Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Peran Pendidikan Agama Kristen Dalam Pertumbuhan Gereja – Magazine Sinode GSKI

Maka peran gereja untuk memberikan asupan agar terbentuk anggota-anggota gereja yang berkarakter Kristus menjadi program yang utama. Jemaat diajar untuk bertumbuh ke arah Kristus.

Ilmu pengetahuan dihasilkan melalui mekanisme yang diawali oleh rasa keingintahuan yang dimiliki oleh manusia guna mendapatkan klarifikasi atau pembuktian atas nomena atau fenomena yang terjadi.

Nomena menunjuk kepada sesuatu yang tersirat dan fenomena menunjuk kepada sesuatu yang berwujud nyata. Dengan demikian, segala sesuatu yang berlangsung di atas muka bumi ini memiliki potensi untuk menghasilkan bahan ajar bagi manusia. Tergantung seberapa tingkat keingintahuan manusia itu sendiri untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan atas apa yang diamatinya.

Sebuah penggalan kalimat quote tertulis:“Never stop learning, because life never stops teaching.” Kalimat ini menunjukkan bahwa melalui rangkaian kehidupan, manusia selalu diberikan menu-menu pembelajaran yang fresh dan unique. Masing-masing manusia memiliki menu-menu pembelajaran yang unique, maksudnya tidak sama dengan manusia yang lain. Inilah momentum yang penting yang sering diabaikan oleh manusia. Apalagi ketika manusia mengalami satu peristiwa dalam rangkaian kehidupan yang tidak menguntungkan, penderitaan, atau hal negatif lainnya. Manusia cenderung untuk menghindarinya dan lari sejauh-jauhnya dari kenyataan pahitnya kehidupan. Jika seseorang memahami dan mengamini bahwa: “life never stops teaching”  maka ia akan dapat menerima sepahit apapun keadaan yang dialami, karena justru melalui segala keadaan tersebut ia belajar untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan ‘kehidupan.’

Dengan demikian, untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan sejatinya didapat melalui sebuah proses yang ketat dan bertahap serta dibutuhkan ketekunan melebihi orang pada umumnya. Perhatikan bagaimana proses hukum gravitasi ditemukan oleh Newton. Semua orang melihat dan tahu bahwa bahwa buah apel jatuh (ke bawah) tetapi seberapa banyak orang yang mengamati seraya mempertanyakan: “Mengapa buah apel itu jatuh (ke bawah)?” Di sinilah ilmu dan pengetahuan ditumbuh-kembangkan melalui penglihatan, pengamatan, dan analisis yang mendalam. Oleh karenanya, semua yang terjadi di atas muka bumi ini harus dapat dijelaskan secara konkret, sistematis, dan komprehensif.

Proses pendidikan harus dapat menerjemahkan sesuatu yang abstrak dan imajiner menjadi konkret melalui berbagai metodenya. Proses pendidikan harus dapat membantu seseorang memiliki cara berpikir yang sistematis dan komprehensif (lengkap dan menyeluruh). Oleh karena itu, pendidikan dan proses yang berlangsung di dalamnya memiliki peran dan tanggung jawab yang penting dan strategis bagi setiap insan manusia. Pendidikan tidak sekadar menjadikan manusia yang tidak tahu menjadi tahu sehingga ia memiliki pengetahuan tertentu. Tetapi lebih dari pada itu, pendidikan harus membawa manusia kepada tingkatan yang jauh lebih tinggi yakni ia tahu mengapa ia menjadi manusia? Apa perannya? Apa tanggung jawabnya? Rangkaian pertanyaan lainnnya adalah menyangkut pengaruh atau dampak yang ia dapat berikan sebagai manusia yang terdidik. Ringkasnya, peran pendidikan adalah bagaimana ‘memanusiakan’ manusia.     

Sampailah kita kepada satu pertanyaan penting:
“Bagaimana peran pendidikan agama Kristen dalam pertumbuhan gereja?”

Institusi pendidikan yang utama dan pertama setiap manusia adalah keluarga. Orangtua merupakan tenaga pengajar yang pertama dalam setiap kehidupan manusia. Inilah momentum yang paling penting bagi pertumbuhan keilmuan dan karakter manusia terbentuk. Oleh karena itu, orangtua adalah guru yang paling bertanggung jawab dalam rangkaian proses pendidikan setiap insan manusia. Orangtua harus memperlihatkan lembar-lembar kehidupan melalui contoh yang dapat diteladani dan diikuti oleh anak-anak.

 

Dengan mengatakan orangtua adalah tenaga pengajar utama dan pertama buat anak-anak maka guru, gereja, dan institusi yang lain merupakan rekan kerja (co-worker) bagi orangtua. Hal ini disampaikan agar pembaca dapat memahami bahwa peran orantua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Pemegang tanggung jawab tertinggi dalam hal pendidikan anak-anak adalah orangtua, bukan guru, pendeta di gereja, atau lainnya.

 

Dengan melihat betapa penting dan strategisnya proses pendidikan maka gereja sebagai co-worker orangtua harus memiliki kesatuan pandang, visi, dan misi dalam memberikan didikan kepada anak-anak. Anak-anak yang tergabung dalam kelas-kelas sekolah minggu, komisi remaja, dan pemuda merupakan capital dalam pertumbuhan gereja di masa yang akan datang. Anak-anak harus dipersiapkan dengan segala keilmuan, keterampilan, dan karakter yang excellent yang satu saat akan menggantikan generasi sebelumnya.

        

Guru-guru sekolah minggu dan para pembicara di kelas remaja, pemuda, bahkan umum harus menyediakan bahan dan metode pembelajaran yang sistematis, komprehensif, dan up to date. Materi dan metode ajar ibarat dua sisi yang terdapat dalam sekeping mata uang, yaitu dua hal penting yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.  Jika materi ajar sudah baik tetapi tidak disertai dengan metode pengajaran yang sistematis maka tujuan proses pembelajaran tidak akan tercapai secara maksimal. Begitu pun sebaliknya. Penulis melihat bahwa pertumbuhan gereja tidak sekadar terlihat dari aspek kuantitatif atau jumlah jemaat saja. Tetapi, bagaimana peran gereja dapat menumbuh-kembangkan jemaat untuk memiliki kualitas manusia ‘ilahi.’

Manusia ilahi yang memiliki karakter seperti Kristus Yesus. Tuhan Yesus yang selalu berupaya menyenangkan hati Bapa-Nya. Ketika seseorang memiliki karakter Kristus maka ia adalah seseorang yang pasti bertanggung jawab, rajin, dan jujur. Maka peran gereja untuk memberikan asupan agar terbentuk anggota-anggota gereja yang berkarakter Kristus menjadi program yang utama. Jemaat diajar untuk bertumbuh ke arah Kristus.

Sebagai dampak pertumbuhan ke arah Kristus akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam soal-soal kehidupan. Bangsa Indonesia akan mendapatkan “bonus demografi” pada saat memasuki tahun-tahun emas kemerdekaan (2045). Bonus demografi menunjuk kepada porsi terbesar populasi bangsa Indonesia diisi oleh para pemuda yang memiliki usia produktif. Tentunya hal ini menggembirakan sekaligus menakutkan. Apa pasalnya? Ini merupakan pekerjaan yang sangat penting dan menentukan negara Indonesia ke depan. Segala usaha harus dipersiapkan dan dilakukan guna memperlengkapi generasi milenial (Alpha Generation) memiliki keilmuan, keterampilan, dan karakter yang memadai. Jika tidak maka bonus demografi akan menjadi malapetaka yang menakutkan. Kita akan memiliki jutaan pemuda yang miskin pengetahuan, kerdil keterampilan, dan rendah moral serta karakternya.

Oleh karena itu, orangtua dan gereja harus bersatu padu dalam memikul tanggung jawab yang besar ini.

Sudah tidak zamannya kita saling berkompetsisi dan menjatuhkan. Nilai pengetahuan bukanlah segalanya. Setiap keluarga dan gereja harus memiliki semangat kolaborasi. Yang kuat bertanggung jawab untuk memikul yang lemah. Yang memiliki lebih bertanggung jawab untuk memenuhi mereka yang kurang. Anak-anak sejak dini harus diajari bertanggung jawab kepada teman-temannya. Ajaran yang diajarkan bukan sekadar teori melalui ceramah tetapi melalui contoh dari kehidupan orangtua dan gurunya.

Setiap zaman memiliki tantangannya yang khas yang tentunya berbeda dengan zaman-zaman yang lalu dan akan datang. Zaman kini dimana anak-anak hidup dalam milenium perubahan yang serba cepat dan instant. Perubahan dimana orangtua dan guru-guru dibutuhkan kehadirannya untuk mengawal pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Orangtua dan guru harus hadir di kanal-kanal sosial media dimana anak-anak ‘bermain.’ Sehingga kehadiran orangtua dan guru dapat membantu dan mengantisipasi ketika anak-anak melakukan ‘permainan’ di sosial media yang kasar, amoral, dan dapat merugikan orang lain serta dirinya sendiri.

Inilah dunia anak-anak yang hidup di era milenial yang tidak dapat dihindari tetapi harus dihadapi dengan bijak. Orangtua dan guru harus tetap di samping mereka, menuntun, dan mengarahkan agar mereka dapat melalui “hutan belantara kehidupan” dengan baik. Inilah peran pendidikan dalam konteks kekristenan yakni menjadikan manusia-manusia yang siap menghadapi tantangan ke depan. Tantangan kehidupan yang harus diantisipasi dengan keberpemilikkan pengetahuan yang memadai sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Ditambah dengan memiliki keterampilan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Serta disempurnakan dengan karakter, moral, dan mental yang kuat serta berintegritas. Dengannya, orangtua dan guru akan rela serta siap untuk melepaskan genggaman tangannya agar anak-anak dapat memasuki dunia nyata. Melalui pendidikan yang berorientasi pada karakter Kristus anak-anak akan sanggup menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan tantangan dan ketidak-pastian. Karena justru melalui tantangan dan ketidak-pastian itulah anak-anak terbentuk untuk memiliki karakter seperti Kristus. Amin.

 

Selamat mendidik.

Tuhan Yesus memberkati.