Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
New Year Message – Magazine Sinode GSKI

Saudaraku,

Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia datang ke dunia ini bukan untuk membawa damai, melainkan pedang (Mat. 10:34). Pedang di sini menunjuk pada goncangan-goncangan yang mengganggu kenyamanan hidup manusia. Pada akhir bulan November 2018, kita mendengar berita bahwa dunia Barat kembali mengalami ketegangan akibat penghalangan kapal Ukraina oleh Rusia yang disertai dengan kekerasan dan penembakan. Satu bulan kemudian pada tanggal 22 Desember 2018, Ibu Pertiwi kembali berduka akibat gelombang Tsunami di Banten yang menewaskan lebih dari 400 korban jiwa dan 7200 korban luka-luka. Kuat disinyalir bahwa Tsunami Selat Sunda ini diakibatkan oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terletak tidak jauh dari daerah Jawa Barat. Kejadian ini mirip seperti Tsunami Aceh yang terjadi selang satu hari sebelum hari Natal tahun 2004 silam. Kejadian-kejadian ini tidak mengherankan, sebab Tuhan Yesus sendiri juga yang berkata bahwa akan terjadi perang dan gempa bumi di berbagai tempat. Semua ini barulah sebagian dari penggenapan Firman Tuhan. Kita akan masih melihat banyak hal yang tertulis dalam Alkitab yang akan digenapi secara akurat.

Saudaraku,

Perlu dipertegas bahwa Tuhan sering berbicara melalui berbagai sarana. Salah satu sarananya adalah melalui sejarah manusia; di dalamnya termasuk peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam dunia ini. Peristiwa kecil saja bisa memuat pesan Tuhan, apalagi peristiwa-peristiwa besar. Bila Tuhan memberikan pesan-Nya, itu berarti ada peristiwa lain yang akan mengikutinya, yang melalui peringatan tersebut kita diajak untuk berjaga-jaga. Keadaan zaman ini hendaknya membuat mata hati kita menjadi tajam untuk menangkap pesan Tuhan melalui peristiwa dahsyat yang terjadi hari-hari ini. Sebab pesan ini memuat nasihat yang kuat bagi kita dalam memasuki tahun baru 2019. Nasihat atau pesan kuat yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa dunia yang kita huni ini tidak menjanjikan, artinya tidak akan membuat hidup penghuninya semakin nyaman. Dunia di mana kita hidup makin mengancam kesejahteraan manusia yang hidup di dalamnya. Kesukaran-kesukaran dunia yang semakin bertambah ini tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Kesukaran ini akan menimpa semua penduduk bumi. Inilah tribulasi atau masa sengsara atas dunia.  Tidak ada doa yang dikabulkan agar dunia terhindar dari keadaan buruk ini. Saudara boleh berdoa untuk kesejahteraan dan damai dunia ini, tetapi nubuatan dan penentuan Tuhan tidak dapat dibatalkan.  Cepat atau lambat kita semua akan mengalami dampak dari nubuatan ini.

Saudaraku,

Bagaimana sikap hati kita dalam menghadapai keadaan dunia kita hari ini?  Sikap hati yang harus kita bangun adalah bahwa kita tidak boleh menciptakan suasana sejahtera dan damai dalam hati berdasarkan kenyamanan dunia di sekitar kita, sebab dunia di mana kita hidup ini tidak semakin membaik, tetapi semakin memburuk. Adalah bodoh kalau kita berharap dunia kita semakin membaik dan kita bisa menciptakan kenyamanan melaluinya. Kenyamanan oleh fasilitas dunia ini membuat manusia melupakan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Manusia melayani dirinya sendiri dan kehilangan naluriah rohani. Dalam hal ini Tuhan akan selalu menggoncang kehidupan anak-anak-Nya yang mulai melupakan panggilan-Nya; supaya mereka kembali kepada panggilan-Nya, yaitu memiliki kehidupan yang bersekutu dengan Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya. Berharap menikmati damai sejahtera dari fasilitas dunia ini sama dengan dosa berhala.  Maka kita harus belajar kebenaran murni yang membawa dan melatih kita untuk dapat menikmati damai sejahtera Tuhan yang nyata atau riil. Bukan sebaliknya, di mana kita berhubungan dengan Tuhan hanya karena mau memanfaatkan Tuhan guna meraih segala fasilitas dunia guna menciptakan kebahagiaan jiwa. Kita harus belajar merasa cukup dengan apa pun yang ada pada kita. Selanjutnya, kita harus merasa puas bila memiliki Tuhan, sebab Yesus cukup dan memuaskan bagi kita. Dengan demikian suasana jiwa kita dilatih untuk menikmati damai sejahtera Tuhan yang tidak sama seperti yang diberikan dunia ini. Masalahnya kemudian adalah bagaimana sikap hati kita menghadapi keadaan dunia hari ini? Apakah kita memberi diri dilatih oleh Tuhan untuk memiliki suasana jiwa yang menikmati damai sejahtera sejati itu atau malah menganggapnya sepi?

Saudaraku,

Kita harus belajar untuk merindukan Kerajaan Tuhan saja. Hal ini sama dengan menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali, yang akan membangun Kerajaan tanpa air mata dukacita, perang dan bencana. Dunia sempurna yang Tuhan sediakan hanya bagi orang percaya yang setia sampai akhir. Tidak salah untuk memimpikan sebuah kehidupan yang sempurna dan tidak bermasalah. Namun mimpi itu tidak akan terwujud di bumi ini, tetapi nanti ketika semua kerajaan dan pemerintahan dunia diakhiri. Semangat inilah yang seharusnya diteruskan dan dikobarkan, agar maksud kedatangan Tuhan di dunia terwujud, yaitu bahwa Ia hendak datang membangun Kerajaan-Nya di atas muka bumi. Jangan sampai ada di antara kita yang termasuk orang Kristen yang merayakan Natal, tetapi tidak akan berjumpa dengan Tuhan Yesus. Kedatangan-Nya yang pertama sebagai Bayi kecil hina yang tertolak, tetapi Ia akan datang kembali sebagai Raja dengan pasukan malaikat dan segala kemuliaan yang sangat menggetarkan.

Selamat Tahun Baru 2019.

Pdt. Dr. Erastus Sabdono