Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/demoacc/apps/magz-sinode-gski/public/wp-content/themes/salient/functions.php on line 73
Gereja Bukan Tuhan – Magazine Sinode GSKI

Kalau pelayanan gereja tidak bermuara pada

usaha merubah kehidupan normal manusia menjadi normal

di mata Tuhan, maka gereja pasti hanyut dalam usaha

menyelamatkan kehidupan di dunia ini,

yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata.

-Pdt. Dr. Erastus Sabdono

GEREJA MEMBUTUHKAN KOREKSI

Gereja harus dibangunkan dari “kasur pasivitas rohani”, di mana gereja telah tertidur dan tidak menggunakan pikiran cerdas yang logis secara Alkitabiah untuk mengoreksi diri. Gereja telah merasa puas sebagai gereja yang diberkati Tuhan dengan jumlah anggota gereja yang banyak, gedung megah dan berbagai aset yang sangat besar. Ditambah lagi dengan fenomena karunia Roh Kudus yang berhasil didemonstrasikan dalam praktik pelayanan, gereja merasa sudah ada di dalam rel kebenaran dan perkenanan Tuhan. Terdapat pula gereja yang sudah eksis selama puluhan tahun -bahkan ratusan tahun- sehingga sudah merasa sebagai gereja “yang sudah berpengalaman”. Mereka merasa tidak perlu “dinasihati”. Mereka lupa bahwa dalam sejarah gereja, gereja yang berusia ribuan tahun pun bisa menyimpang dari kebenaran Alkitab dan memerlukan “reformasi” guna pertobatan dan pemulihannya. Padahal kenyataan yang dapat dilihat banyak gereja telah keluar dari rel kebenaran Tuhan.

Kritik dan koreksi terhadap gereja-gereja tersebut sangat dibutuhkan. Hendaknya kritik dan koreksi tidak dianggap sebagai pekerjaan Iblis yang mengganggu ketenangan pelayanan. Sikap curiga terhadap kritik dan koreksi merupakan kerugian yang sangat besar. Momentum penting dan berharga menerima kritik dan koreksi bisa berlalu dan mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk diperbaharui, sehingga gereja menjadi menjadi “arogan”.Arogansi seperti ini membangun kekerasan hati para pemimpin gereja yang semakin kuat sehingga tidak bisa lagi menerima kritik dan koreksi sama sekali.  Gereja seperti itu bisa benar-benar sesat, suara yang sering diakui dan dianggap sebagai suara Roh Tuhan ternyata suara “roh gereja” (suara manusia atau kebijakan-kebijakan organisasi) yang bukan berasal dari hati Tuhan sendiri.  Mereka merasa sebagai gereja Tuhan yang resmi sebab tetap eksis dengan jumlah jemaat yang banyak, sistim organisasi dan pemerintahan gereja yang solid, tetap menjalankan liturgi atau misa yang “memuliakan Tuhan”, melakukan kegiatan amal sosial atau diakonia, dapat mendemonstrasikan fenomena yang diakui sebagai karunia Roh Kudus dan memiliki teologi yang menurut mereka tidak terbantahkan.

Biasanya gereja seperti ini tidak menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya pengawal utama perjalanan pelayanan dan pengajarannya. Alkitab digantikan dengan beberapa hal; di antaranya ajaran-ajaran filsafat, tradisi-tradisi gereja, visi-visi pribadi, karunia-karunia roh dan pengalaman pribadi pemimpin spiritual dan berbagai ornamen lainnya. Alkitab memang tidak dibuang, tetapi tidak digali secara proporsional. Banyak pengajaran dalam gereja yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang orisinal, tetapi pengajaran yang salah tersebut dilestarikan sebagai warisan yang pantang direvisi.Dogma gereja dan tradisi gereja disejajarkan dengan Alkitab. Mereka menutup mata terhadap penyimpangan-penyimpangan dari kebenaran Tuhan. Sebagai akibatnya jemaat Tuhan memiliki gambaran yang salah mengenai Tuhan dan kebenarannya, sehingga jemaat disesatkan.

Setelah satu sampai lima dasa warsa (10-50 tahun) sejak tahun 1975, perlulah kita mengevaluasi kegerakan rohani yang terjadi di negeri ini.

  • Apakah gereja masih membawa jemaat kepada maksud tujuan keselamatan yang benar dalam Yesus Kristus?
  • Apakah gereja benar-benar membangun jemaat Tuhan untuk menjadi pribadi seperti tujuan Tuhan menciptakan manusia?
  • Apakah gereja masih mengajarkan Injil yang murni, injil yang orisinal?
  • Bagaimana rapornya?

Gereja-gereja baru yang telah lahir dalam dekade ini ternyata menunjukkan kecenderungan mengajarkan ajaran-ajaran yang sebenarnya bertentangan dengan kemurnian Alkitab. Kalau gereja yang sudah ada selama ratusan tahun bisa menyimpang dari ajaran Alkitab, apalagi gereja-gereja baru yang pemimpin-pemimpinnya kurang memiliki fondasi pengetahuan Alkitab. Dalam hal ini koreksi bukan hanya ditujukan kepada gereja-gereja baru ini, tetapi juga kepada semua gereja (termasuk gereja mainstream) yang juga adalah “keluarga kita sendiri”.

Koreksi yang dilakukan terhadap gereja haruslah memiliki tolak ukur dan landasan Alkitab. Oleh sebab itu Alkitab harus dibedah secara benar untuk memperoleh kebenaran sebagai sebagai tolak ukur atau landasan berpikir, sehingga dapat memperoleh cara pandang yang benar dan muatan kebenaran yang berkualitas tinggi (sesuai dengan kebenaran original Alkitab). Cara pandang dan teologi yang tidak dipengaruhi oleh doktrin atau sentimen-sentimen negatif maupun positif, adalah cara pandang yang tulus dan obyektif terhadap gereja kita hari ini berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.

Berkenaan dengan penggunaan Alkitab sebagai tolak ukur dan landasan berpikir, masalahnya terletak pada tidak mudahnya memahami isi Alkitab tanpa kerja keras. Kerja keras di sini meliputi usaha memahami latar belakang Alkitab, maksud penulisan setiap kitab, memahami konteks penulisan, mengerti bahasa asli Alkitab dan lain sebagainya. Memahami kebenaran Alkitab bukan sesuatu yang mudah.

Tanpa disadari oleh banyak pemimpin gereja dan jemaat, gereja telah terjerat dan terjebak dalam pasivitas rohani.Pasivitas atau kepasifan artinya keadaan tidak aktif, ini lawan pengertian dengan aktif, agresif. Pasivitas rohani artinya kehidupan rohani tidak bertumbuh. Gereja yang terjerat pasivitas rohani ini bukan berarti berhenti menyelenggarakan kegiatan-kegiatan gereja yang dianggap sebagai kegiatan rohani atau pelayanan. Gereja masih melakukan kegiatan pelayanan, bahkan bertambah cakap dalam pekerjaan-pekerjaan gerejani. Gereja bisa menjadi semakin banyak anggotanya, semakin megah gedungnya, semakin besar asetnya dan semakin berkembang dalam berbagai bentuk dan tehnis pelayanan. Tetapi apa yang dilakukan “tidak berdaya guna rohani”, artinya tidak membuat kedewasaan rohani jemaat bertumbuh di hadapan Tuhan dengan pertumbuhan yang benar. Pertumbuhan yang benar di sini maksudnya adalah pertumbuhan ke arah kesempurnaan Kristus, suatu kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela dengan memperagakan pikiran dan perasaan Kristus.

Marilah dengan jujur kita pertanyakan, apakah jemaat yang sekarang berbondong-bondong datang ke gereja benar-benar telah mengalami kelahiran baru atau hidup baru sesuai dengan standar kebenaran Alkitab? Hendaknya kelahiran baru yang dipahami bukan hanya berdasarkan ukuran bahwa mereka yang tadinya tidak ke gereja sekarang sudah ke gereja. Bahkan pembaharuan hidup tidak hanya diukur dengan perubahan moral atau budi pekerti manusia; tadinya suka berjudi sekarang berhenti berjudi, tadinya suka pergi ke lokalisasi prostitusi sekarang tidak lagi melakukan hal tersebut. Pertobatan seperti ini juga dilakukan dan dimiliki oleh agama lain. Pertobatan yang benar adalah pertobatan kepada Tuhan melalui perubahan pola berpikir, bukan pertobatan kepada agama.

 

GEREJA BUKAN TUHAN

Selama ini gereja dianggap dan diperlakukan sebagai satu-satunya “wakil Tuhan” yang tidak bisa bersalah dalam menggembalakan umat-Nya. Sering gereja dipromosikan secara terang-terangan maupun terselubung oleh para rohaniwannya sebagai institusi yang tidak bercacat dan nyaris sempurna. Walaupun promosi tersebut tidak secara terang-terangan dan vulgar, tetapi kesan kuat yang dipancarkan adalah bahwa gereja dinyatakan sebagai wakil Tuhan di dunia yang tidak boleh dikritisi dan dikoreksi. Mengkritisi dan mengoreksi gereja, berikut para rohaniwannya, berarti melawan gereja.

Orang Timur yang kurang berani bersikap kritis dan terang-terangan mengoreksi (karena lebih bayak “sungkan” atau mengedepankan perasaan), sering enggan bersikap kritis terhadap gereja yang sebenarnya harus dikritisi dan dikoreksi secara jujur dalam kasih. Bersikap kritis dan korekstif terhadap gereja dianggap sebagai “kurang ajar” atau tidak pantas, maka lebih memilih bersikap menerima saja apa adanya keberadaan gereja. Oleh sebab itu lebih banyak orang Kristen di Timur -termasuk masyarakat Kristen di Indonesia- menolak untuk berbicara mengenai kesalahan gereja dan para rohaniwannya. Lebih aman dan merasa sejahtera bersikap diam seribu bahasa. Sikap ini sebenarnya adalah sikap tidak bertanggung jawab. Hendaknya orang percaya tidak ragu-ragu mengevaluasi gereja dan melakukan kritik serta koreksi setajam-tajamnya dan seteliti-telitinya

Harus diakui bahwa gereja bukan Tuhan. Gereja masih di dunia, kemungkinan para rohaniwannya melakukan kesalahan bukan sesuatu yang mustahil. Oknum-oknum yang menahkodai atau menyelengarakan pelayanan dalam gereja adalah orang-orang berdosa yang sedang terus menerus mengalami proses pendewasaan, jadi belum sempurna. Oleh sebab itu tidak boleh merasa sebagai “manusia super” yang kebal terhadap penyimpangan. Gereja tidak boleh mengesankan bahwa para rohaniwannya adalah manusia yang sudah sempurna yang kebal terhadap dosa sama sekali dan tidak mewarisi kodrat dosa (sinful nature) sama sekali.

Orang percaya harus waspada, bahwa musuh terus berusaha agar gereja tidak bersikap korektif, gereja dibuat lelap dalam buaian kepuasan diri sebagai gereja yang merasa tidak perlu dan tidak boleh dikritisi dan dikoreksi. Hendaknya orang percaya tidak berpikir bahwa musuh telah kalah, bertekuk lutut tak berdaya sama sekali. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa musuh adalah oknum bodoh yang gerak manuvernya mudah terbaca atau terdeteksi. Tuhan mengingatkan orang percaya untuk senantiasa sadar dan berjaga-jaga, sebab Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya(1Ptr. 5:8).Gereja yang mengesankan bahwa musuh sudah kalah total, tidak berdaya dan bukan ancaman yang membahayakan adalah gereja yang sedang tertawan.

Kalau ternyata gereja melakukan kesalahan atau tidak berjalan pada koridor kebenaran Tuhan, maka banyak jiwa-jiwa akan menuju kegelapan abadi tanpa mereka sadari. Kalau kita tidak bersikap kritis dan korektif terhadap gereja hari ini, maka gereja ada pada situasi yang sangat berbahaya. Oleh sebab itu melakukan usaha kritik dan koreksi terhadap gereja adalah tindakan yang sangat penting dan mendesak. Jika gereja melakukan kesalahan dan tidak dikoreksi, maka berarti musuh yang ada di luar gereja jauh kurang membahayakan dibanding gereja sendiri. Musuh di luar gereja bisa diantisipasi dengan segala kewaspadaan, tetapi gereja yang menyesatkan tidak akan diwaspadai karena dianggap selalu benar. Oleh sebab itu setiap hamba Tuhan harus selalu memperhitungkan kalau-kalau ada penyesatan dalam dirinya dan kesalahan dalam gereja yang dilayaninya.

Sejak tahun-tahun itu, persekutuan-persekutuan doa diadakan dimana-mana, bukan hanya di rumah-rumah tetapi juga di gedung-gedung pertemuan, di kantor-kantor dan berbagai komunitas.  Dari persekutuan doa ini lahirlah gereja-gereja yang dikelompokkan sebagai gereja karismatik, aliran pentakosta, aliran praise and worship, gereja gerakan Roh Kudus dan yang sekarang muncul adalah gereja aliran propheticdan apostolik. Berbagai praktik pelayanan yang selama ini belum ada, mulai bermunculan. Gereja tidak lagi menjadi pusat pertemuan jemaat Kristen sebab semua tempat dan gedung bisa menjadi sarana ibadahnya. Berbagai pola pelayanan dan liturgi mulai bermunculan sangat variatif dengan spontanitas tinggi. Ibadah dalam banyak gereja menggunakan alat musik lengkap (fullband) dan sound systemyang canggih. Lagu-lagu baru mulai menjamur bermunculan setiap minggu dan dinyanyikan jemaat. Suatu pergerakan dan pergeseran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kekristenan di Indonesia memasuki era baru.

Pergerakan ini melahirkan gereja-gereja besar (mega church) yang dirintis oleh kelompok awam yang tidak dibekali dengan pengetahun Alkitab yang memadai. Biasanya mereka berasal dari berbagai profesi dan bidang kehidupan; mantan pengusaha, mantan atlit, mantan eksekutif di suatu perusahaan dan lain sebagainya. Banyak faktor yang memicu mereka menjadi “hamba Tuhan fulltimer”, tetapi biasanya selalu berangkat dari kesaksian pribadi bahwa mereka dipanggil Tuhan untuk melayani Dia. Berbekal kemampuan manajerial dan marketing yang tinggi dan profesional, terbangunlah mega churchyang menyedot banyak anggota ke dalamnya, termasuk anggota yang berasal dari berbagai gereja yang sudah ada, khususnya dari gereja-gereja “mainstream”.

Perpindahan jemaat tersebut memunculkan tuduhan “mencuri domba orang lain”. Gereja-gereja baru itu biasanya tidak terlalu peduli dengan tuduhan semacam itu. Nyatanya, jemaat mau pindah gereja dan dan betah di gereja yang baru. Ya tentu saja betah, sebab ruangannya bersih ber-AC, musiknya bagus, liturginya menarik dan spontanitas, pembicaranya energik dan kadang sangat bersifat entertain, ada jemputan gratis, ada snackatau bantuan sosial atau diakonia dan lain sebagainya.

Iklim ini bisa menciptakan kapitalisme dalam lingkungan gereja-gereja di Indonesia, pemodal kuatlah yang akan berhasil menarik jemaat. Tidak dapat dipungkiri, dewasa ini beberapa gereja-gereja telah masuk dalam arena kompetisi. Gereja yang berani memasang iklan dan membuat advertensi besar-besaran dengan menampilkan penyanyi rohani, artis, janji kesembuhan, pelepasan kutuk-kutuk, mukjizat untuk menjawab semua kebutuhan dan acara menarik lainnya, akan lebih menarik dan diminati. Biasanya gereja-gereja baru ini tidak mengakui bahwa “pertambahan jumlah jemaat terbesar” adalah perpindahan atau mutasi jemaat dari gereja lain. Mereka mengakui bahwa anggota yang terdaftar adalah hasil “tuaian di akhir zaman”. Padahal di antara gereja-gereja baru tersebut -untuk menambah jumlah yang hadir dalam kebaktiannya- ada yang sengaja menyediakan alat transportasi jemputan untuk menjemput anggota gereja lain. Tidak salah menyediakan jemputan, tetapi kalau jemputan tersebut secara provokatif diparkir di depan gereja lain dan mengangkuti jemaatnya, adalah sesuatu yang kurang etis dan menyisakan guratan luka kepahitan atas hamba-hamba Tuhan lain. Dalam hal ini persaudaran dalam Tuhan menjadi kurang harmonis, padahal Tuhan sangat menginginkan orang percaya saling mengasihi (Yoh. 13:34-35)

Dalam perkembangannya, gereja-gereja mainstreamharus mengakui bahwa gereja-gereja baru ini tidak mudah dikatakan sebagai “gereja ilegal”. Pada kenyataannya masyarakat mengakui kehadiran mereka sebagai gereja yang “diberkati Tuhan”. Tidak sedikit tokoh-tokoh mereka pun dilirik oleh para politisi untuk memperoleh dukungannya. Gereja pun menjadi terlibat dalam gelangang politik praktis. Seperti pemilihan presiden dan wakil presiden, beberapa capres dan cawapres mengunjungi kantor-kantor sinode gereja, para pejabat gerejanya pun juga dikumpulkan untuk mendengar ceramahnya sebagai sarana kampanye.

Gereja-gereja baru ini bukan saja memiliki angggota puluhan ribu -bahkan ratusan ribu-, memiliki gedung-gedung megah, aset-aset yang nilainya ratusan milyar rupiah, tetapi juga berhasil membangun sekolah umum, sekolah tinggi teologi, stasiun radio, televisi dan pemimpin-pemimpinnya muncul di televisi nasional. Orang-orang Kristen di Indonesia pun terwarnai oleh pelayanan mereka. Orang Kristen di Indonesia mengalami kebangunan rohani. Harus diakui, banyak orang bertobat dan masuk gereja menjadi anggotanya.

 

TUGAS PELAYANAN GEREJA

Banyak gereja-gereja memiliki tujuan pelayanan membawa sebanyak mungkin orang menjadi anggotanya. Diharapkan anggotanya rajin pergi ke gereja mengikuti kebaktian dan berbagai aktivitas rohani lainnya. Dikesankan kepada jemaat, bila mereka muncul di gereja maka otomatis juga akan ada di surgajuga nanti.  Hal itu diajarkan sebagai “mencari dahulu Kerajaan Allah”.  Tahap berikutnya bila jemaat tersebut dipandang sudah bisa mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gerejani, maka diajak turut serta mengambil bagian dalam kegiatan gereja sebagai “melayani Tuhan”. Selanjutnya, mereka didorong memberi persepuluhan, ucapan syukur, persembahan sulung, persembahan setiap minggu (kolekte) dan lain sebagainya yang menjadi bagian dari pelayanan penting untuk Tuhan dan sering diajarkan sebagai “rahasia memperoleh berkat berlimpah dari Tuhan”. Biasanya agar jemaat memberi lebih banyak, diberi kata-kata dorongan: bahwa Tuhan akan memberi berlipat kali ganda, tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat dan seratus kali lipat. Padahal kelipatan ini konteksnya bukan untuk persembahan uang, tetapi benih iman yang tumbuh dalam kehidupan seorang anak Tuhan (Mat. 13).

Gereja seperti ini berusaha menjadi maju bertumbuh dan berkembang dengan kekuatan finansial maupun sumber daya manusia. Mereka terus mengusahakan ekspansi agar menjadi gereja yang anggotanya banyak, gedungnya megah dan asetnya besar pula. Gereja seperti ini biasanya dianggap sebagai gereja yang ideal. Pemimpinnya akan berpeluang membangun proyek-proyek pelayanan yang akan “menggerakkan” banyak orang kaya mempersembahkan uangnya. Dengan uang banyak, “babel” yang tinggi bisa dibangun, demi kemuliaan nama gereja dan rohaniwannya (tentu tidak mengakuinya demikian).

Gereja seperti ini akan selalu menjanjikan: jemaat akan diberkati Tuhan dalam usaha bisnis atau pekerjaannya, keluarga harmonis, anak-anak berhasil dalam studi dan karir serta mendapat jodoh yang baik, semua anggota keluarga sehat-sehat, kalau ada yang sakit segera Tuhan sembuhkan, bila ada persoalan dalam kehidupan Tuhan segera menolong, hidup bisa dijalani lebih mudah dan bisa membuktikan kepada masyarakat bahwa anak-anak Tuhan itu beruntung dengan ukuran materi atau lahiriah.

Dalam hal ini pemenuhan kebutuhan jasmani sebagai tujuan pelayanan. Padahal tanpa Tuhan pun mereka yang bukan orang Kristen dapat mempertahankan hidup (survive), bahkan bisa hidup berlimpah bila bekerja keras. Tujuan pelayanan yang salah membuat rencana Tuhan tidak dikenali oleh umat-Nya.Bertahun-tahun banyak orang Kristen rajin ke gereja bahkan turut serta mengambil bagian dalam pelayanan, tetapi belum mengerti maksud tujuan keselamatan dalam Yesus Kristus.Banyak aktivitas rohani dan kegiatan gereja -yang disebut sebagai pelayanan- ternyata tidak menyentuh maksud pelayanan yang Tuhan Yesus kehendaki. Sesungguhnya, yang penting adalah bagaimana setiap anggota gereja dapat mengekspresikan imannya dalam perbuatan seperti teladan iman Abraham, sebab iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh.  Tidak ada tujuan pelayanan gereja selain menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya (Mat. 28:18-20).

Jika teks Matius 28:19-20 yang selama ini dianggap sebagai Amanat Agung Tuhan Yesus tidak dijelaskan secara mendalam, maka Kekristenan disamakan dengan agama-agama pada umumnya. Agama-agama pada umumnya menekankan hidup keberagamaan mereka dengan “melakukan hukum” sebagai usaha untuk memperkenan hati allahnya.  Agama Kristen bukanlah agama hukum, artinya kebenaran hidup atau kesalehan bukan dibangun dari melakukan serentetan hukum, tetapi memahami kebenaran Tuhan dan memperagakan kebenaran tersebut dengan pengertian. Dengan memahami kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan, seorang Kristen dapat memiliki kelenturan untuk dapat mengenakan Pribadi Kristus. Mengenakan Pribadi Kristus sama dengan memperagakan seluruh pikiran dan perasaan-Nya. Inilah gol dari pelayanan gereja yang tidak boleh ditukar atau dikurangi nilainya.

Ini berarti bahwa panggilan orang Kristen bukan hanya menjadi “seperti” atau mirip-mirip dengan Tuhan Yesus, tetapi mengenakan pribadi Tuhan Yesus Kristus, sehingga dapat berkata: Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup didalam aku(Gal. 2:19-20). Dengan demikian seseorang dapat memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Flp. 2:5-7). Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus agar kita “mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar”(Flp. 2:12). Mengerjakan keselamatan bukan hanya melakukan hukum-hukum, tetapi memperagakan pikiran dan perasaan Tuhan Yesus.Filipi 2:12 berbicara mengenaihal mengerjakan keselamatandengan takut dan gentar, yang didahului dengan panggilan  untuk memiliki pikiran dan perasaan kristus (Flp.2:5-7).Pada akhirnya, seorang percayayang dewasa akan berkata: “The Lord is my law” (Tuhan adalah hukumku). Proses ini seperti proses kloning, “Pribadi Yesus dikloningkan dalam diri orang percaya”.

Dengan demikian tujuan pelayanan gereja adalah membuat seseorang dapat menjadi “bait suci” Tuhan, dimana kehidupan setia orang percaya hanya untuk melakukan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki. Filosofi hidup seperti inilah yang dikenakan dalam kehidupan Tuhan Yesus Kristus, bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Setiap pengikut Kristus -yaitu mereka yang mengaku percaya kepada-Nya dan menjadi orang Kristen- wajib mengikuti jejak-Nya. Hidup seperti Dia hidup. Bila tidak, berarti tidak percaya, sebab iman adalah perbuatan. Bila tidak demikian, berarti belum bisa dikatakan sebagai orang percaya.

Dengan tujuan pelayanan tersebut, berarti gereja dipanggil untuk benar-benar merubah manusia “normal” menurut dunia menjadi manusia normal bagi Tuhan. Suatu pekerjaan yang mustahil untuk dilakukan. Kalau seseorang sudah bertahun-tahun hidup dengan pola hidup seperti lingkungan dan apa yang diwariskan oleh nenek moyangmereka, kemudian harus merubah diri dengan pola hidup yang berbeda, ini adalah hal yang sangat sulit, bahkan mustahil.  Tetapi bagi Tuhan tentu tidak ada yang mustahil. Inilah tujuan keselamatan dalam Yesus Kristus, yaitu menebus orang percaya dari cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang. Untuk ini Tuhan Yesus menumpahkan darah-Nya (1Ptr. 1:18-19).

Pelayanan gereja memang pelayanan kemustahilan. Kalau hanya usaha untuk membuat orang berbudi pekerti yang baik, tidak perlu menjadi orang Kristen, banyak agama dan pendidikan budi pekerti mengajarkan dan mampu mengubah manusia dapat berbudi pekerti baik. Tetapi Kekristenan merupakan usaha untuk mengubah manusia yang berbudi pekerti manusia menjadi manusia yang berbudi pekerti Tuhan. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus, bahwa lebih mudah onta masuk lobang jarum dari pada orang kaya masuk surga. Perkataan ini bukan hanya ditujukan kepada mereka yang sudah kaya, tetapi mereka yang juga ingin kaya. Padahal hampir semua orang ingin kaya. Jadi hampir semua orang tidak masuk surga. Tuhan Yesus mengatakan bahwa masuk surga adalah jalan sempit, banyak orang berusaha masuk tetapi tidak bisa, hanya sedikit orang yang menemukan kehidupan.

Untuk proses ini seorang anak Tuhan harus terus menerus mengalami pembaharuan pikiran. Pola berpikir yang diubah yang menghasilkan kepekaan terhadap kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna menurut Tuhan. Gol dari proses perubahan pola berpikir inilah yang menghasilkan kelenturan, sehingga seseorang dapat mengalirkan pikiran dan perasaan Tuhan dalam hidupnya serta kesediaan memperagakan apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan.

Kenyataan yang dapat disaksikan hari ini, orang berbondong-bondong ke gereja dengan harapan agar ekonomi, kesehatan dan berbagai masalah pemenuhan kebutuhan jasmaninya diubahkan. Padahal bila karakter berubah, maka seluruh aspek hidup juga berubah. Bila gereja membiarkan kebodohan ini dalam kehidupan jemaat, maka gereja tanpa sadar telah menjadi alat setan membinasakan manusia. Jemaat yang bermotivasi salah tersebut tidak akan masuk proyek perubahan ke arah berbudi pekerti Tuhan.

 

GOL AKHIR GEREJA

Bila fokus jemaat bukan pada mengenal kebenaran Tuhan agar dapat memperagakan Pribadi-Nya, maka terdapat kenyataan bahwa banyak orang non Kristen yang berbudi pekertilebih baik dari orang Kristen sendiri. Demikianlah terdapat cibiran terhadaporang Kristen yang sering fasih berbicara mengenai kasih dan kesucian, tetapi ternyata kelakukannya tidak berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Sebagai akibatnya,banyak orang di luar gereja tidak pernah mengenal Injil Tuhan Yesus Kristusdan tidak pernah diselamatkan. Tokoh besar dari India, Mahatma Gandhi,pernah menyatakan bahwa yang membuat ia tidak akan pernah menjadi orang Kristen adalah orang-orang Kristen sendiri yang tidak menampilkan kehidupan seperti Gurunya, Tuhan Yesus Kristus. Oleh sebab itu dalam pelayanan seorang pemimpin rohani harus menampilkan kehidupan Tuhan Yesus. Hari ini banyak pendeta lebih dekat disebut selibriti daripada seorang hamba seperti Guru dan Tuhannya.

Seorang pemimpin jemaat harus dapat menampilkan kehidupan Yesus Kristus dalam seluruh perilakunya(proses kloning). Bila tidak, maka gereja yang dilayani pasti tidak benar. Disini seorang pemimpin jemaat harus dapat menjadi “role model”bagi seluruh jemaat-Nya. Dari kualitas pemimpin jemaat dapat dilihat kualitas  seluruh aktivis dan jemaat yang dilayani. Kalau rapor kehidupan seorang pemimpin jemaat sudah merah, maka hampir dipastikan bahwa nilai rapor kehidupan aktivis dan jemaat-Nya juga pasti merah.

Kalau pelayanan gereja tidak bermuara pada usaha merubah kehidupan normal manusia menjadi normal di mata Tuhan, maka gereja pasti hanyut dalam usaha menyelamatkan kehidupan di dunia ini, yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata. Usaha yang terfokus kepada pemenuhan kebutuhan jasmani akan membuat seseorang tetap tinggal sebagai anak dunia yang miskin, bukan sebagai bangsawan surgawi yang memiliki kelimpahan yang dijanjikan Tuhan Yesus (Yoh. 10:10). Gereja seperti itu akan menawarkan “rumputnya sendiri” yang adalah “rumput dunia yang membinasakan”, bukan rumput Tuhan. Kelimpahan yang diajarkan pasti kelimpahan duniawi, bukan kelimpahan rohani.  Mereka memberitakan Injil yang palsu bukan Injil original Tuhan Yesus Kristus. Mereka menyampaikan kabar baik menurut manusia, bukan kabar baik menurut Tuhan.

Ironisnya, justru gereja yang model ini yang menjadi tren dan laris di “pasar persaingan gereja” hari ini. Di tengah-tengah dunia yang menghadapi krisis hebat dalam berbagai bidang kehidupan, maka promosi kelimpahan duniawi yang akan “laris” di pasaran. Memang pada dasarnya semua manusia berpikir duniawi, fokus hidupnya hanya tertuju kepada pemenuhan kebutuhan jasmani.  Banyak gereja tampil sebagai “penyelamat ekonomi” dengan segala janji-janji kelimpahan materi dan pemenuhan kebutuhan jasmani lainnya. Semua itu dapat dihadirkan dengan menggunakan kuasa Tuhan yang heran dan besar. Oleh sebab itu tema yang selalu ditekankan dalam setiap pertemuan adalah kebaikan dan dan kuasa Tuhan. Mengapa? Sebab mereka mau memanfaatkannya.  Tentu slogan-slogannya antara lain “mukjizat bisa terjadi setiap hari”, “tiada yang mustahil bagi-Nya”, “Dia peduli, imani janji-Nya” dan lain sebagainya. Semua itu hanya mengarah kepada pemenuhan kebutuhan jasmani dan eksploitasi Tuhan serta memanipulasi Tuhan sebagai alat, bukan sebagai Majikan.

Iklim seperti ini akan menampilkan sosok-sosok “mesias ekonomi” dalam gereja yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi jemaat dalam menyelesaikan problem ekonomi. Jadi jangan heran kalau di beberapa gereja terdapat doa-doa agar Tuhan membayar hutang jemaat. Dalam pertemuan jemaat di gereja, jemaat disuruh mengangkat tas dan dompet di atas kepala dan seorang pendeta atau pembicara di mimbar “melepaskan berkat finansial” kepada jemaat. Ini adalah praktik perdukunan yang benar-benar menyesatkan dan merusak kemurnian iman Kristen.

Di banyak pemberitaan Firman Tuhan dalam gereja-gereja dan persekutuan doa sering terdengar khotbah-khotbah, juga syair lagu-lagu yang mengesankan bahwa masalah terbesar hidup yang patut ditakuti adalah pemenuhan kebutuhan jasmani, yaitu makan minum, kesehatan, tempat tinggal, kendaraan, keamanan, karir, studi dan lain sebagainya.Oleh karena hal tersebut,maka jemaat harus berurusan dengan Tuhan yang memiliki kuasa besar untuk mengantisipasinyadan “sosok-sosok mesias ekonomi” tersebut dibutuhkan sebagai mediatornya. Ini merupakan penyesatan yang sangat sistimatis.

Sejatinya, tujuan seluruh kegiatan pelayanan ini adalah: Bagaimana mempertunangkan jemaat dengan Tuhan Yesus sebagai menjadi perawan suci bagi Dia(2Kor. 11:2-3). Bukan mempertunangkan jemaat Tuhan dengan gereja, apalagi dengan dunia. Tidak sedikit gereja dan seluruh kegiatan pelayanan sebenarnya bertendensi kepada penyesatan yang sangat mengerikan, yaitu mempertunangkan jemaat Tuhan dengan dunia.  Tuhan seakan-akan menjadi obyek perhatian, tetapi sebenarnya keterlibatan Tuhan hanya sebagai alat untuk meraih dunia atau mengikatkan jemaat dengan dunia.

Jadi bukan tanpa alasan kalau Paulus berkata: Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebagaimana kita harus meninggalkan ayah dan ibu bersatu dengan pasangan hidup, demikian pula orang percaya harus menanggalkan segala keterikatan (Ibr. 12:1; Mrk. 10:21-22). Ini adalah perjuangan seperti jalan sempit. Perjuangan ini sangat berat, sebab keterikatan dengan mamon adalah ikatan yang nyaris tidak dapat dipatahkan. Tetapi yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan mendahulukan Kerajaan Surga. Hidup ini merupakan petualangan yang hebat kalau diisi dengan pencarian hubungan yang eksklusif dengan Tuhan. Usaha untuk menempatkan diri sebagai mempelai wanita yang setia.

Gereja tidak boleh merasa puas dengan jumlah jemaat yang ada dan tergoda untuk menambah terus jumlah anggota gerejanya tanpa memedulikan apakah jemaat yang sudah hadir benar-benar telah dimenangkan bagi Tuhan atau belum.Dimenangkan bagi Tuhan artinya telah benar-benar tidak menoleh ke belakang. Mereka tidak mencintai dunia lagi. Hidup mereka benar-benar terfokus pada Kerajaan-Nya, sehingga hubungan mereka menjadi intim dengan Tuhan. Inilah tujuan penggembalaan. Standar atau ukuran keintiman yang harus dimiliki umat Perjanjian Baru dengan Tuhan adalah hubungan sepasang kekasih, mempelai atau hubungan suami istri (Ef. 5:31-32). Jadi kalau seseorang merasa sudah menjadikan Tuhan segalanya padahal belum, betapa membahayakan keadaannya. Terdapat perjuangan yang berat untuk menemukan, mengalami dan memiliki secara permanen hubungan ini.  Perjuangannya terletak ketika harus melepaskan segala ikatan dan percintaan terhadap dan siapa pun dan meletakkan Tuhan Yesus sebagai Pribadi yang paling berharga dan tercinta.Ingat bahwa tujuan akhir dari kekristenan seseorang bukanlah menjadi anggota gereja, melainkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Tuhan. Gereja harus menggiring umat kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, bukan pada dirinya sendiri. Sebab, gereja bukan Tuhan.