidak ada jenjang tingkatan dalam gereja dan tidak ada rapat sinode seperti sekarang. Mereka teraniaya hebat, tetapi tetap kokoh dalam hidup Kekristenannya. Kekristenan tanpa gereja, tanpa organisasi, tanpa aset kekayaan dan tanpa liturgi, bahkan hidup tidak terhormat seperti penjahat. Tapi ternyata mereka justru lebih konsekuen mengenakan kebenaran yang diajarkan Tuhan Yesus dan bertingkah laku seperti Tuhan Yesus. Dalam kondisi seperti itu mereka menemukan Kekristenan yang orisinal yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

 

Sekarang banyak orang Kristen telah terlalu jauh masuk dalam kehidupan wajar anak dunia, sampai mereka kehilangan arah dan tidak sanggup lagi mengenakan kehidupan Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen tidak memiliki integritas sebagai anak-anak Allah yang benar yang mengenakan kehidupan Tuhan Yesus. Ini namanya kompromi dan konformisme (menyesuaikan dengan cara hidup anak dunia). Sejatinya, mereka tidak pantas disebut Kristen. Sesungguhnya orang-orang seperti itu tidak mengenal Kekristenan yang sejati. Dan betapa jahatnya kalau ada gereja melalui pembicaranya dengan mudah melegalkan mereka sebagai orang-orang Kristen yang termaterai sebagai anak-anak Allah yang pasti akan masuk surga. Padahal tidak demikian, sebab mereka yang masuk surga adalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Standar melakukan kehendak Bapa adalah kehidupan Tuhan Yesus.

Pada dasarnya, Kekristenan adalah proses perjalanan hidup orang percaya untuk terus menerus mengalami perubahan karakter sehingga bisa mengenakan cara hidup yang diperagakan Tuhan Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti kita dua ribu tahun yang lalu. Dengan demikian Kekristenan sesungguhnya bukanlah agama, tetapi jalan hidup; sebab di dalam Kekristenan yang penting adalah perubahan karakter, dari karakter manusia yang mengenakan kodrat dosa (sinful nature)menjadi manusia Allah yang serupa dengan Tuhan Yesus yang mengenakan kodrat Ilahi (divine nature).

Orang Kristen yang sejati adalah mereka yang menjadikan hidup di dunia ini hanya sebagai masa persiapan untuk kehidupan yang akan datang. Orang percaya yang benar hidup di dunia ini hanya untuk berjuang menjadi seperti Kristus dan menantikan penjemputan Tuhan Yesus yang akan membawanya ke langit yang baru dan bumi yang baru. Dalam hal ini betapa jauh berbedanya orang Kristen abad 21 dengan orang Kristen abad 1.

Pengertian Ibadah

Ibadah kepada Tuhan adalah sikap hati, artinya seorang yang beribadah kepada Tuhan tidaklah diukur dari ritual atau tata cara upacara agamanya, tetapi seluruh tindakan dan perbuatan dalam hidupnya. Tuhan Yesus sama sekali tidak mengajarkan kalau beribadah kepada Tuhan harus melipat tangan, atau mengangkat tangan, harus menghadap ke arah timur atau barat. Menyanyi dengan lagu irama cepat atau lambat, Bahasa Indonesia atau Bahasa Ibrani. Dalam seluruh pengajaran yang Tuhan ajarkan selama 3,5 tahun, Ia menekankan sikap hati yang tentu terekspresi dalam tindakan yang mulia dan agung seperti diri-Nya.

Untuk memahami hal ini, perlulah kita melihat rencana semula Tuhan menciptakan kehidupan ini. Tuhan menciptakan bumi yang sungguh amat baik (Kej. 1:31), manusia diciptakan dan ditempatkan di bumi ini untuk mengelolanya (Kej. 2:15). Sejak semula Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal atau berbudi. Manusia diciptakan segambar dengan Allah (imago Dei). Kalau Allah adalah Allah yang memiliki rasio, maka manusia yang diciptakan segambar dengan diri-Nya juga adalah makhluk yang memiliki rasio yang memampukan manusia berlogika, menganalisa dan lain sebagainya. Dengan akal budi atau rasio tersebut manusia berkreasi mencipta sesuatu.

Oleh karena Allah adalah Allah yang bekerja dengan rasio dan berkreasi, maka manusia yang diciptakan segambar dengan Allah tersebut juga pada hakikatnya adalah manusia yang bekerja dengan rasionya dan berkreasi.  Inilah yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lain dalam dunia ini.  Kemampuan inilah yang membuat manusia mampu bergumul dengan alam dan segala problematika kehidupannya. Itulah sebabnya manusia bisa menjadi mandataris Tuhan mengelola bumi. Kebudayaan manusia telah diawali di Firdaus, yaitu ketika Tuhan memberi mandat kepada manusia untuk menaklukkan bumi. Berbudaya adalah perintah Allah, sebab Tuhan sendiri yang berkata: “…taklukkanlah bumi dan berkuasalah atas ikan-ikan…”(Kej. 1:28). Dalam teks aslinya kata menaklukkan dan berkuasa adalah  kabashdan radah. Kabashbisa berarti to tread down, to conquer, subjudge, violate.Sedangkan radahselain berarti to tread down,juga bisa berarti to crumble off, have dominion, reign.

 Dalam Kejadian 2:15 tertulis: “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”Mengusahakan dan memelihara dalam teks aslinya adalah abad danshamar. Abadbisa berarti to work(bekerja). Melalui kata ini dikesankan bahwa bumi dan alam ciptaan ada dalam keadaan yang masih harus digarap. Dalam teks Bahasa Inggris versi King James diterjemahkan to dress(mendandani). Bumi dalam keadaan masih berupa “bahan mentah” yang harus diolah, dibudidayakan. Di sinilah mandat kebudayaan menjadi begitu nyata. Adapun kata shamarbisa berarti  guard,atau to protect. Manusia dipanggil untuk melindungi atau melestarikan ciptaan-Nya. Untuk perintah ini dibutuhkan sarana. Dalam hal inilah manusia harus berbudaya.

Dengan penjelasan di atas maka nyatalah bahwa Tuhan menghendaki agar manusia mengembangkan segala potensi jasmani maupun rohani yang ada di dalam dirinya untuk mendandani dan melestarikan bumi ciptaan Tuhan ini. Manusia hendak dijadikan “penguasa” oleh Tuhan atas bumi ini. Bumi dengan segala isinya diwariskan kepada manusia. Dengan penaklukkan atas bumi dan penguasaannya, manusia direncanakan untuk mengabdi kepada Tuhan dan berguna bagi sesamanya.Inilah tujuan kebudayaan mengabdi kepada Allah dan hidup bagi kepentingan sesama manusia.

Kejatuhan manusia dalam dosa membuat bumi terkutuk (Kej. 3:14-19), yang mengakibatkan adanya permusuhan antara benih ular dan benih manusia (dunia menjadi ajang pertempuran). Wanita akan melahirkan dalam penderitaan. Manusia mencari nafkah dengan susah payah. Kehidupan di bumi tidak lagi menjadi kehidupan yang ideal. Bagaimanapun, bumi tidak dapat menjadi tempat menetap permanen untuk manusia.

Kemudian Tuhan memiliki  skenario lain dalam pikiran-Nya. Abraham dipanggil sebagai cikal bakal umat pilihan-Nya (bangsa Israel dan orang percaya). Mereka harus memiliki iman seperti Abraham. Kehidupan iman Abraham nampak dari kesediaannya hidup sebagai pengembara atau musafir dalam dunia ini untuk menemukan negeri yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Itulah langit baru dan bumi baru nanti. Untuk mewujudkan rencana-Nya tersebut, Bapa mengirim Putra-Nya Yang Tunggal. Ia harus menebus manusia dari tangan kuasa kegelapan. Pertama, semua orang mati dalam penjara harus dilepaskan, termasuk Abraham. Kedua, melepaskan manusia yang hidup dari cengkeraman kuasa gelap dan kuasa natur dosa untuk menjadi umat pilihan-Nya sebagai persiapan mewarisi langit baru dan bumi baru.

Itulah sebabnya dalam pemberitaan Injil Tuhan Yesus memulai dengan: Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat. Manusia harus berbalik, sebab Tuhan akan menggantikan kerajaan manusia yang jahat dan bercacat dengan Kerajaan Tuhan di negeri yang tidak terlaknat. Orang percaya dipanggil untuk ini. Itulah sebabnya panggilan sebagai orang percaya adalah panggilan sebagai murid, yaitu belajar, belajar dan belajar. Tetapi sekarang diganti dengan ritual, ritual dan ritual.

Salah satu ciri keberagamaan selain ritual adalah usaha memperoleh fasilitas dari Allah yang disembah untuk kehidupan hari ini(biasanya untuk ini perlu sebuah ritual yang berkenan di hadapan allahnya). Di sini terjadi manipulasi dan banyak penipuan. Konstelasi berpikir orang Kristen menjadi rusak dan makin jauh dari kebenaran, sampai tidak bisa lagi mendengar pengajaran yang benar. Tetapi Kekristenan adalah sikap hati yang diubah oleh Firman Tuhan dan usaha belajar memberi segenap hidup untuk Tuhan sebagai persiapan menjadi hamba-hamba dalam Kerajaan-Nya nanti.

Mengapa orang Kristen hari ini terjebak dengan pola yang salah?

Sebab mereka tidak mengerti rencana besar Bapa di surga. Bila kebenaran dipahami salah atau tidak bertumbuh, maka tidak ada pilihan lain selain menjadikan Kekristenan hanya sebagai sebuah keberagamaan yang tidak berbeda dengan agama-agama di sekitarnya. Tapi mengapa bangsa Israel memiliki ritual? Karena Tuhan menggunakan sarana pola manusia di sekitar Kanaan untuk mengajarkan kebenaran-Nya. Sesekali Tuhan juga menunjukkan bahwa korban bakaran mereka tidak memadai untuk Tuhan. Semua ritual adalah sebuah nubuatan mengenai kedatangan anak Domba Allah. Ritual yang diselenggarakan bangsa Israel pada waktu itu sesuai dengan pola berpikir manusia zaman itu.

Pada zaman tersebut mereka belum bisa berpikir dengan cerdas, tentu kita sekarang harus lebih cerdas. Tuhan Yesus berkata bahwa ada saatnya manusia akan menyembah Allah bukan di Yerusalem atau bukan pula di gunung Gerizim, tetapi dalam roh dan kebenaran(Yoh. 4:24). Ibadah yang sejati bagi orang percaya adalah mempersembahkan hidup sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan(Rm. 12:1). Kalau kita meneliti cara-cara dan sistem-sistem manusia menyelenggarakan suatu agama, terdapat kesamaan pola keberagamaan dalam berbagai agama di dunia ini. 

Pola keberagamaan artinya adalah cara, budaya atau kebiasaan yang terdapat pada praktik dimana manusia dalam menyelenggarakan agamanya diyakini sebagai kebenaran. Bila seseorang sudah terbiasa dengan suatu pola dalam menyelenggarakan agamanya, maka sulitlah meninggalkan pola tersebut. Pola keberagamaan tersebut telah menyatu dalam jiwanya dan membentuk yang disebut sebagai “sifat atau karakter beragama.” Itulah sebabnya dari sikap, cara memandang Tuhan, kualitas moral dan pandangan-pandangan seseorang  mengenai hidup ini nampak agama yang dipeluknya.

Masing-masing agama memiliki sifat atau karakter yang khas, selain selalu ada kesamaannya. Pola keberagamaan tersebut telah mengukir suatu paradigma yang kuat dalam diri setiap individu. Sampai stadium tertentu tidak bisa diubah lagi dan filosofinya adalah: “salah atau benar adalah agamaku.” Semakin fanatik seseorang terhadap agamanya dan dalam penyelenggaraan ibadah agamanya, semakin kokoh pola keberagamaan yang terpatri dalam jiwanya.

Salah satu ciri lain dari keberagamaan adalah terbangunnya ritual atau upacara agama. Ciri ini selalu ada hampir dalam semua agama. Ini adalah salah satu kesamaan yang terdapat dalam semua agama di dunia. Hampir tidak ada agama yang tidak memiliki ritual. Dari ritual suatu agama, nampaklah identitas agama tersebut. Dan setiap agama memiliki ritual yang khas, sangat spesifik dan khusus.

Ritual suatu agama biasa diselenggarakan untuk beberapa tujuan, antara lain: Menjangkau allah yang disembah dengan penyembahan. Agar allah yang disembah dapat dijangkau, maka ritualnya tidak boleh salah atau keluar dari aturan yang sudah baku tersusun. Aturannya dianggap sakral,  tidak boleh dilanggar. Pelanggaran terhadap peraturan suatu ritual bukan saja bisa tidak menghadirkan allahnya, tetapi juga mendatangkan hukuman.

Biasanya ritual agama menjadi sarana untuk menyukakan hati allah yang disembah. Semakin tepat cara penyelenggaraan ritual, maka hati allah yang disembah semakin dapat disukakan. Ritual suatu agama juga biasanya menunjukkan “selera allahnya.” Semakin tepat cara penyelenggaraan ritual, maka allah yang diyakini semakin berkenan untuk hadir dan lebih menerima pemujaan yang dilakukan umat. Tentu di balik usaha untuk menyukakan hati allah yang disembah, terdapat azas manfaat. Melalui ibadah, umat bermaksud untuk memperoleh pemenuhan berkat jasmani. Jadi ritual agama menjadi sarana untuk memperoleh perlindungan, rahmat dan berkat dari allah yang disembah.

Terdapat bermacam-macam ibadah, misalnya ritual suatu suku di Indonesia, untuk menghormati allahnya mereka membakar kemenyan. Pesan yang dapat ditangkap adalah, bahwa allahnya menyukai bau kemenyan. Ritual yang lain, dengan menari-nari diiringi musik dan mempersembahkan anak bayi manusia sebagai korban; pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa allah menyukai tarian diiringi musik dan korban anak bayi manusia tersebut. Bila ritualnya menyembah dengan menujukan muka ke suatu arah atau kiblat, seperti orang Yahudi berkiblat ke Yerusalem, maka pesan yang disampaikan adalah bahwa Allah orang Israel menghendaki umat memberi perhatian ke Yerusalem, sebab Allah hadir di bait suci di Yerusalem. Memang pada waktu itu bait suci ada di Yerusalem di mana terdapat Tabut Perjanjian yang merupakan simbol kehadiran Tuhan dan Yerusalem merupakan simbol persatuan bangsa Israel. Dengan cara itulah Tuhan mengajar umat setia kepada Yahweh dan Taurat serta memupuk jiwa kebangsaan demi keutuhan dan kekokohan umat Israel.

Dalam ritual, biasanya terdapat simbol-simbol keagamaan yang penting. Dari ritual suatu agama nampak karakter atau hakikat allah yang disembah. Dalam  ritual nampak apa yang diinginkan allah dari umatnya, juga nampak nyata apa yang diinginkan umat dari allahnya. Ritual suatu agama bisa merupakan landasan doktrin mengenai allah yang disembah dan pola hidup keberagamaan umat tersebut.Mengingat pentingnya ritual agama ini, maka ritual dibuat seagung-agungnya, semegah-megahnya dan sehikmat mungkin.